Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: Dok.Net |
Di siang-siang, aku kesepian. Kenapa semua orang menjauhiku? Apakah ini karena kakiku? Atau karena wajahku yang buruk rupa? Atau karena jemariku yang borok? Oh, Tuhan! Kenapa benda-benda mati pun menjauhiku? Seakan-akan aku kuman atau benalu-benalu yang tak ingin mereka singgahi.
Aku semakin menyendiri, di sudut kota yang riuh, antah-berantah. Di jalan yang begitu panjang yang aku lihat hanya lampu-lampu yang mati dan matahari mulai menyembunyikan tubuhnya di balik ketiak awan.
Di sini mengapa aku seperti orang gila? Bermonologria tanpa pendengar, penonton apalagi. Pram, haruskah aku memanggilmu? Aku ingin berak di atas bulan, di lubang-lubang yang besar itu. Ataukah aku harus membujuk Soe Hook Gie, menarik tangannya, lalu menubruk dadanya, dan bercintaria dengannya?
Kenapa semua orang begitu? Mereka terlalu mementingkan topeng dan memoles senyuman. Jadi menurutku yang lebih sial dari padaku adalah mereka yang terlalu memakasakan diri mereka sendiri menjadi orang lain, menjadi sosok yang lain dari dirinya, menjadi kemunafikan yang candu dalam kesehariannya.
2016
Puisi
2016
0 komentar:
Posting Komentar