Reading
Add Comment
![]() |
| ilustrasi: (Dok.Net) |
Sebuah bela diri yang eksotik, di mana fenomena ini begitu asyik menyelundup di sulbi-sulbi ulul ilmi saat ini. Menjadi sesuatu hegemoni di balik hegemoni yang mereka elus-elus di nalarnya.
Aku sempat bertanya, untuk apa aku kuliah, jika selama ini aku hanya dibodohi, jika selama ini aku hanya didikte ini-itu, jika selama ini aku hanya menuruti aturan?
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Itulah peribahasa yang lucu, karena menurutku semua yang terlihat, terasa, teraba dan terdengar olehku adalah lucu.
Si aku adalah air kencing yang menyiprati tanah, dedaunan, batu, celana hingga kulit mereka.
Maka aku adalah yang lahir dari sekelumit racun-racun di tubuh mereka. Yang tak pernah mereka sucikan, mereka basuh, mereka elus-elus, mereka doakan dan segala yang mereka lakukan, hingga mereka menelanku bulat-bulat.
Di ajaranku, tidak diperbolehkan menunjuk seseorang itu bodoh, goblog, dan begitulah.
Kawan, memikirkan hidup ini terlalu bertele-tele. Maka jika mau cobalah kencing sebagai mana hewan-hewan kencing. Lalu, amatilah, lebih lucu mana cara kencing kita dengan kencing hewan?
Bandung, April 2016
Puisi
Bandung, April 2016
0 komentar:
Posting Komentar