Reading
Add Comment
![]() |
| Dok.net |
Ingatlah, ini adalah pertama kali lagi aku bergelut di dunia cinta, setelah sekian lama aku salah berharap dan bersabar; dan menunggu. Tuhan kasih aku debar kepadamu, malam itu. Tahukah kau, di balik wajah tenangku, darahku berombak-ombak menabrak segala saraf.
Aku tidak bisa apa-apa, berharap terlalu dalam kepadamu itu adalah mustahil. Sedangkan menyingkirkan dirimu di sepanjang waktu terlalu menyiksaku. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Mencintaimu itu, rumit.
Benarkah untuk suatu waktu kita pernah sama-sama saling memikirkan? Aku terlalu malu menyapa, berkata 'hai' padamu di jalan Suka Miskin. Masih ingat betul sarung tanganmu itu. Lembut. Sesekali aku tersenyum sambil menunduk dan berharap kau tersenyum kepadaku saat itu. Ah, tapi aku ini siapa?
Cintaku teramat hening. Hening sekali. Aku pandai memendam tapi berkoar-koar dalam tulisan. Mungkin aku cukup membingungkanmu, meski sama sekali kau tak menaruh harap padaku. Tidak apa-apa, melihat kau mencintai perempuan anggun itu, aku ikut bahagia. Betapa senangnya, melihat senyum manisnya.
Tapi izinkanlah, aku menulis tentangmu seperti ini dalam waktu lama, sampai suatu saat aku tidak mencintaimu lagi, meski itu adalah sesuatu yang tidak mungkin. Karena setiaku, sesetia aku kepada aku. Tidak apa-apa, sudah biasa aku menjadi perempuan kesepian.
Juni, 2018
Bulan-bulan yang hening Puisi
0 komentar:
Posting Komentar