Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi:dok.net |
Hari ini
Kesintinganku semakin menggerogoti pemikiran-pemikiran yang menurutku sesat. Aku bagaikan suaka yang mengurung hewan-hewan buas di dalam jiwaku. Aku bagaikan mata yang bisa melihat apa pun yang tak terlihat.
Hujan yang mendatangkan puisi bagi para penyair, sebatas anggukan leher anak burung unta kepada bapaknya, pamannya, atau kakak lelakinya. Senja yang mendatangkan kenangan, sebatas jungkat-jungkit yang diberatkan oleh seorang anak gemuk manja, yang kalau dikata-katai dirinya menangis dan mengadu kepada bapaknya.
Menjadi-jadilah aku tatkala banyak orang yang korupsi di atas kesetiaannya. Kesetiaannya kepada si anjing, kepada si babi, dan kepada si rusa.
Di sini aku masih saja menatap langit-langit, sarung kotak-kotakku masih tersangkut di tubuh kurusku. Menatap kekosongan. Lalu kusedot keras-keras udara melalui kedua lubang hidungku dan membuangnya melalui mulutku.
***
Kemarin, aku mendatangi rumah seorang teman, dirinya begitu bangga.
“Dulu, aku hanyalah seorang awam, kini aku sudah berubah, tahajud setiap malam. Alhamdulillah,” serunya.
“Sekarang kau bagaimana?” lanjutnya kepadaku sambil menghisap tembakau yang sedari tadi dilintingnya sendiri.
“Seperti yang kau lihat,” ucapku.
Aku melihat ke dalam tubuhnya. Kesengsaraan menggerogoti paru-parunya. Jantungnya kembang kempis tak karuan. Sebentar lagi dia akan mati.
“Hmmm, teman, apakah engkau sehat?”
“Alhamdulillah, sehat. Kenapa kau berkata seperti itu?”
“Tidak,” aku menggelengkan kepala kepadanya.
Setelah berbincang-bincang seharian dengannya, aku pamit pulang.
Benar, dia telah berubah. Dari tidak beribadah menjadi beribadah, dari pendiam menjadi pemberani. Dirinya telah mempelajari beberapa mazhab, sampai-sampai dirinya mengeluarkan ‘fatwa’ bahwa ibu-bapaknya telah bid’ah, karena menurutnya ibu-bapaknya berada di luar yang dilakukan oleh Rasulullah SAW. Setelah dia mengatakan seperti itu, aku bertanya kepadanya, apakah merokok termasuk kepada bid’ah? Lalu dirinya mengepulkan asap ke arah langit-langit, teman, merokok itu makruh. Aku terkekeh mendengar jawaban temanku itu. Kemudian kita berdua mengadu asap di langit-langit itu. Untuk beberapa saat aku bertanya kepadanya lagi. Apakah dengan engkau menelantarkan ibu-bapak seperti itu, dengan alasan berjihad kepada Allah, sedang Rasul menyatakan bahwa mengabdi kepada ibu-bapak sama saja dengan jihad kepada-Nya?
Untuk beberapa saat dia terdiam. Kemudian membenarkan posisi duduk.
“Teman, aku sudah bilang, ibu-bapakku bid’ah, mereka tidak menjalankan apa yang diperintahkan oleh Rasul,”
“Kalau kamu bertanya seperti ini terus, kamu boleh pulang,” lanjutnya kepadaku.
Tak lama dari itu, aku pulang. Begitu drastis perubahannya. Aku tertegun sepanjang jalan. Mataku tak henti-hentinya menatap tanah.
***
Dan, pagi ini aku masih memikirkan apa yang terjadi kemarin. Kenapa dirinya begitu berubah?
Aku bangkit dari kenikmatan berbaring di kasur ini. Merogoh kedustaan demi kedustaan dengan kebutaan mata yang begitu lama. Tiba-tiba saja aku menjadi melonkoli, menatap semua dogma, menatap semua titah-titah Tuhan yang terpeleset, dan menatap kerinduan kepada Ilahi.
Tuhan, sudikah bahu-Mu menjadi sandaranku? Aku ingin satu selimut dengan-Mu, aku ingin berbincang dengan-Mu sampai aku terlelap di dada-Mu.
Tuhan, mataku memang tak bisa melihat-Mu, hatiku belum memiliki mata untuk bisa melihat-Mu. Kenapa dari dulu aku bercita-cita ingin menjadi presiden yang akan mengacak-ngacak negeri ini ketimbang ingin menjadi Nabi?
Tapi, apa Nabi?
Kenapa aku semakin enggan berdiri? Setiap bergerak, setiap itulah pikiranku bertahap-tahap memikirkan sesuatu yang mengherankan.
Tiba-tiba henfonku berdering. Ada kabar kematian.
***
Aku berdiri menatap sebuah padung kayu yang masih segar. Menatap namanya begitu lama. Kenapa benar tentang kematian itu? Teman, benarkah di dalam dingin? Engkau telah bertemu dengan Tuhan bukan? Sampaikanlah rinduku.
***
Hari ini adalah kemarin.
Begitu malam datang, aku mengendarai vespaku, mengelilingi kota Surabaya yang ayu ini. Lampu-lampu jalanan berpendar, aspal-aspal terlihat sakit karena kendaraan-kendaraan itu tak berperasaan menyetubuhinya. Cukup saja aku dan angin yang bemesraan.
Aku berhenti di sebuah trotoar. Menyimak lalu-lalang kendaraan dan pejalan kaki yang melintas di hadapanku.
Di kejauhan, dari arah kiri, aku melihat seorang perempuan berpenampilan aduhai. Dia berlari terbirit-birit. Dia berlari ke arahku, dan mulai menyembunyikan tubuhnya di belakang vespaku, dia berjongkok, napas terdengar begitu keras. Kecapekan.
Aku terkejut, seorang lelaki bertubuh kekar menghadapku, dan bertanya,
“Mas, liat cewe lewat sini gak?”
“Yang lewat banyak mas,” kataku
“Dia pake baju item, segini,” si lelaki itu menunjukkan pahanya.
“Oh kurang tau mas, maaf ya,”
Setelah itu, lelaki bertubuh kekar yang lainnya menyusul, berlari mengarah kepadaku. Aku berusaha tetap tenang, dan sesekali melirik ke belakang. Tak lama dari itu, mereka pergi tanpa permisi kepadaku.
“Ayo naik,” kataku kepada perempuan itu. Lantas dia kubonceng dan kubawa pergi ke tempat yang jauh dari tempat tadi. Kita berhenti di angkringan kopi. Aku menyodorkan kemejaku kepadanya. Sebab, aku agak risih melihat perempuan dengan pakaian serba terbuka. Kemudian dia memakainya.
Perempuan itu, terlihat sepi dan takut. Aku melihat ke dalam hatinya. Dia berkata, mungkin begini nasibku, Tuhan, jika aku meminta bahu-Mu sudikah Engkau memberiku? Aku ingin satu selimut dengan-Mu, aku ingin berbincang dengan-Mu sampai aku terlelap di dada-Mu.
Itulah kata-kata yang selalu aku ungkapkan setiap pagi. Jantungku kembang kempis, kencang. Aku menjadi gugup. Apakah benar perempuan ini dari sulbiku?
Kita berdua istirahat di sana. Aku menanyakan apa yang menimpa kepada dirinya. Lalu perempuan yang bernama Laila itu berkata, ini bukan yang pertama mas, ini sudah berkali-kali menimpa diri saya, saya kali ini benar-benar ingin pergi dari kenikmatan iblis ini. Tadi yang ngejar-ngejar saya adalah suruhan germo di sana, aku sudah dipesan seorang pejabat untuk malam ini, tapi saya tidak mau, banyak sekali pejabat-pejabat yang pernah tidur dengan saya. Saya sudah muak mas. Menjadi pelacur bukan keinginan saya mas. Saya adalah korban.
Malam itu, aku menghabiskan beberapa gelas kopi dan bercerita dengan Laila.
“Mas, gak malu saya bersama mas, nanti pacar mas marah,”
“Aku berteman dengan siapa saja,”
Perbincangan demi perbincangan kita hasbiskan sampai tibanya di jam tiga pagi.
Lalu aku mengantarnya pulang, ke sebuah gang sempit dan gelap. Aku berjalan di belakanganya, setibanya di depan pintu itu, aku pamit pulang. Aku tersenyum kepadanya. Laila tersenyum sangat ayu, dan aku melihat di dahinya. Laila mati terbunuh.
Aku membelakanginya dengan rasa khawatir. Sesaat, setelah aku berjalan beberapa meter dari rumah kecil itu, Laila berteriak memanggilku.
“Mas!”
Rambut sebahuku pun ikut tergibas tatkala tubuhku berbalik ke arahnya.
Dia berlalri-lari kecil, menujuku.
“Makasih ya,” sambil menyodorkan kemeja kepadaku.
“Oh iya,”
Lantas aku pun pergi. Melaju menuju rumahku. Surabaya, malam ini, aku takut.
***
Setelah aku memandangi nama yang ada di padung itu, ada beberapa penyesalan dalam diriku. Kenapa aku tidak menunggunya sampai matahari terbit dan para pembunuh itu datang menerkam perempuan ini? Bukankah dia itu Laila yang bau parfumnya masih menempel di kemejaku? Bukankah darah-darahnya masih bau di lantai rumah itu?
Kenapa begitu ringannya aku pergi? Melangkahkan kaki tanpa terpincang-pincang. Aku membayangkan tubuh Laila membiru, rintihan tangisnya menggema, air matanya menyatu dengan darah. Tanpa ada perlawanan, tanpa ada yang membantu. Orang-orang membiarkan dia mati.
Aku berjongkok di hadapan tanah merah yang menggunduk itu. Laila bukankah Tuhan kita sama? Sampaikan rinduku kepada-Nya. Semoga engkau nikmat tertidur di dada Tuhan yang empuk, hangat.
***
Hari ini dua orang kembali kepada-Nya. Temanku yang membanggakan dirinya karena jihad diiringi oleh gema Laa ilaha illa Allah dan ratusan orang berbondong-bondong mengantarkannya ke pemakaman, sedangkan Laila, seorang pelacur yang merindukan Tuhan diiringi oleh gema tahlil yang berasal dari sepuluh orang saja. Mereka berdua telah usai dan pulang menuju keabadian.
***
Hari ini
Kesintinganku masih menjadi-jadi. Aku mengkhayal kesana kemari. Sarung kotak-kotak itu kutarik lagi dan mulai mencangkul kembali pemikiran-pemikiran yang aneh yang selalu meliputi kesenanganku.
Tentang khayalanku itu, semoga ada hikmahnya. Aku mau tidur lagi.
Selamat bobo.
NB: Efek baca buku The Road to Allah (Jalaluddin Rakhmat) dan Perempuan di Titik Nol (Nawal el Saadawi) secara bersamaan
Cerpen
0 komentar:
Posting Komentar