Usia 17 & Tahun 80-an

Ufuk sayap belalang, ilalang tak lagi dilelang. Petang menjelang malam, sorak dentum tabuhan. Lelaki berambut gondrong menjadi sorotan, karena Jurnalistik identik dengan lelaki yang rambutnya terurai atau pun dikepang. Asyik bukan kepalang. Di kala senja, saat menyampaikan lembaran kertas photocopy-an absen dosen bersama sekjen, seorang mojang Tasik yang cekatan dan menjadi panutan. Kami menuju Fakultas Dakwah dan Komunikasi, prodi Ilmu Komunikasi Jurnalistik, sempat tak berkutik. Namun, dosen yang dinanti tiba dengan wajah berlumurkan air wudhu yang menentramkan. Beliau tersenyum kepada kami, seraya mengucapkan tanda terimakasih. Aku dalam naungan asih. Ketika turun dari lantai dua, terlihat salah satu kakak tingkat yang membawa kursi-kursi berwarna hijau, keringatnya bercucuran.
"Mari kita bantu" Sepatah kata yang berakhir restu, tentu membuat kaki terpacu pada deretan anak tangga. Empat lantai bukan kepalang, kursi-kursi hijau yang tadi diduduki oleh para mahasiswa dan mahasiswi di saat seminar 'Kekerasan Terhadap Jurnalistik', tak ada yang memantik dari kaum adam yang mengakui dirinya memiliki totalitas dan loyalitas, hanya ada beberapa yang memiliki prioritas. Ini adalah hal yang keras dan menjadi ciri khas dalam suatu organisasi, di mana orang-orang yang eksis lebih unggul dari pada orang yang bekerja sesuai dengan tugasnya. Satu persatu, kursi dibawa, mengikuti anak tangga. Aku sempat menganga dan tak mengira.
Di lantai empat, tepatnya di aula fakultas. Hampir habis napas, tapi tak mengapa karena ikhlas begitu meretas. Beberapa balikan dari lantai dasar sampai lantai atas, kami bertiga cukup dikuras. Keringat yang lengket dan hentakkan kaki berbalut sepatu skate.
"A masih ada lagi?" dari lantai dua aku bertanya. Ternyata masih ada empat tumpukkan kursi lagi, berarti 16 kursi mesti diangkut kembali. Aku dan Resti si mojang Tasik yang cantik ini belum ingin pulang, karena nurani berungkap harus tuntas. Lalu, kami istirahat sejenak, seraya melihat pemandangan kampus di sela-sela Maghrib dan Isya. Lampu-lampu yang bernuansa oranye menyoroti jalanan dan trotoar kampus. Sejuk, karena saat ini kampus lengang, tiada banyak orang berlalulalang. Ornamen-ornamen bangunan yang di desain seunik mungkin menjadi panorama yang indah. Ternyata kampus lebih indah di malam hari dari pada di siang hari. Mata kami terpacu pada sepeda motor yang dikendarai oleh dua orang kakak tingkat, satu orang di antaranya merangkul beberapa tumpukkan kursi yang diangkut dari aula lama dekat gerbang kampus.
"Aaah, pantesan tereh euy. Aya nu ngabantuan geningan" salah satu dari mereka terdengar napas terengah ketika menyuarakan hal itu kepada kakak tingkat yang hilir mudik membawa kursi ke lantai empat, ya, a Wahyu. Ia adalah kekasih teh Imas yang setia menemaniku saat sakit di kala KOMA. Kami semangat kembali naik-turun tangga. Keringat kami adalah keringat sehat, kemauan kami, bukanlah kemauan yang sesat. Setelahnya kami istirahat kembali dan sharing tentang berbagai problematika perkuliahan. Tawa kami menggema di lantai satu gedung fakultas. Akhirnya kami berhasil tuntas. Mungkin, di luar sana selain a Wahyu dan dua orang kakak tingkat yang membawa kursi menggunakan sepeda motor, masih banyak yang kewalahan akan berlangsungnya acara puncak Jurnalistik Fair, ulang tahun Jurnalistik ke-17 dengan icon tahun 80-an. Ya. Pasti, akan ada orang yang tingkatan capeknya teratas, menengah dan terbawah. Pasti. Di sanalah, terdapat esensi dari jargon kita sendiri.
Aku dan Resti pamit pulang, karena kami tak ingin kehilangan momen bahagia yang terus diulang. Melewati lapangan gazebo, kami disuguhkan angin yang sejuk dan sekaligus mengeringkan keringat di tubuh. Kami pulang ke kosan masing-masing untuk mempersiapkan diri menuju perayaan ulang tahun Jurnalistik ke-17.
Aku dipinjamkan oleh Tisa, baju kemeja yang sangat jadul, ala penyanyi Nike Ardila. Sempat geli ketika bercermin. Ternyata inilah rasanya mencicipi mesin waktu. Ossy, tampil sangat cantik dengan gaun berwarna abu-abunya. Mia, begitu cantik mengenakan baju yang menurut ibunya adalah baju tahun 80-an. Resti, sangat elok memakai celana yang super longgar pemberian dari ibunya. Dan, aku berasa biasa-biasa saja, karena memang aku terbiasa biasa-biasa. Ketika mereka berdandan cantik, aku hanya berias seulas bedak bayi. Ketika mereka terlihat cantik, aku layaknya jarang dipantik. Bukannya aku ingin dipantik, tapi inilah aku upik yang tak cantik. Aku sering berpikir, apakah mereka tidak malu berjalan bersamaku? Mereka selalu tampil menarik dan cantik. Aku perlu berpikir seperti itu, agar aku tahu dan agar aku menjadi tahu.
Saat aku dan Ossy berdiri dan bersandar di tiang-tiang beton pinggir jalan, sambil memakan roti rasa kacang hijau. Terlihat rombongan bangsa orang-orang gondrong yang memakai baju tahun 80-an. Mereka terlihat sangat totalitas, persis seperti manusia yang hidup di tahun itu. Mereka bersorak-sorai, sedangkan aku dan Ossy geleng-geleng kepala sambil tertawa. Lalu, mereka berhenti di pemberhentian aku dan Ossy. Aduh Gusti, sungguh fenomena yang langka. Dan, mereka sangat bangga. Aku dengar mereka berjalan dari manisi sampai kampus islami. Apa kata orang-orang nanti? Ah, biarlah karena kami jurnalistik ini. Sesampainya di ruangan perayaan, kami disuguhi lagu-lagu yang diiringi dengan perkusi. Jargon Jurnalistik Nu Aing!!! Menggema di kehiruk-pikukan dunia malam yang bergeming. Kemudian, pengumuman juara lomba-lomba dari Jurnalistik Fair. Angkatan 2014 memboyong banyak piala penghargaan beserta sertifikat. Menakjubkan, angkatan yang baru menginjak semester dua ini bisa mengalahkan angkatan tahun sebelumnya. Selanjutnya adalah penampilan dari RSJ (Riungan Suwanten Jurnalistik) yang menyanyikan banyak lagu dengan suara yang indah, dan diiringi oleh pak Tw yang mengiringi dengan keyboard serta diiringi oleh Presiden Mahasiswa, kang Dea yang mengiringi dengan saxophone. Begitupun penampilan dari Teater Pena Jurnalistik yang sangat menghibur warga Jurnalistik. Mereka tampil sangat keren, dan membuat kami tak berhenti berdecak kagum serta bertepuk tangan dengan meriah.
Sebagai sarana cuci mata acara ini pun menampilkan fashion show, perwakilan dari setiap kelas. Mereka berlenggak-lenggok dengan pakaian hitam-putihnya, Rieska dan Ricky sebagai perwakilan dari kelasku tampil begitu menawan. Mereka yang rupawan sangat menakjubkan. Semua ini berkat tata rias dari produser terbaik saat perlombaan film pendek se-Indonesia, Rina dan wakil KOSMA si wajah China, Reta. Indah, tentunya saat mereka berjalan menyusuri karpet merah. Bak seorang raja dan ratu di tengah-tengah rakyatnya.
Sebagai persembahan angkatan tahun 2014 kepada warga Jurnalistik, kami meriahkan dengan penampilan flash mob. Saat lagu dimainkan dan menggema ke seluruh sudut ruangan, kami mulai berhamburan dan menari layaknya penari. Tak sedikit dari angkatan tahun sebelumnya ikut serta dalam tarian ini. Mereka bersuka cita, riang gembira dan tak henti bahagia. Acara yang terakhir adalah peniupan lilin bersama-sama, setiap orang di beri satu lilin. Ruang aula ini menyala-nyala oleh terangnya api. Riuh, gemuruh tak pernah usai. Pantulan harmonis ke loyalitasan kami tercipta damai dalam hembusan napas para jurnalis kampus ini. Di umur 17-nya merupakan suatu yang istimewa, dan di umur 17-nya merupakan suatu yang akan dikenang olehku dan oleh seluruh warga jurnal, khususnya mahasiswa/i semester dua. Asap mengepul ke langit-langit, sungguh ini menghanyutkan kami dalam nostalgia yang spekta. Dari pagi hingga malam gulita, dari hati hingga jiwa. KAM17URNALISTIK menjadi bagian indah dalam perjalanan hidupnya menapaki bumi yang tak henti berotasi. Terimakasih, Jurnalistik Nu Aing!!!

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram