DI SELA-SELA KUSIMPAN TUHAN BERSEMAYAM

Dok. Net

Tulang igaku menyilang, terasa begitu rekat. Merangkul semua organ di dada. Kasih, pada kebisuan ini aku memilih untuk membacamu berkali-kali, sebagaimana tulang igaku menyimpulkan jemarinya tanpa menggelitik satu pun yang berdenyut. Kasih, kata-kata seperti sahur sebelum imsak; seperti azan sebelum iqomah; seperti Dhuha sebelum Zuhur, dan seperti aku sebelum sampai.

Tulang igaku memeluk, menjaga, biar yang berdenyut tidak jatuh. Meski yang berdenyut itu bukan untukku, setidaknya aku ada walau tak terasa. Tuhan menghangatiku dengan darah, membiaskan semua keringat lelah. Kasih, matamu bercakap-cakap denganku di suatu siang sebelum Asar--di suatu waktu yang singkat, matamu begitu lancang hingga memegang jantungku yang satu, tanpa mengetuk iga--tanpa membungkuk kepada iga, dan tanpa sadar kau menyentuh tubuh ini dengan kata-kata--matamu berkata-kata; tanganmu menulisnya.

Kepadaku, kau menulis. Tetapi aku bukan bunga kamboja yang nanti akan kutaburi tubuhku setelah tiba kematianku. Tubuhku adalah 'Kun' dan tubuhmu adalah 'Fayakun'. Kasih, di waktu fajar sebelum Subuh, taburiku dengan bunga-bunga kasihmu, jelmaan tubuhmu sebagai apalah menujuku, menjembatani tubuhku menuju-Nya. Kasih, tulang igaku menguncimu di sini, lalu kau bergumam "di mana?" Aku kepadamu yang transenden berbisik sebelum muazin menyulut lisongnya "di sini kasih, di dada ini, kau ada di sela-sela kusimpan Tuhan bersemayam."
Ditulis pada waktu imsak sampai muazin mengumandangkan iqomah di waktu Subuh. 

Bandung, 11.11.18
Mila N Azizah

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram