Getir
Gelisah ini, Kasihku
DI SELA-SELA KUSIMPAN TUHAN BERSEMAYAM
Kekasih Senyap
![]() |
| Dok.net |
Kepada mata yang berkarang:
Kasih, aku sudah berkali-kali menulis puisi
Aku meminta maaf, sebab aku pernah merasa tersesat pada yang lain
Padahal kau mengelus-elus rasaku sedemikian rupa, meski dalam kata-kata
Kasih, purnama melingkar di matamu
Menyoroti aku yang gundah
Kau membawaku kepada damai
Aku ingin bersandar di dadamu
Lalu kau ceritakan kisah Nabi-nabi
Sampai aku lelap
Kecuplah kelopak mataku berkali-kali
Aku minta maaf, aku selancang ini kepadamu
Aku seperti menemukan aku di engkau, kasihku
Bukankah kau sudah meminangku dalam kata-kata
Dalam puisi satu barismu itu
Mengundang ribuan harap kepadaku
"Aku adalah dirimu yang lain"
Seketika aku membacamu berkali-kali
Menafsirmu lebih dalam
Lirik-lirik lagumu itu merasuk ke dalam aku
Kasih, kabari aku lagi lewat puisimu
Atau lewat pertemuan kita yang transenden setiap malam
Pada pertemuan-pertemuan itu kau pernah memelukku erat, menciumiku berkali-kali
Sebagaimana kau menulis itu di berandamu
Tetapi kasih, apakah kita merasakan pertemuan yang sama?
Pertemuan yang terkadang membuat tersenyum manis
Meskipun abstrak tetapi begitu mengesankan
Kasih, maafkan aku selancang ini kepadamu
Aku tidak mau tersesat lagi
Hatiku sudah lebam berkali-kali
Kau selalu membawaku kepada tenang
Kepada cinta yang agung
Aku tidak mau tersesat lagi
Hatiku sudah lebam berkali-kali
Kau selalu membawaku kepada damai
Kepada cinta yang penuh misteri
Bdg, 19.11.18
Mila.
Hening
![]() |
| Dok.net |
Ingatlah, ini adalah pertama kali lagi aku bergelut di dunia cinta, setelah sekian lama aku salah berharap dan bersabar; dan menunggu. Tuhan kasih aku debar kepadamu, malam itu. Tahukah kau, di balik wajah tenangku, darahku berombak-ombak menabrak segala saraf.
Aku tidak bisa apa-apa, berharap terlalu dalam kepadamu itu adalah mustahil. Sedangkan menyingkirkan dirimu di sepanjang waktu terlalu menyiksaku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mencintaimu itu, rumit.
Benarkah untuk suatu waktu kita pernah sama-sama saling memikirkan? Aku terlalu malu menyapa, berkata 'hai' padamu di jalan Suka Miskin. Masih ingat betul sarung tanganmu itu. Lembut. Sesekali aku tersenyum sambil menunduk dan berharap kau tersenyum kepadaku saat itu. Ah, tapi aku ini siapa?
Cintaku teramat hening. Hening sekali. Aku pandai memendam tapi berkoar-koar dalam tulisan. Mungkin aku cukup membingungkanmu, meski sama sekali kau tak menaruh harap padaku. Tidak apa-apa, melihat kau mencintai perempuan anggun itu, aku ikut bahagia. Betapa senangnya, melihat senyum manisnya.
Tapi izinkanlah, aku menulis tentangmu seperti ini dalam waktu lama, sampai suatu saat aku tidak mencintaimu lagi, meski itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Karena setiaku, sesetia aku kepada aku. Tidak apa-apa, sudah biasa aku menjadi perempuan kesepian.
Juni, 2018
Bulan-bulan yang hening
Tersesat (Mungkin)
![]() |
| Dok.net |
Apakah Tuhan terkekeh geli melihatku seperti ini? Bersandar pada harap yang salah, bersabar pada pada rasa yang entah. Sudah cukup lama, lalu terjadi lagi. Terjatuhnya aku pada pundak halusinasi, Tuhan mungkin sedang cekikikan karena aku sudah menganggap semuanya nyata, kemudian mengantongi beribu-ribu kata tunggu, yang pada akhirnya kudapati diriku terluka. Terkulai. Tersedu. Pedih.
Apa maksud Tuhan hatiku disemai debar-debar kalau artinya aku harus menjulur-julurkan lidahku kepada jam dinding? Waktuku banyak tersita karena memikirkan yang bukan milikku. Haruskah aku jatuhkan jantungku di hutan rindu dan menunggu seseorang membawanya padaku kembali? Sekarang untuk melupa saja, aku merasa menjadi perempuan sia-sia.
Kenapalah Tuhan kasih aku situasi seperti ini? Lagi.
Sesungguhnya aku Mila,
Bandung, 21 Mei 2018
Temani Aku Bertamu ke Masa Depan
![]() |
| Dok.net |
Temani aku bertamu ke masa depan. Liar sudah mataku melihat segala sesuatu. Terlebih ingatan tentangmu tidak pernah luruh setiap waktu, malah tambah semakin parah dan menumpuk begitu saja di pelataran otakku yang dungu.
Temani aku bertamu ke masa depan. Mari kita lihat siapa lelaki yang akan mengikrarkan akad sembari memegang erat tangan bapakku. Tahun, bulan, tanggal, hari, dan jam berapakah semua itu dimulai? Catatlah, nanti aku akan membacanya.
Temani aku bertamu ke masa depan. Mari kita lihat kapan aku melahirkan, apakah suamiku ada di sana; atau sedang melakukan dinas di luar kota; dan atau sedang menyelesaikan studinya di luar negeri?
Temani aku bertamu ke masa depan. Mari kita lihat benarkah aku menua bersamanya, menikmati masa tua yang indah sambil menimang-nimang cucu di halaman rumah?
Semoga kita selalu didekatkan Tuhan,
Bandung, 13 Mei 2018
Bandung, 13 Mei 2018
Langganan:
Komentar
(
Atom
)






