Ternyata Bojeg Berpuisi

Ilustrasi: dok.net


Tadi pagi, aku baru cek Line grup kelas, Dan ternyata Kafin ngasih tahu bahwa bimbingan tilawah jam 08.00 di fakultas Dakwah dan Komunikasi lantai tiga. Dan, itu aku baru tahu. Bayangkan saja, aku dari Cicalengka jam 07.30, belum nunggu, belum macet, belum jalan dari gerbang menuju fakultas lumayan jauh.

Jadi kalau kalian kuliah di UIN SGD Bandung, pasti ngerasain bimbingan/praktik ibadah dan tilawah. Pokoknya kuliah di UIN itu sungguh menyejukkan hati. (ak ak ak)

-skip ah gak penting-

Oke, jadi aku sampai di kampus jam 08.30, nah sesampainya di fakultas, aku istirahat dulu di lantai satu, karena capek. Dan setelah beberapa menit duduk, datanglah Bojeg yang rambutnya panjang (hampir sepunggung) dan ikal, berjalan menggendong tas gunung warna biru. Lalu aku bersama Bojeg berjalan menuju lantai tiga.

Di sana baru dikitan, yang ngasih tahu rupanya belum datang. Kebetulan di sana ada pak Cecep Burdansyah, pemimpin redaksi surat kabar Tribun Jabar sekaligus dosen Jurnalistik Sunda. Pada akhirnya kita sedikit berkongko tentang banyak hal. Tapi singkat, karena kelas tetangga jam kuliahnya akan dimulai.

Lantas, aku beranjak pindah ke kursi yang diduduki dosenku tadi, sambil berucap,
"Aku duduk di sini ah, biar jadi pemimpin redaksi,"

"Aamiin Mil, aamiin,"

Setidaknya Bojeg menganminiku saat itu, dan aku sambil tertawa-tawa kecil.

Beberapa saat kemudian, Bojeg memperlihatkan dua puisinya yang begitu nikmat. Yaitu Hitam dan Kepuasan dan Kebahagiaan, sebagai berikut:


HITAM

Hijau sawahku, sejuk udaraku, tentram kawasanku 
Semuanya hanya masa lalu
Kini semunya telah berubah
Hitam sawahku, udaranya tak lagi sejuk dan tak ada lagi yang namanya ketentraman.

Sungai biru jernih kini telah berubah menjadi hitam laksana tinta
Masih mending tinta tak beracun
Namun berbeda dengan limbah tekstil
Sudah hitam bau dan juga beracun

Kini hitam telah mendarah daging bahkan telah bersatu dengan jiwa ini
Aku tau air sungai ini hitam tapi aku tak takut untuk bermain didalamnya
Karena, dimana lagi kami bermain tak ada satupun lahan bermain yang pantas
Aku benci mendengar suara mesin yang setiap harinya memuntahkan racun hitam
Tapi selalu saja tangan ini menekan tombol switch on pada mesin tersebut
Dimana lagi kami mencari kehidupan jika bukan bersama mesin tersebut

Sawah kami sudah hitam tak layak untuk di tumbuhi padi
Kolam kami hitam dan tak ada satu ikanpun yang mampu bertahan didalamnya
Inilah negeriku penuh dengan warna hitam ...

***

KEPUASAN DAN KEBAHAGIAAN

Kebahagiaan setiap orang memang berbeda
Apakah kebahagiaan tercipta?
Apakah kebahagian dicari?
Apakah kebahagiaan dinanti?
Itulah yang selalu terngiang dibenak ini

Bahkan mencakar hingga menyisakan bekas
Memang manusia memiliki hati dan pikiran,
Hati digunakan untuk merasakan kepuasan 
Pikiran berjalan demi mencapai kepuasan

Apakah dengan terciptanya kepuasan menandakan seseorang telah bahagia
Entah kebahagiaan apa yang kucari ini
Sebagian orang beranggapan bahwa uang sebagai salah satu faktor kebahagiaan
Mana buktinya?! Banyak koruptor yang mengantongi bahkan menimbunnya! 

Tapi tak terukir kebahgiaan di wajahnya
Banyak anak konglomerat yang kesehariaanya menghabiskan uang 
Tapi hanya sesaat ia merasakan kebahagiaan bahkan tak pantas disebut kebahagiaan 
Karena itu hanya kepuasan sesaat...

Bandung, 2016
Mohammad Aziz Pratomo (Bojeg)

_________

Jadi puisi ini adalah untuk sebuah keresahan Bojeg di lingkungan sosial. Di puisi pertama Bojeg memenggal kata demi kata, lalu memenggal mataku tatkala membayangkan lusuhnya bumi Rancaekek, kabupten Bandung. Seandainya Rancaekek adalah kita, dirinya memiliki berbagai penyakit (komplikasi) atau bahkan kanker stadium akhir. Menuju kematian,

Bojeg dengan elegannya menyertakan diksi-diksi ringan tanpa metafor, ini adalah puisi yang ringan tapi menghentakkan hati pembaca, aku kutip kembali,

Sungai biru jernih kini telah berubah menjadi hitam laksana tintaMasih mending tinta tak beracunNamun berbeda dengan limbah tekstilSudah hitam bau dan juga beracun

 Air yang mulanya jernih kini berubah menjadi hitam, di sana Bojeg menganalogikan dengan diksi laksana tinta, pembaca pasti langsung bisa menafsirkan, betapa hitamnya, betapa keruhnya, betapa baunya air itu. Namun masih ada beberapa pemilihan diksi yang harus diperbaiki, seperti misalnya di baris pertama dan terakhir di bait yang aku kutip, diganti menjadi

Sungai yang dulu mengalir jernih, kini menjadi hitam laksana tinta
.......
.......

Sudah hitam, bau, dan membunuh mereka secara perlahan

Mari kita bandingkan dan mencoba membacanya

Sungai yang dulu mengalir jernih, kini menjadi hitam laksana tinta
Masih mending tinta tak beracun
Namun berbeda dengan limbah tekstil
Sudah hitam, bau, dan membunuh mereka secara perlahan

Di puisi yang kedua pun sama, masih tentang keresahan yang terjadi di lingkungan sosial. Sebenarnya menjadi penyair kritis harus mempunyai keberanian, keberanian yang menggebu-gebu, keberanian untuk menuliskan hal borok yang telah lama dipelihara di negeri ini.

Jika kita di usia ini hisup di era Orde Baru, mungkin kita akan menjadi bagian yang hilang. Seperti Wiji Thukul beserta kawan-kawan aktivis lainnya.

Bait pertama aku intropeksi, tentang:

Apakah kebahagiaan tercipta?
Apakah kebahagian dicari?
Apakah kebahagiaan dinanti?

Di sini Bojeg mengasah hati dan perasaan pembacanya. Membuatku merinding.

Pada akhirnya, aku berterimakasih kepada Bojeg yang telah mau puisinya singgah di sini.
Tetaplah menulis.

_________________

Mila N. Azizah

Terimakasih Mohammad Aziz Pratomo alias Bojeg, alias bapak redaktur foto LPM Suaka

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram