Puisi Lelaki Penuh Luka

Ilustrasi: dok.net

RESIKO PENANTI

Oleh: Muhammad Imaduddin

Tulang rusukku patah empat kali, 
Besok mungkin yang ke lima. 
Setiap kuberkata hai,
Tulang rusukku menekuk ke dalam, 
Terkadang patah keluar,
Merobek kulit dan dagingku. 

Namun di sana ada satu rusuk yang tersisa, 
Rusuk yang paling kecil, yang mentupi jantung. 
Awalnya kumengira dialah rusukku satu-satunya, 
Hingga kemudian dia merobek punggungku, 
Meninggalkan jeroanku. Kosong.

Bandung, 2016

_____________

Kiranya ada dua orang lelaki yang tiba-tiba saja curhat, awalnya memang menanyakan tugas, tapi jadi keceplosan. Yang pertama adalah Om Rifki dan selanjutnya adalah Imad. Dari sana kita sedikit nyastra, saling berbalas diksi yang menyuarakan isi hati. Tentang bagaimana Adam menunggu Hawa untuk dipertemukan di suatu tempat. Tentang bagaimana Majnun dengan setianya menanti Laila,

Lalu bagaimana seekor gorila bermimpi menggapai bulan, padahal ia tak memiliki sayap. Seorang pria yang bermimpi melahirkan, padahal tak memiliki rahim. Seorang setan yang  bermimpi masuk surga, padahal ia setan. Sebuah pedang yang bermimpi bisa mengucap trimakasih kpd tuannya, padahal ia hanya seonggok besi. (om)

Engkau telah mendikte diri engkau sendiri sebagai gorila, pemimpi, setan, dan lain sebagainya tanpa berpikir bahwa engkau adalah seorang Adam yang tulang rusuknya telah menciptakan sebuah tubuh perempuan, Hawa. Sejauh mana pun Tuhan memisahkan Adam dan Hawa, Dia tetap mempertemukan. Di sana, ada ikhtia dari keduanya untuk saling mencari, saling meminta kepada Tuhan, tidak akan secara tiba-tiba. Jadilah berpikir bahwa engkau adalah lelaki yang telah menyediakan sebuah lembah yang penuh cinta. (aku)

Lalu tiba-tiba saja Imad datang dengan puisi Resiko Penantinya, aku tercengang. Seorang Imad yang sangat lucu bisa-bisanya liar seperti ini. Gila!

Ketika di kelas, aku berbincang lagi dengan teman-temanku itu. Aku bilang kepada Imad, Kamu masih kecil udah banyak banget mantannya, Aku bilang Imad masih kecil, kenapa? Karena Imad anak '97 yang udah semester lima. Jadi dia adek aku, hahaha.

"Sebenarnya banyak Mil, tapi aku hitung tulang rusuk gak sebanyak itu, jadi ya ini mah  yang dianggap aja,"

Aku pun tertawa dan kebingungan, pake pelet apa dia?

Bandung, 2016

2 komentar

My Instagram