Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: dok.net |
KEDALAMAN ANGIN
Pada jam dua pagi
Menjulurlah leherku keluar jendela
Kukenang, semua dingin
Dari rasa subuh dan baunya
Bau-bau bambu, bau tembakau muazin
Sentuhan angin yang sebentar
Ke tengkuk kemudian pipiku
Rasanya pernah, seusai subuh
Arus sungai juga halaman rumahku
Disingkap cahaya, seperti diusapnya aku
Oleh kelembutan embun kemudian jatuh
Di perasaanku
Di jam-jam itu, lamunanku berbentuk pancuran
Menuruni sela-sela daging punggungku
Menggelembung menjadi puluhan kuda, meronta
Menggusur ke siapa yang nyata
Di antara aku dan yang di luar jendela
***
KEPADA TETESAN GERIMIS SALSABILA
Melafalkan anggun namamu
Salsa, lebih mirip tarian
Di antara riuh sebuah pesta
Sapuan simbal dan lengking biduan
Tentu, lebih anggun dari tatapan Monalisa
Saat matamu lekat-lekat
Memandang rintik hujan
Di Sabtu sore
Hujan kemudian mereda
Hujan yang telah mengingatkanmu
Pada pelukan seorang ibu
Maka diam-diam gerimis muncul
Bergelayut di kantung matamu
Barangkali sebelum tersedu-sedu
Sebelum kata-kata menjadi tangisan
Kau melengos ke luar pintu
Seketika angin mengulur
Ujung kerudungmu
Kamu dan kerudung merah ros
Berayun-ayun terulur angin
Adalah kamu yang dikagumi
Setiap degup jantung laki-laki
Adalah kamu yang kesepian dan tidak satu lelaki pun mengerti
Bahwa bukan pangeran tampan dengan banyak cinta di tangannya
Yang kamu mau, yang sampai menjatuhkan kepalamu di dadanya
Barangkali sebelum tersedu-sedu
Sebelum kata-kata menjadi tangisan
Di Sabtu sore itu
Sesungguhnya anginlah yang benar-benar ingin
Menarik gerimis dan membawanya ke angkasa
Jauh, menjauh dari mata kesepianmu
***
SUATU MAGRIB
Kamia, dicari-cari ke dalam hutan
Ke kedalaman perdu dan misteri pohon aren
Kami ingat, pipinya yang nyoy dan giginya rapi berbaris
Kecil-kecil dan manis, seperti es batu dalam porselen dan beradu
Ibunya jeding, namun payudaranya subur
Memamerkan putingnya yang cokelat keliling lembur
Anak-anak bersorak, ibu-ibu berteriak, pemuda-pemuda merekam
“Siapa yang mau, cari anakku!” sambil membuka pahanya dan ditangkap para bapak
Kamia digendong jin
Ke kedalaman perdu dan misteri pohon aren
Ibunya kemudian mati di sungai Leuwi Akeup
Baru setelah 15 tahun kemudian di suatu magrib
Kamia datang sebagai kuda putih berlari melewati rumah-rumah kami
Kami ingat, pipinya yang nyoy dan giginya rapi berbaris
Galah Denawa
______________________________________
___________________________
__________
____
_
Tiga puisi ini merupakan suatu estetika dalam pemilihan diksi, betapa jiwa seni menadi di setiap noktah si penyair. Secara keseluruhan, membaca tiga puisi karangannya membutuhkan otak yang waras dan cerdas. Sehingga, mampu menangkap pesan yang tersurat, sekaligus tersirat. Pengulangan membaca mungkin sangat diperlukan bagi setiap orang yang jiwa sastranya belum setara dengan pengarang. Puisi-puisi ini perlu pengkajian mendalam, tidak hanya melibatkan akal, melainkan hati perlu diprioritaskan.
Pada puisi pertama yang berjudul Kedalaman Angin, penulis menyertakan keterangan waktu di jam dua pagi, seolah-olah keberadaannya di waktu itu berasa di benak pembaca. Keheningan di jam dua pagi mampu membuai kenangan yang bermunculan, kenangan tentang apa pun itu. Jam dua pagi merupakan suatu kenikmatan yang indah bagi siapa pun yang masih terjaga jiwanya dan masih menyatu ruhnya. Dalam kenanganan itu Galah mengembara pada indrawinya, Galah menciptakan gurat-gurat aksara yang menyertakan keestetikaan.
Puisi ini menggambarkan sesuatu yang terjadi dalam durasi sepanjang jam dua pagi hingga seusai subuh. Mungkin berada di jam-jam itu akan sangat berasa bagaimana bebauan di sekitar, hingga bau tembakau sang muazin. Pemilihan diksi yang spekta, dunia imaji Galah hidup di bait pertama, kemudian di bait kedua dan ketiga.
Di jam-jam itu, lamunanku berbentuk pancuran Menuruni sela-sela daging punggungku Menggelembung menjadi puluhan kuda, meronta Menggusur ke siapa yang nyata Di antara aku dan yang di luar jendela (penggalan bait ketiga)
Di bait ketiga, setelah beranjak dari kenangan, lamunan menjadi acuan. Tentang kehidupan yang dijalani dalam sisi rasionalitas, begitu pun sebaliknya. Seolah ada dua dimensi dalam tubuh itu, mungkin aku menafsirkan sisi nyata dan tidak nyata atau energi positif dan negatif. Salah satu dari kepribadian itu seakan-akan ingin muncul, menurutku ada sisi kepribadian Galah yang harus diladeni dengan kepribadian yang lainnya. Karena kondisi Galah yang berada di durasi tersebut merupakan waktu luang untuk tafakur dan muhasabah.
Puisi Kedua, Galah menggunakan analogi-analogi yang menunjuk Salsabila kepada sebuah tarian di antara riuhnya sebuah pesta. Seandainya Galah seorang fotografer, Galah memfokuskan Salsabila sebagai peran utama, dan memblurkan keadaan yang lain. Setelah memfokuskan dan membidik, lalu Galah menafsirkan bahwa Salsabila lebih anggun dari tatapan Monalisa. Entah, Monalisa yang seperti apa yang Galah bayangkan. Puisi yang menyertakan hujan, merupakan puisi yang memiliki suatu makna kerisauan, keresahan, kesakitan, kenangan, dan sebagainya, apalagi ditambahkan Sore di dalamnya.
Penggalan puisi ini, menggambarkan seorang perempuan yang entah menyengaja sendiri karena prinsip atau memang si Salsabila itu memilih sendiri untuk penantian cinta yang entah. Hingga sosok perempuan berkerudung merah ini dalam segenap harapannya selalu merujuk pada keimanan, bahwa Tuhan akan mempertemukan tubuh dan tulang rusuk. Di sini Galah mampu menjadi penerjemah hati seorang perempuan, mungkin karena kepribadian Salasbilalah yang mampu mendebarkan degup jantung, sehingga Galah berhasil meluapkan perasaan Salsabila dengan pemilihan bahasa yang baik.
Puisi ketiga, memiliki unsur mistis yang kuat, mungkin berangkat dari suatu mitos di suatu maghrib yang tak asing di telinga, khususnya insan yang dihidup di tatar Sunda. Kamia digendong jin. Sedangkan ibunya mencari-cari, hingga sang ibu rela menawarkan sesuatu, agar birahi mereka terpancing. Nilai moral dalam puisi mitologi ini adalah disertakannya seorang ibu yang menginginkan anaknya kembali. Mungkin bagi sebagian orang di bait ketiga ini merupakan suatu yang tabu, tapi menurutku merupakan suatu yang sakral, betapa sucinya cinta dan kasih sayang yang dimiliki seorang ibu. Mungkin ini yang terjadi jika aku menafsirkan sebelum adanya bait ketiga. Karena kondisi fisik sang ibu, usaha dia didengarkan adalah dengan cara yang demikian.
Lantas, dibait ketiga, sang ibu meninggal di sungai Leuwi Akeup, yang mungkin tempatnya tak jauh dari tempat Kamia disembunyikan. Arwah sang ibu mungkin datang kepada anaknya, dan menceritakan segala hal yang terjadi selama ini. Baru setelah 15 tahun kemudian di suatu magrib. Kamia datang sebagai kuda putih berlari melewati rumah-rumah kami. Menurutku Kamia memberikan perlindungan di kampung tersebut, sebagai balas budi yang mereka lakukan kepada ibunya untuk mencari Kamia.
Tentang kepenulisan ketiga puisi ini, Galah sendirilah yang lebih mengetahui dan paham akan diksi yang dirangkai dengan baik. Selebihnya, aku masih kurang paham. Puisinya mantap!
_________________
Mila N. Azizah
Terimakasih Galah Denawa sudah menjadi guruku dalam berpuisi, selamat atas kekasih barunya, cepat menikah, tapi wisuda dulu deh!
Kritik Sastra
Ngobrol Puisi
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar