Reading
Add Comment
![]() |
| Foto: Fikri Mahendra |
Oleh: Mila Nur Azizah
Saat
ini aku berada di rahim jurnalistik, hampir dua tahun, bak seorang balita yang
sedang belajar bagaimana caranya berlari cepat, bagaimana memahami bahasa,
bagaimana memaknai orang-orang sekitar, dan bagaimana aku harus bertindak.
Menjadi mahasiswa jurnalistik tentunya sangat berbeda dengan
mahasiswa-mahasiswa lainnya. Di beberapa universitas di Indonesia yang
memilliki jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik tidaklah mementingkan bagaimana
mahasiswanya harus berpenampilan formal, seolah-olah ini merupakan jurusan yang
bebas dan santai, namun serius.
Jurnalistik
di kampusku menjadi jurusan yang unik dan mempunyai ciri khas tersendiri.
Beranjak ke semester III, perekrutan kepanitiaan KOMA 2015 (Kegiatan Orientasi
Mahasiswa Anyar) dimulai dengan riuh-riuh kebimbangan di antara orang-orang
yang seangkatan denganku. Para Kabid (Kepala Bidang) dari semester V berdiri
dan mempersilahkan kepada mahasiswa semester III untuk ikut serta menjadi
panitia KOMA di bidangnya. Awalnya aku ingin masuk ke bidang kesehatan, upaya
balas budi. Sebab, saat aku di KOMA 2014 aku adalah pasien yang terengah-engah
mencari oksigen. Namun, aku berpikir panjang lagi, jika aku di kesehatan apa
jadinya dengan kondisi fisikku yang lemah? Lantas, aku bersama Ossy dan Mega
masuk di bidang kestari. Bidang yang bekerja sebelum dilaksanakannya KOMA,
bidang yang mendata kepanitiaan dan peserta.
Ketua
panitia KOMA 2015 adalah Fattahul Akbar yang akrab dipanggil Jakoy. Ia
merupakan sosok dengan jiwa kepemimpinan yang bijaksana, yang mampu merangkul
panitia dengan caranya yang elok. Rambut gondrong yang ikal acap kali diikat
seadanya ketika runtutan rapat direlai. Sekretaris dan Bendahara selalu menjadi
pendampingnya selama rapat, yakni Muti, Elka dan Nuru.
Kabid
acara adalah Vildri si pria berkacamata, bidang ini adalah bidang terfavorit
alias banyak diminati dari tahun ke tahun. Suaranya yang khas menjadi daya
tarik tersendiri. Kabid konsumsi adalah Umi, oleh mataku ia adalah wanita
cerdas dan tegas, pun dapat mengontrol diri dari tantangan apa pun. Tanpa
bidang ini semua panitia dan peserta tidak bisa makan, oleh sebab itu Umi
menyebutnya sebagai penyuplai energi. Kabid kesehatan adalah Wahyu, ia adalah
sosok yang gigih yang berusaha meneladani teh
Imas sebagai kabid kesehatan KOMA tahun lalu, ia bersikukuh memantau peserta
yang sakit. Kabid Komdis (Komisi Disiplin) adalah Restu si pria berambut
panjang yang hidup dengan pemikiran-pemikirannya, bidang ini merupakan bidang
yang cukup disegani bahkan ditakuti. Sebagai bidang yang mengontrol suara
sirine bertanda bidang ini beraksi guna melatih mental, fisik, ideologi,
kritis, dan intelektualitas peserta. Kabid Pubdok (Publikasi Dokumentasi)
adalah Jamal si fotografer handal berkacamata. Ia menjelaskan titik-titik di
mana bidang ini harus membidik, ia juga banyak interupsi ketika rapat,
mengajukan beberapa pertanyaan, apakah diperbolehkan untuk memotret peserta
ketika Komdis beraksi dari jarak dekat, apakah tidak mengganggu konsentrasi dan
sebagainya. Aku tidak pernah berpikir ke arah sana, ternyata ada
teknik-tekniknya. Kabid kestari adalah Calam, ia adalah sosok yang tegas, aku
selalu ketakutan ketika melihat raut wajah yang mengerutkan kedua alisnya,
salah satu bidang yang paling santai saat berlangsungnya KOMA, karena bidang
ini bekerja sebelum dan sesudah KOMA. Dan yang terakhir kabid logistik adalah
Adi, akrab dipanggil Adiw, jurai rambut sebahunya terkadang diikat. Ia hidup
bersama jiwa kepemimpinannya yang santai, namun serius. Ia lihai dan mampu
merelai masalah yang terjadi saat itu, sehingga semuanya berjalan dengan
lancar.
Semua
kabid ini adalah inspirasi baru bagiku, aku mampu menjelajahi, memantau, dan
menilai pemikiran serta perbuatan mereka. KOMA adalah kultur jurnalistik yang
tidak bisa diganggu gugat, dari KOMA muncullah naluri kekeluargaan secara
lahiriah dan batiniah. Jurnalistik adalah keluarga, yang memiliki filosofi
tersendiri. Kebersamaan dan pelukan adalah kelezatan yang tiada bandingannya.
KOMA
diselenggarakan selama empat hari, dua hari di kampus dan sisanya di Ranca
Upas.
Hari
pertama, jam 06.00, sirine dibunyikan. Semua peserta kocar-kacir, komdis
beraksi di halaman belakang aula, mereka terlihat lebih gagah dan lebih geram
dari biasanya. Kharisma yang mereka miliki murni, tidak dibuat-buat. Di kemeja
hitamnya terbalut kain merah. Komdis perempuan tak kalah menarik, ketika
panitia lain memakai kerudung hitam, mereka lebih memilih merah. Meneriakan
jargon andalan, JURNALISTIK!!! Lantas terdengar jawaban dari peserta, mereka
berteriak sorak dengan mengepalkan salah satu tangannya ke arah langit biru
secara bersamaan, NU AING!!! Kampus hijau ini digemakan dengan jargon yang luar
biasa maknanya. Dan di dalam aula aku merinding mendengar teriakan-teriakan
mereka, sekaligus mengenang KOMA tahun lalu yang kualami.
Setibanya
mereka di aula, disuguhi beberapa keasyikan oleh bidang acara. Wajah-wajah
ketegangan mereka mereda, lalu air muka sumringah merekah meradang ceria.
Beberapa materi tentang kejurnalistikan disampaikan dengan sukses,
pemateri-pematerinya adalah alumni jurnalistik yang telah berhasil mencapai
titel jurnalis di media-media bergengsi.
Di
hari pertama ini, kami mengalami sedikit masalah, peserta dari salah satu
kelompok ada yang pergi tanpa sepengetahuan panitia. Air muka Jakoy kebingungan, penanggung jawab kelompok
peserta tersebut tidak mengetahui ia pergi kemana. Aku bersama Calam
mencari-cari nama peserta tersebut di berbagai aplikasi media sosial, tetapi
hasilnya nihil. Jakoy bersama officio mengikutsertakan Presiden Mahasiswa, kang Dea dan berunding dengan penanggung
jawab kelompok serta ketua kelompok tersebut. Kemudian Jakoy dan kang Dea mencarinya dan berusaha
menemukannya. Suasana genting.
Matahari
semakin terik, perpindahan dari siang ke
senja, membuat cahaya matahari menerobos ke sela-sela jendela yang terbuka.
Setelah usaha pencarian, akhirnya ditemukan. Suasananya lebih dari serius, lalu
Jakoy menaiki panggung dan duduk ditepi panggung, dengan gaya rambutnya yang
diikat, kedua tangannya saling mencengkram. Jakoy menjelaskan kenapa ada KOMA,
kenapa harus KOMA. Peserta membisu, mata mereka tajam menatap orang yang bicara
di depan. Semua panitia yang berada di lantai dua pun terhipnotis, semua
panitia diam. Kemudian, Jakoy memanggil peserta tadi untuk duduk di sampingnya.
Ia tersenyum dan tubuhnya merikuh dalam rengkuhnya. Tepuk tangan meriuh seisi
aula, karena semua yang ada di aula ini bahagia, karena ia telah ditemukan.
“Ia
sakit, selama beberapa hari ia tidak bisa berbicara, tadi kami mengantarnya ke
rumah sakit. Sebelumnya ia sehat sama seperti kita, normal.” Jakoy menjabarkan
semuanya sebagai perwakilan isi hati peserta tersebut.
Semua
orang bungkam dan prihatin.
“Semua
panitia yang berada di lantai satu ataupun dua, berdiri” seru Jakoy.
Suara
gerakan semua panitia yang berdiri terdengar serempak. Semua panitia berdiri,
seragam kami hitam-hitam, seolah-olah peserta dilindungi oleh tameng berbaja
hitam.
“Mari
kepalkan tangan kita ke atas” lanjut Jakoy sembari berdiri dan mengepalkan
salah satu tangannya.
Lalu
ratusan tangan panitia mengepal dan melantunkan sebaris lagu yang melegenda di
ranah jurnalistik.
“Bagimu
jurnal jiwa raga kami” lagu itu meski tanpa musik tapi terasa merdu menjulang
kekerontangan hati. Aku merinding sendiri menyanyikannya. Suara semua panitia
menggema ke setiap sudut-sudut aula. Ini adalah solidaritas. Semua peserta yang
menyaksikan dan mendengarkan nyanyian ini, terdiam, semacam merasakan suntikan
surgawi. Mereka semua bertepuk tangan, haru biru.
Hari
kedua, berjalan dengan lancar, dari setiap kelompok mempresentasikan hasil
liputan mereka sesuai media yang mereka pilih. Namun, aksi komdis semakin
mengguncang dan panas. Sehingga mataku melihat ada salah satu peserta laki-laki
terisak menangis. Komdis yang ada di depannya terus mendesak, hingga mata
mereka hampir beradu.
“Kamu
nangis?! Hah?!”
Selang
beberapa menit, ada peserta yang aku kenal, Panjul namanya. Ia mengambil alih
toa dari Restu. Semua peserta berada di posisi persiapan push-up.
“Woy!!!
Semua berdiri!!!” emosi Panjul tak terbendung. Komdis menyuruh peserta
meneruskan push-up. “Urang nu salah mah!!! Semua berdiri!!!”
sambung Panjul dengan nada meninggi. Peserta pun berdiri. Semua panitia sorak
sorai bertepuk tangan untuknya. Inilah yang dinantikan komdis.
Peralihan
dari senja ke malam di hari kedua, sebelumnya panitia memiliki beberapa
kendala, terutama dalam alat transportasi. Awalnya bidang logistik telah
menyewa banyak ranger, namun karena Persib akan di bertanding di final versus
Persipura, seluruh aparat TNI se-Jawa Barat dikerahkan untuk turun mengamankan
supporter dari dua kesebelasan yang akan berlaga di final tersebut. Maka dari
semua pihak TNI yang telah menyetujui penyewaan ranger, membatalkannya di H-3.
“Bagi
kalian yang memiliki kenalan atau saudara yang punya kendaraan lebih atau punya
akses untuk menyewa bus atau pick-up atau truk, silahkan hubungi saya,
secepatnya.” Ucap Adiw yang terlihat santai meski kondisi sedang getir.
Seolah-olah Adiw berusaha menenangkan semua panitia lewat gaya bahasa tubuh dan
gaya bicaranya. Sesekali kedua tangannya mengusap wajah hingga ujung rambutnya,
berharap semua ini bisa terkendali.
“Kita
sudah ada bus untuk peserta, sedangkan untuk panitia pake motor, yang tidak ada motor ikut di bus peserta.” Tegas Adiw.
“wayahna” sambung Adiw dengan raut
wajah yang tenang. Kondisi aula riuh dengan nada-nada berisik dari panitia yang
bersahutan menghitung motor dan mencari-cari partner yang akan diboncengnya.
Aku bersama geng kestari adem-adem saja. Kalau seandainya tak ada
kendaraan bagiku, aku rela pulang membawa tas ranselku kembali yang penuh
dengan perbekalan. Malam semakin menjelmakan kegelapannya, lampu-lampu trotoar
kampus menghantarkan cahaya mellow
oranye yang membuatku ingin berpuisi. Pantulan cahayanya terlihat tenang,
tatkala aku memandang sendu ke arah jendela aula.
Aku
bukan sosok yang mudah berbaur dengan siapa pun, apalagi dengan laki-laki, aku
bukan sosok peminta dan penerima yang mudah, sehingga aku hanya melihat kondisi
seisi aula dan hiruk-pikuk serta hilir mudik orang-orang yang meminta nebeng. Sesekali aku tersenyum sendiri
menyiasati semua ini.
Malam ini semakin larut, membuai angin dengan segala kelembutannya, menghela napas diambang kantuk di kantung mata, menahan lapar yang menampar lambung, wajah-wajah lelah dan kulit berminyak adalah potret yang menakjubkan. Kemeja hitam jurnalistik ini mengemban keselarasan, merajut solidaritas, loyalitas dan totalitas. Kemeja hitam jurnalistik ini telah menyerap semua keringat, darah, pikiran hingga menyatukan hati dengan segenap kasih sayang dan kebersamaan yang susah hilang, yang sudah lama bernaung di sini, di jurnalistik.
Keesokan
harinya, kami berbondong-bondong menuju bis. Dan, yang lainnya menggunakan
motor. Perjalanan ini merupakan cerminan yang elok di tengah antah berantahnya
kenestapaan tugas. Di paling belakang terdengar kakak-kakak gondrong
menyanyikan lagu-lagu Iwan Fals dan lagu favorit Soe Hook Gie, Donna-Donna.
Mereka menenteng gitar dan bernyanyi dengan suara sekadarnya. Meski begitu, aku
tetap menikmatinya dalam kelelahan yang panas ini.
Setibanya
di Ranca Upas, panitia segera ke tenda yang sudah disiapkan oleh logistik tim
awal. Komdis mulai beraksi, suara sirine membumi di seantero camp. Sementara, panitia yang lain sibuk
membenahi strategi bidang mereka masing-masing. Bidang konsumsi mulai memasak
untuk makan siang, Umi terlihat lebih gesit dari biasanya. Kompor-kompor dan
kayu bakar mulai menyala, di dalam sana terlihat Nizar yang sedang berusaha
menyalakan tungku dengan tiupan angin dari mulutnya.
Bidang
acara pun tak kalah gesit, mereka hilir-mudik kesana kemari demi koordinasi.
Vildri terlihat lebih tegas di balik ketenangannya, sesekali ia membenarkan
letak kacamatanya. Mia terlihat lelah di balik keceriaannya sebagai pemandu acara.
Di sini aku melihat orang-orang sibuk dengan pekerjaannya, sedangkan geng
kestari hanya bersantai-santai ria, dan pada akhirnya kita mencari warung, kemudian makan gorengan
yang sudah dingin di sana. Teh Ociw, aku, Ossy, dan Mega membicarakan tentang
bagaimana KOMA dari tahun ke tahun kepada teh Ociw. Di sana kiranya pembicaraan
membuat gorengan seolah-olah hangat.
Ashar
di Ranca Upas, kabut-kabut telah terjun, berjatuhan. Aku sudah merasakan
kedinginan. Dan pada akhirnya aku dan Ossy mendapatkan perkerjaan, yaitu
menjaga pintu masuk, dan mendata tamu dari alumni atau mahasiswa Jurnalistik yang
hadir ke Ranca Upas. Sore itu berdatangan Kang Dea bersama koleganya, kemudian
alumni-alumni yang sudah bapak-bapak juga ada. Di pintu masuk itu aku melihat
Mia dan teh Imah sedang menghibur para peserta, ada juga Asti dan Jeje yang
sangat heboh membagi keceriaan dan kebahagiaan kepada para peserta yang sangat
lelah.
Menuju
maghrib, kabut semakin banyak dan udaranya sudah sangat dingin. Aku dan Ossy
masih menjaga pintu. Di sana kita berdua kesepian, hehe. Tak lama dari itu tim logistik
yakni Adiw dan kawan-kawannya, bolak-balik membawa kayu bakar, sedangkan kita
memegang tali yang rapia yang menghalangi langkah mereka. Berkali-kali, mereka
menyebut punten, dan aku
tersenyum-senyum karena dibalik kecapekan mereka, masih ada sisi humornya.
Aku
membayangkan kinerja logistik yang begitu super, wuuuiih. Kalo aku menjadi tim logistik mungkin aku akan merepotkan
mereka, atau aku tidak kerja sama sekali, haha.
Malam-malam
yang dingin dan banyak kabutnya, komdis akan semakin ganas dan menjadi-jadi. Mana
udaranya dingin. Beberapa kali sirine dibunyikan. Aku merinding dan aku
ketakutan. Saat makan malam, semua panitia membikin barikade, mengelilingi
peserta dari kejahatan alumni, sedangkan komdis berada di antaranya. Saat mereka makan, teh Kia, salah satu Komdis,
teriak-teriak,
“Hargai
petani! Hargai Umi! Makan yang bener!” Ketika teh Kia bilang ‘hargai Umi’ semua
panitia cengengesan, ingin sekali tertawa.
Sebelumnya
peserta unjuk diri perkelompok menampilkan pentasnya, ada yang membaca puisi,
ada yang drama, dan ada yang cukup menghibur. Di sana aku menyaksikan
ketegangan, keresahan, dan rasa ingin pulang yang menggelayut di wajah peserta.
Malam
itu ada pos-pos-an di mana komdis dan tim kesehatan terus berkoordinasi, acara
dan logistik serta semua panitia tidak putus-putus melakukan koordinasi. Hingga
pada akhirnya agenda per agenda tertuntaskan dengan lancar. Meski aku tidak
memiliki peran yang begitu penting, tapi aku sangat bahagia.
Keesokan
harinya, ada beberapa materi yang disampaikan para alumni mengenai jurnalistik
itu seperti apa dan bagaimana. Jargon dari para alumni juga ternyata tidak
pernah hilang. Setelah itu ada sidang yang harus dilakukan oleh peserta. Di sana
Restu menyampaikan beberapa teknik sidang dan kemudian langsung menunjuk
presidium satu sampai tiga. Kemudian, selang beberapa saat, ricuh, ini-itu. Amarah
tak terbendung antara panitia dan peserta. Kegentingan di mulai. Sidang berlangsung
kirang-lebih selama satu jam lebih. Setelah dari sidang itu menghasilkan
seseorang yang patut menjadi ketua angkatan usailah sudah.
Dari itu peserta langsung mandi, bersih-bersih.
Lalu
setelah mereka mengganti pakaian dan sudah rapi, sirine dinyalakan kembali. Peserta
langsung berbaris. Kali ini tim logistik yang beraksi. Semua peserta jalan
bebek dan harus menyebrangi sungai, kemudian tiarap di tanah yang becek. Dan mereka
kotor lagi. Ini biasanya disebut dengan
pembaptisan. Baptis menjadi keluarga jurnalistik. Peserta dibalut lumpur, kotor
sekali.
Lantas
seusai itu, peserta dibariskan lagi. Berbaris per kelompok. Ketua panitia,
Jakoy dibentak-bentak oleh kang Dea, bahwa KOMA angkatan ini gagal. Setelah bentak-bentak,
semua peserta di ambil alih oleh komdis, komdis menyuruh peserta balik kanan. Dan
di sana semua panitia berdiri mengangkat kain yang bertuliskan “Welcome to
Jurnalistik” lalu semua bersorak sorai. Para peserta menangis saling memeluk,
setelah itu mereka mengejar semua panitia terutama mengincar ketuanya, dan para
kabidnya untuk berbagi lumpur-lumpur itu. Di sini aku melihat keceriaan. Aku yang
kepribadian seperti ini lebih suka melihat, daripada terlibat. Dan ini adalah pertama
dan terkhirkalinya aku hidup sebagai panitia orientasi.
Terimakasih
Jurnalistik, jangan menjadi orangtua yang pilih kasih, jangan pernah ada anak
emas, jangan pernah ada anak tiri, jangan pernah ada yang merasa tersisihkan. Orang-orang
akan merasakan keluarga yang sebenarnya, jangan hanya memberikan doktrin
kekeluargaan, tapi dalam aksinya palsu. Jangan pernah ada pengkhianatan. Engkau
adalah jurnalistik di mana dulu, aku sangat jatuh hati,.
Bandung,
Oktober 2015
Cerpen
0 komentar:
Posting Komentar