Hantu

Ilustrasi: dok.net


Malam-malam, sekitar jam 10-an, aku sedang di kamar, seperti biasa, sendirian. Sedang ayik-asyiknya nugas. Tiba-tiba kabel lampu dari langit-langit kamar goyang-goyang sendiri. Aku merasakan hal aneh. Lalu aku melihat ke cermin, goyangannya semakin cepat. Aku rasa ini bukan ulah tikus atau cicak. Mana mungkin tikus dan cicak melakukannya dengan cepat. Aku mencari-cari mamah, ketakutan.

"Mana gak ada?" Tanya mamah kepadaku.
"Tadi goyang-goyang sendiri mah!"
"Ah kamu itu, makanya jendela itu ditutup,"

Aiissshhh! Aku melanjutkan tugasku sebagai layouter tabloid kampus. Aku memang terbiasa tidur malam atau pagi. Dan sering sekali makhluk-makhluk itu mengangguku. Kebetulan, ada sebuah ruangan yang cukup besar di rumahku, di sana banyak kursi kantor dan meja. Sering kali di malam hari kursi dan meja itu gerak sendiri. Tahukah engkau suara kursi dan meja yang bergesekan dengan lantai? Linu dan berisik. Acap kali kursi itu berputar-putar sendiri atau bergerak memutari ruangan itu, seperti ada anak kecil yang menaikinya dan temannya sedang mendorongnya.

Atau setiap jam dua pagi ada hantu yang menyapu halaman rumahku. Sreeek sreeek sreeeek. Aku sudah biasa. 

Kemudian aku menyeduh kopi di dapur dan kembali lagi ke kamar. Melanjutkan kerjaanku. Sampai pada akhirnya tiba di jam satu pagi, tatkala aku mengtik Fokus Khusus, mataku memelototi keyboard. Lalu melihat monitor, sejenak mataku terbelalak. Di sana tertulis nama R I T A, padahal dengan jelas kedua mataku tertuju kepada huruf-huruf Fokus Khusus. Tapi kenapa jadi begitu. Dia sangat mengangguku.

Aku berniat membangunkan mamah, tapi aku tak kuasa, dia pasti kecapekan. Aku teringat hal-hal yang aku alami, beberapa bulan lalu. Aku pulang dari kampus sekitar jam sepuluh malam. Malam sebelumnya, aku bersama Machally, Mia, Galih, Laura, dan Rendy melihat seorang pria kerasukan hantu. Selang beberapa waktu, ada seorang bapak yang menghampirinya, dan berbicara dengan pria yang kerasukan itu. Setelahnya, bapak itu menghampiri kita. 

"Dia kerasukan hantu perempuan dari Jepang"
Dari obrolan itu kita semakin asyik mendengarkan pembicaraan si bapak. Aku melihat matanya membaca, entah dari Tuhannya seperti itu atau karena latihan.

Nah, keesokan harinya, setelah aku bertemu seseorang yang membahas puisiku, aku pulang sendirian, trotoar kampus kutapaki dengan perasaan was-was, berasa ada yang mengikutiku. Kulihat kebelakang tak ada, Sampai akhirnya hampir menuju gerbang, aku melihat bapak yang kemarin. Ada yang tidak beres dengan wajahnya. Dia melihatku terus-terusan. Lalu aku menabrak udara, seperti ada  bahu yang beradu dengan bahuku. Aku berhenti sejenak, melirik ke arah si  bapak, kemudian si bapak itu pergi.

Lantas aku cepat-cepat naik angkot, hhuufft.

Selama perjalanan dari kampus ke Cileunyi aman-aman saja. Tapi dari Cileunyi menuju Cicalengka, ada yang tidak beres. Di bunderan menuju Citarik, di sana berdiri pohon-pohon besar. Di dalam angkot hanya ada aku dan sopir. Mataku melihat ada seorang perempuan yang sangat cantik, di cermin sopir. Aku mengerutkan dahi, terus-terusan melihat ke arah cermin. Wah cantiiikk. Tapi aku pikir-pikir lagi, aku sendirian di sini, kenapa ada perempuan itu?

Dengan tergesa aku langsung melihat ke belakang, lalu seperti ada angin yang membukakan jaketku sampai sikut. Dingin. Aku was-was. Langsung aku membenarkan jaketku dan berskiap seolah-olah tak ada yang terjadi.

***

Saat aku kecil, aku sering melihat hantu di kolong ranjang kakakku. Seorang kakek bertubuh cebol, wajahnya mengerut, keriput, dan hitam. Setiap malam dia merangkak-rangkak, seperti ingin mengajakku main. Aku selalu berteriak dan menjerit-jerit setiap malam.

Di depan rumahku ada kolam ikan, di sana suka ada yang mandi, malam-malam. Dua anak kecil yang sering disebut dengan budak hideung, mereka anteng main air. Dan di depan rumahku ada ayunan besi yang saling berhadapan, setiap malam pula aku selalu mendengar suara ayunan yang telah tua itu bergerak-gerak. Kreeek kreekk.

***

Aku pernah nge-kost. Di sana aku tidak bisa tidur. Karena ada hantu perempuan yang tangannya selalu meraba-raba bahuku. 

***

Tapi setelah aku menceritakan semua ini tak ada yang mengertiku sama sekali.

2016

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram