Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: Dok.Net |
Kamu seperti prolog tanpa epilog, seperti monolog tanpa dialog, atau bahkan seperti log yang angka-angkanya tak pernah kutemukan. Lantas perlukah aku melukai keperawananmu dengan lidahku yang kelu? Tidak, kurasa tidak harus. Karena menemukanmu begitu sulit, sesulit merengkuh butir-butir debu yang berhamburan di depan pelupuk mata.
Setiap hari kamu memupukiku kata-kata, kata-kata yang tak penah usai, kata-kata berjubah sepi, kalimat bermaktub sunyi, paragraf berdalih fiksi. Kepadaku kamu selalu seperti itu.
Di lorong-lorong sumur aku berdiam diri, membaca sajak yang kubuat sendiri, di sela-sela kabut yang menyelubungi. Lalu pena kubiarkan bertengger di telinga tipisku yang kiri. Kenapa Kamu Ada, sebuah puisi yang membuat aku merindukanmu. Sungguh.
Di bibirku aku menyulut rokok dan mengepulkan asap bertuliskan rindu. Dia sangka aku gay? O, tidak! Dia sungguh gila, padahal aku hanya menginginkan perempuan saja. Kemudian rumput-rumput yang tumbuh di dinding-dinding sumur bergumam kepadaku.
"Mestinya kau tak usah membodohi perasaan kamu sendiri," sapa rumput liar itu ke telingaku.
"Aku bahkan sedang berterus terang, tentang rasa ini," kataku kepadanya.
"Memangnya siapa yang membutmu menulis?" aku terdiam cukup lama. Lalu kuterka-terka siapa yang membuatku menulis? Lantas aku menjawab, "Tuhan yang membuatku menulis,"
"Asli! kamu memang bodoh, berani-beraninya menyebut nama Tuhan," warna daun itu seketika berubah menjadi warna merah pekat, perlahan-lahan menghitam, kemudian tidak berbicara lagi.
Liang Lahad, Januari 2016
Cerita
Cerpen
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar