Reading
Add Comment
![]() |
| Foto: Mila |
Semacam taazur, belikatku menyilang, menyeru Tuhan bapak, Tuhan bapakku. Hujan adalah berak yang jernih dari langit. Jam tiga pagi, aku masih berkeliaran, mempertanyakan sebuah keyakinan dari naqal berdasarkan naqli. Amanah.
Malaikat-malaikat itu berjalan layuh menujuku, terisak-isak. Percayakah engkau kepada Tuhanmu? Suaraku layut diiringi orkes hujan-hujan di pagi hari. Wafatku nanti mungkinkah setenang angin yang terseok-seok bersembunyi menuju sumur-sumur bulan?
Kematian bukan dolanan, air-air ini menjelma jenazah. Dingin, tak bernyawa. Tidak seperti aku yang bersajak awamatra, lalu orang-orang merasa duduk di dipan-dipan surgawi. Bukan! Kematian adalah seperti hujan jam tiga pagi.
Langit gelap menjubahi kuburanku, hujan membuatku pucat, memar kebiruan. Sendirian. Entah di sana aku lulus atau tidak.
2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar