Reading
Add Comment
Tahukah?
Ini semacam kesakitan saat memakan batu-batu kerikil,
Tanpa kuah dan tanpa bumbu
Aku mengunyahnya
Lalu, air-air di kelopak mataku terus meriak
Gerahamku kesakitan
Hingga rasanya bercampur
Darah dari gusi-gusi yang terluka
Aku menahannya hingga kedua tanganku memegang erat tanah-tanah yang berserakan
Aku menelannya hingga trakeaku meregang-regang menahan kesakitan
Kedua kupingku pekik mendengar gertakan kerikil yang aku kunyah
Sakit
Lambungku bergejolak
Hingga membusung
Karena dindingnya terluka
Rumah pagi-pagi, Bandung, Januari 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar