Home
Puisi
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Getir
Gelisah ini, Kasihku
DI SELA-SELA KUSIMPAN TUHAN BERSEMAYAM
Kekasih Senyap
![]() |
| Dok.net |
Kepada mata yang berkarang:
Kasih, aku sudah berkali-kali menulis puisi
Aku meminta maaf, sebab aku pernah merasa tersesat pada yang lain
Padahal kau mengelus-elus rasaku sedemikian rupa, meski dalam kata-kata
Kasih, purnama melingkar di matamu
Menyoroti aku yang gundah
Kau membawaku kepada damai
Aku ingin bersandar di dadamu
Lalu kau ceritakan kisah Nabi-nabi
Sampai aku lelap
Kecuplah kelopak mataku berkali-kali
Aku minta maaf, aku selancang ini kepadamu
Aku seperti menemukan aku di engkau, kasihku
Bukankah kau sudah meminangku dalam kata-kata
Dalam puisi satu barismu itu
Mengundang ribuan harap kepadaku
"Aku adalah dirimu yang lain"
Seketika aku membacamu berkali-kali
Menafsirmu lebih dalam
Lirik-lirik lagumu itu merasuk ke dalam aku
Kasih, kabari aku lagi lewat puisimu
Atau lewat pertemuan kita yang transenden setiap malam
Pada pertemuan-pertemuan itu kau pernah memelukku erat, menciumiku berkali-kali
Sebagaimana kau menulis itu di berandamu
Tetapi kasih, apakah kita merasakan pertemuan yang sama?
Pertemuan yang terkadang membuat tersenyum manis
Meskipun abstrak tetapi begitu mengesankan
Kasih, maafkan aku selancang ini kepadamu
Aku tidak mau tersesat lagi
Hatiku sudah lebam berkali-kali
Kau selalu membawaku kepada tenang
Kepada cinta yang agung
Aku tidak mau tersesat lagi
Hatiku sudah lebam berkali-kali
Kau selalu membawaku kepada damai
Kepada cinta yang penuh misteri
Bdg, 19.11.18
Mila.
Hening
![]() |
| Dok.net |
Ingatlah, ini adalah pertama kali lagi aku bergelut di dunia cinta, setelah sekian lama aku salah berharap dan bersabar; dan menunggu. Tuhan kasih aku debar kepadamu, malam itu. Tahukah kau, di balik wajah tenangku, darahku berombak-ombak menabrak segala saraf.
Aku tidak bisa apa-apa, berharap terlalu dalam kepadamu itu adalah mustahil. Sedangkan menyingkirkan dirimu di sepanjang waktu terlalu menyiksaku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mencintaimu itu, rumit.
Benarkah untuk suatu waktu kita pernah sama-sama saling memikirkan? Aku terlalu malu menyapa, berkata 'hai' padamu di jalan Suka Miskin. Masih ingat betul sarung tanganmu itu. Lembut. Sesekali aku tersenyum sambil menunduk dan berharap kau tersenyum kepadaku saat itu. Ah, tapi aku ini siapa?
Cintaku teramat hening. Hening sekali. Aku pandai memendam tapi berkoar-koar dalam tulisan. Mungkin aku cukup membingungkanmu, meski sama sekali kau tak menaruh harap padaku. Tidak apa-apa, melihat kau mencintai perempuan anggun itu, aku ikut bahagia. Betapa senangnya, melihat senyum manisnya.
Tapi izinkanlah, aku menulis tentangmu seperti ini dalam waktu lama, sampai suatu saat aku tidak mencintaimu lagi, meski itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Karena setiaku, sesetia aku kepada aku. Tidak apa-apa, sudah biasa aku menjadi perempuan kesepian.
Juni, 2018
Bulan-bulan yang hening
Tersesat (Mungkin)
![]() |
| Dok.net |
Apakah Tuhan terkekeh geli melihatku seperti ini? Bersandar pada harap yang salah, bersabar pada pada rasa yang entah. Sudah cukup lama, lalu terjadi lagi. Terjatuhnya aku pada pundak halusinasi, Tuhan mungkin sedang cekikikan karena aku sudah menganggap semuanya nyata, kemudian mengantongi beribu-ribu kata tunggu, yang pada akhirnya kudapati diriku terluka. Terkulai. Tersedu. Pedih.
Apa maksud Tuhan hatiku disemai debar-debar kalau artinya aku harus menjulur-julurkan lidahku kepada jam dinding? Waktuku banyak tersita karena memikirkan yang bukan milikku. Haruskah aku jatuhkan jantungku di hutan rindu dan menunggu seseorang membawanya padaku kembali? Sekarang untuk melupa saja, aku merasa menjadi perempuan sia-sia.
Kenapalah Tuhan kasih aku situasi seperti ini? Lagi.
Sesungguhnya aku Mila,
Bandung, 21 Mei 2018
Temani Aku Bertamu ke Masa Depan
![]() |
| Dok.net |
Temani aku bertamu ke masa depan. Liar sudah mataku melihat segala sesuatu. Terlebih ingatan tentangmu tidak pernah luruh setiap waktu, malah tambah semakin parah dan menumpuk begitu saja di pelataran otakku yang dungu.
Temani aku bertamu ke masa depan. Mari kita lihat siapa lelaki yang akan mengikrarkan akad sembari memegang erat tangan bapakku. Tahun, bulan, tanggal, hari, dan jam berapakah semua itu dimulai? Catatlah, nanti aku akan membacanya.
Temani aku bertamu ke masa depan. Mari kita lihat kapan aku melahirkan, apakah suamiku ada di sana; atau sedang melakukan dinas di luar kota; dan atau sedang menyelesaikan studinya di luar negeri?
Temani aku bertamu ke masa depan. Mari kita lihat benarkah aku menua bersamanya, menikmati masa tua yang indah sambil menimang-nimang cucu di halaman rumah?
Semoga kita selalu didekatkan Tuhan,
Bandung, 13 Mei 2018
Bandung, 13 Mei 2018
Bercerita Kepada Laut
![]() |
| Dok.net |
Tiba-tiba hatiku bersedih, tidak tahu kenapa. Aku punya firasat tidak enak. Aku mengadu kepada karang yang teguh, membisikkan beberapa patah kata kepada dia tapi, karang itu tetap membisu.
Biarkanlah aku duduki badanmu yang kasar. Izinkan aku bercerita kepada laut, sampai larut malam menjajaki pasar segala cinta. Tubuhku layung, memayungi belulang yang membalut jantung. Jantung yang berdebar kencang setiap ku bertemu, melihat, atau sekedar membaca dan mendengar namanya.
Semoga telinga laut bersedia mendengarkan ceritaku sampai mulutku berbusa. Aku mengayun-ayunkan kakiku ke udara. Bercerita tentang kenapa aku lelap dalam kehampaan, menyendiri tanpa kepastian, selama bertahun-tahun membiarkan tubuhku digerogoti waktu.
Ada beberapa alasan kenapa aku ridha dalam kesendirian. Karena aku ingin mengalami ini satu kali saja dalam hidupku. Lalu, Tuhan mengaminiku. Sehingga selama sendiri, Tuhan selalu menemaniku. Pada saatnya jantungku berdebar, saat itulah kenapa aku memantapkan aku kepada dia.
Sesekali laut mengayunkan ombak dengan lembut, mungkin dirinya sedang mengangguk dan sedikit memahamiku. Angin siang itu menembus lubang-lubang karang dan menghembuskan suara-suara merdu yang seakan-akan mengajakku pada angan-angan surgawi.
Namun, ketika kudapati diriku pasrah dan mengikhlaskan hatiku kepada Tuhan. Aku sering gelisah dan dihantui oleh perasaan-perasaan aneh. Aku tidak mau terluka. Aku tidak mau terluka. Aku tidak mau terluka. Penantian yang sangat panjang ini harus berakhir seperti Adam dan Hawa.
Aku terkekeh, betapa egoisnya diriku ini. Lalu laut pun menggulung-gulungkan air bertubi-tubi, seperti dirinya juga terkekeh mendengarku. Burung-burung bermunculan dari arah barat, menari-nari di bawah terik matahari.
Tapi, doaku tetap. Kepada dia itu, tetap. Aku tidak akan hengkang. Terus kenapa aku selalu diam tatkala bertemu di suatu waktu? Dalam puisiku yang berjudul Jenuh, aku menulis Haruskah aku mengucap 'hai' dan meraba-raba paha lalu ke pundak? Pahamilah aku lewat cerita ini, begitu aku sampaikan kepada laut.
Aku tidak berhenti bercerita dan satu hal yang membuat aku tiba-tiba bersedih adalah bagaimana apabila dia sudah melabuhkan cintanya kepada wanita lain. Begitu. Malam seketika menyerbu, angin laut sangat kencang, ombak seperti marah dan ikut-ikutan bersedih, matahari tenggelam sambil menangis.
Tapi, aku berpikir bahwa tidak ada cinta yang tidak terluka atau apakah caraku mencintai dia terlalu purba? Seketika malam itu, tiba-tiba hening dan semakin gelap. Debur ombak pun semakin melembut. Biarkan aku menyelam di dasar laut hatimu. Biarkan aku tenggelam.
Bandung, 13 Mei 2018
Pagi Jera
![]() |
| Dok.net |
Aku mendengar pagi berkeluh kesah, aku mengatupkan kedua mataku pelan-pelan, sampai akhirnya gelap itu betul-betul gelap. Kepalaku dielus-elus embun, hingga ku merasa pergi jauh ke dasar hatimu yang remuk rengsa.
Kelu lidahku tergulung ombak air liur, hangit. Hanyut dalam tenggorokan yang sempit dan pengap. Aku digiring menuju lambung yang bau busuk. Bau sekali. Mengapa tiba-tiba akalku bisa mengingat setelah bau dari segala bau tercium dalam-dalam?
Pagi jera, waktu di mana segala sesuatu teringat kembali. Ketika akal mengingat, hati melupa. Ketika hati mengingat, mata terluka. Ketika mata mengingat, tangan menyeka. Ketika tangan mengingat, kaki menendang. Ketika kaki mengingat, bibir menggunjing. Seterusnya seperti itu. Selalu ada penolakan dalam mengingat.
Aku terpaksa bergumul dengan pagi yang juga memiliki rasa sepertiku. Pagi bisa menyelimutiku, namun aku tidak bisa menyelimutimu dengan pagi. Karena biarlah aku yang tertular wabah pagi dan kamu jangan. Pada akhirnya, biarkan aku melihat matahari terbit di kedua bola matamu, tanpa ku lihat pagi bergulat dengan hatimu yang remuk rengsa.
Bandung, 13 Mei 2018
Kau
![]() |
| Dok.net |
Setelah usai segala tumpah ruah kehidupan malam tadi. Rasanya, kau tak pernah hilang barang satu detik pun. Melihat orang-orang bernyanyi, tertawa-tawa, berjingkrak-jingkrak, teriak-teriak, yang aku ingat adalah kau. Baru kali ini, aku merasakan resah pada satu lelaki.
Bangun tidur, Mei 2018
MAJEDUB
![]() |
| Dok.net |
Kalaulah tubuhku tebing, bagian mana yang akan kau panjat 'tuk sampai ke Tuhan? Jika kau lelah mengembara di tubuhku, bolehlah kau tertidur di salah satu dari tujuh goaku, di sana kau akan sampai pada muara di mana Tuhan menciptakanku untuk bercinta denganmu.
Tuhan ada di dalam aku tapi, Jibril tak bisa menggoda Tuhan untuk menyimpan aku di dalam tubuh-Nya. Seperti api yang tak bisa membasuh air tapi, api bisa membasuh dosa dan seperti air yang tak bisa membasuh angin tapi, air bisa membasuh dosa. Begitu pula seperti angin yang bisa membuat api lebih berkobar dan membuat air terus melaju menuju muara.
Aku akan membawa dirimu ke dalam mahwu lalu lenyap dalam mahah, dan terjadilah hulul yang sungguh-sungguh menjadi cita di relung gita puja-puji manusia macam kita. Berbaurlah kita dengan Tuhan, karena aku yakin ketika aku menduakan Tuhan, Tuhan tidak akan cemburu, karena keridhaan Tuhan, kita sampai di puncak mahabah.
Bersandar di antara rak buku, membayangkanmu, April 2018
Embun
Yang bersua setelah bangun dari tidur adalah embun. Dia berdiam diri di seluruh lapisan kulit bumi, menyirami pori-pori pohon dengan lembut dan dingin. Tubuhmu masih terkulai di kasur, melihat langit-langit dan membayangkan dua perempuan. Siapalah itu, aku tidak tahu.
Fasih bibirmu menyebut nama-Nya, di sela-sela harap yang mulai merembes pada keentahan. Berselimutkan fajar dan kesintingan, perlahan-lahan kau menyunyi. Membiarkan ini melaju sebagaimana air mengalir. Meski kau menampik dan bersikap acuh, diam-diam kau meresapi. Seperti kopi, yang mula-mula pahit tapi, candu.
Ziarahi kau. Aku menziarahi hati kau setiap saat, seperti embun yang menziarahi bumi setiap pagi. Namun lagi-lagi aku juga terkulai lemah di kasur, berselimutkan fajar dan kesintingan, menatap langit-langit kamar sambil mendekap erat sebuah nama yang belum kutahu akhirnya seperti apa. Akankah seperti embun yang menyejukkan setiap pagi dan hilang di siang hari?
Malas bangun, April 2018
Buat seseorang.
Buat seseorang.
Aku: Tidak Menawan, Tidak Rupawan
![]() |
| Dok. Pribadi (Foto ini diambil ketika bersandar di bawah jendela perpustakaan Ajip Rosidi, saat matahari sedang terik-teriknya) |
Setelah kiranya aku berjalan menanjak, menelusuri jalanan rapuh dan terjal.
Hidup menjadi tidak tentu. Akulah segala muara kebodohan. Tidak ada sesuatu yang bisa kujajaki bunga-bunga segar di perkebunan bunga melati pun tak bisa kurapikan daun-daun di tubuh pohon oak untuk menutupi celah-celah cahaya matahari siang itu.
Hari menjadi tidak tentu. Akulah segala muara keresahan. Perempuan dekil yang merapuh di waktu-waktu menunggu. Tidak ada satu waktu pun yang bisa kuhentikan, untuk menghentikan langkah dia ketika dia berjalan melewatiku. Jika bisa, aku ingin melihat dia dari dekat, kulihat dia lekat-lekat, tanpa dia tahu bahwa waktu telah kuhentikan.
Aku ingin menjelma segala, ketika rasaku meletup-letup, biarkan aku menjelma udara, biar akulah yang mengelilingi dia di mana dia berada, kemana pun dia pergi. Meski tak terlihat, barangkali akulah yang merangkul dia dengan lembut dan tanpa suara yang mengganggu telinga dia.
Tapi, aku hanya perempuan dekil, yang hanya bisa melihat dari jauh, sekilas pun, meski itu punggungnya atau kerah bajunya yang aku lihat, aku cukup bahagia.
Aku memang tidak punya perkebunan bunga melati untuk membuat harum tubuhku, untuk menjadikan aku perempuan indah dan aku juga tidak bisa seperti pohon oak yang mampu membuat orang-orang menjadi teduh ketika melihatku.
Tapi, aku hanya perempuan dekil yang memiliki muara kebodohan dan keresahan. Tidak ada yang bisa terkagum-kagum atas kebodohan seseorang dan tidak ada pula yang meniru resah-resah yang aku rasakan. Aku bukan perempuan yang menawan dan rupawan.
Atas segala kerendahan ini, aku hanya bisa seperti Hawa yang bersabar menanti pertemuan dengan Adam di Jabal Rahmah. Aku hanya bisa seperti Ratu Balqis yang berkata "Aku pasrahkan diriku bersama Sulaiman kepada Allah Tuhan semesta alam." Aku hanya bisa seperti Zulaikha yang mengejar cinta Yusuf dengan mendekati Allah yang Esa. Aku hanya bisa seperti Fathimah yang diam-diam mencintai Ali, dan dipertemukan Allah di pernikahan yang suci dan agung.
Atau jika segalanya belum terbalas, biarkan aku seperti Rabiah Al-Adawiyah yang terus-menerus mencintai Allah di segala denyut nadi dan hembusan napasnya. Aku memang tidak seharum dan seindah melati; aku memang tidak sesejuk dan seteduh pohon oak.
Bandung, April 2018
PRIBUMI
![]() |
| dok.net |
Aku sudah pernah bilang ke bapak
Mau 'nyusu' ke ibu Pertiwi
Tapi gak ada jawaban
Padahal aku mau bilang ke si ibu
Apakah semua pejabat itu pribumi?
Apakah si ibu juga pribumi?
Media mengkonstruksi isu
Manusia-manusia melahap bulat-bulat
Tanpa menggali informasi dalam-dalam
Padahal banyak banget
Berita-berita dengan headline pribumi
Si dia juga pernah bilang gitu
Tapi ya gitulah....
Manusia-manusia masih terluka
Saling hujat dan saling lapor
Ini bukan masalah 'ngondek'
Aku bilang
Kalau ini perkara serius
Manusia-manusia kesakitan itu makin ganas
Siapa pribumi itu?
Adam? Hawa? Aku? Kamu? Pejabat?
Atau manusia-manusia rempong?
Bandung, Oktober 2017
-Pribumi dari hati yang sepi.
Jadi ikutan nimbrung masalah pribumi hahahaha.
KEPADA GARIS MATI
Sudah berbulan-bulan lalu aku menggeleng-gelengkan kepala ke jam dinding, aku adalah suara detik yang akan sesegera mungkin meledak pada tempo di mana segala sabar menyerah pada tuannya. Aku menunggu kakiku tumbuh roda untuk bisa secepat kilat sampai pada tujuan.
Sempat aku berleha-leha sedang mereka meletup-letup dan menyeret yang lain pada garis mati dengan umpatan yang mengadaptasi dari iblis sampai kepada sel-sel darah Jahanam namun 'si yang lain itu' dungu! Aku telah menganjing-anjing segala apa yang telah aku lakukan, yaitu menunggu. Sampai aku rela kepalaku sendiri kujadikan jarum jam dan menimbulkan suara detik. Tik tok tik tok... Begitu seterusnya.
Kini saatnya, ketika program itu menari-nari dijidatku aku berasa diburu-buru, aku lari terbirit-birit, kemudian terhenti karena mereka masih diskusi tentang ideologi. Lalu 'yang lain' memintal aku dengan gemas, 'ini kapan meledak?' sambil tersipu malu karena dia mengerti lelahku, 'belum saatnya' kataku, kemudian yang lain itu bersedih sambil gemas dan kesal.
Bagaimana dengan aku? Garis Mati terus membombardir segala resah, sedang waktu belum sanggup berpamitan dengan caraku. Tangan dan mataku sudah renta, sedang segala cara telah lapuk dari kata target, dan aku di sini diminta segera meledak. Padahal mereka belum sama sekali siap dengan segala keadaan. Mau tidak mau, saat ini mereka sedang mempelajari diriku sendiri, melalui kepalaku.
2017
UIN DAN HUJAN
![]() |
| dok.net |
Sehabis makan cuanki di Koin
_______________________
Air mengalirkan sabda
Tapi manusia malah neduh di bawah plastik
Romantisme langit dan tanah gemuruh
Saling melebur dalam penantian rembulan
Matari sembuh dalam demamnya
Mempersilakan ku duduk di kursi senja
Aku menyaksikan langit dan tanah
Saling mengantongi awan
Menabung tuk pertemuannya esok hari,
Sedang manusia sibuk hilir mudik
Berkeringat mengantongi takdir
Menabung tuk beradu gengsi di wisuda nanti
Sedang rerumputan tunduk dan rikuh
Menyaksikan langit dan tanah bercumbu lewat hujan
Menyaksikan manusia sibuk tanpa ingat Tuhan
Dan seketika aku peluk Matari, lalu terbakar dalam rikuh
Desember, 2017
MENYUNYI
![]() |
| dok.net |
Bibirku menyunyi
Mendengarkan orang-orang
Berbicara tentang iman
Tentang segala sesuatu
Yang mengembik di bibirnya
Mataku menyunyi
Meresapi lagu-lagu Tuhan
Di rumah-rumah ibadah
Desahan orang-orang di pengeras suara itu
Teguh dalam penghayatan
Telingaku menyunyi
Melihat orang-orang berbondong
Memikul agama
Memangku iman
Lalu saling lempar opini di dermaga api
Aku menyunyi di balik panggung segala alergi
Bilik kiri bilang tahi atas nama Tuhan
Bilik kanan bilang babi atas keabsahan dalil
Bilik-bilik yang lain saling hardik atas nama Nabi
Aku menyunyi....
Aku mencuci
Aku menyunyi
Aku mandi
Aku menyunyi, lalu mencuci, kemudian mandi
Pakai air Tuhan....
Desember, 2017
JAUH
![]() |
| dok.net |
Di lorong langit-langit, aku berbisik kepada kayu, "bolehkah kubaringkan secuil harap?" Karena ternyata orang-orang begitu renyah bersuara tentang sesuatu yang belum tentu akan terjadi di suatu masa. Orang-orang itu pongah, berbicara dengan lantang ke telingaku.
Setelah kudengar suara itu, aku menengok langit yang sudah tak biru lagi. "Akankah Kau bawa aku ke suatu negeri yang jauh dari suara-suara bising seperti ini?" Kuucap begitu kepada dia, malam.
Semua kata-kata telah rontok dan jatuh bagaikan rintik hujan. Tergenang di daun telingaku. Masih kuingat segala kata yang terjun dari mulutnya, karena itu aku mengalungkan doa kepada Dia, "semoga aku dikasih waktu buat pergi jauh dan pulang membawa besok."
Aku tidak bisa bilang kalau nanti akan menjadi apa. Tidak bisa. Karena aku tidak punya sesiapa pun kecuali Dia. Aku ingin pergi jauh biar bisa dekat dengan Dia. Biar tak kulihat segala gemilang baju yang kemilau, biar tak kudengar segala kata yang menyudutkan diriku dari berbagai kicau. Biarkan diam tapi, Dia mendengarku. Begitu.
Februari, 2018
JUNTAI
![]() |
| dok.net |
Semua terasa menyengat, panas dan gersang. Aku menyudut di salah satu dinding yang begitu panjang. Beberapa hari sebelumnya, seseorang marah kepadaku, karena aku acuh. Dan karena aku malas. Entah, mungkin saja semua spesies setan berkerumun di tubuhku. Sehingga begitu berat aku melangkah atau sekedar mengangguk berkata iya kepada si dia.
Pusing sekali aku ini, beberapa orang yang lahir di bulan September telah pulang dengan tenang. Sedangkan aku belum kelar segala urusan. Cipratan mentari di siang itu membuat aku berpikir semakin rumit. Rasanya, aku ingin sekali bertamasya ke dada Nabi, aku ingin membangun sebuah maestro di tubuhku sendiri atas segala keteguhan Nabi di dalam tubuhnya.
Tapi, tak ada guna. Aku tetaplah aku yang sepi dan terus-menerus menuduh diriku sendiri sebagai orang salah, mungkin saja di langit namaku bukan nama yang ditetapkan orangtua sejak aku lahir. Atau mungkin saja, aku adalah seorang yang pernah hidup di masa lalu, sehingga untuk menjalani hari ini aku harus menghabiskan banyak waktu untuk berdialog dengan cangkir. Atau bahkan rohku tertukar dengan makhluk halus yang idiot. Ih amit-amit! Jangan sampai.
Kembali ke siang itu. Aku dan bayanganku saling sapa di lantai. Jeans robekku terkulai ke dasar sampai bersentuhan dengan bayangan. Ku lihat si dia duduk sambil merokok, punggungnya sangat kurus. Ah tak usah kuceritakan. Hari itu, aku sangat resah, akankah aku mendapat sesuatu yang baik setelah ini? Apakah semua orang bilang aku sangat acuh dan sangat sulit untuk membaur dengan orang lain? Benarkah itu? Bayanganku tidak menjawab apa-apa. Pada akhirnya, aku tersenyum sendiri.
Seusai itu, aku berpamitan pada segala keadaan.
Bandung, 7 Februari 2018
OSTEOPOROSIS
![]() |
| Dok.Net |
Adakah kegemaran yang lain selain berdendang bersama halimbubu? Menendang-nendang udara kepada takdir yang sedang meresapi kesalahan-kesalahan tangannya. Kemarin, dewa sedang mencoret-coret langit. Tangannya lebam. Karena kelelahan meninju-ninju awan kelam.
Tubuhnya layung, tulang-tulangnya terlihat. Di sana dirinya seperti daun jati yang tulang daunnya patah berkali-kali, layu. Hatinya remuk rengsa, meladeni halimun-halimun yang terkatup. Dirinya tetap saja berdiri menyisir rambut-rambut halus di tubuh yang hilang pintang.
Padahal di sini diriku mencintainya, melihat dia memunggungiku. Tapi masalah hati mengapa serumit ini? Yang satu mencari yang hilang, yang lain menanti yang kelelahan.
Kini aku seperti daun perdu yang tulang belulangnya rapuh di makan waktu.
2016
Langganan:
Postingan
(
Atom
)



















