Tadarus Diri

Ilustrasi: (Dok.Net)

Oleh: Mila N. Azizah

Aliran darahku mengidung dalam lentera yang menyala-nyala warna merah, bak merah merona bibir keritingmu. Arwah dedaunan kering mengalun dalam sanubari kekeringan malam ini. Bintang-bintang yang kerdil menanti stimuli dari ventilasi-ventilasi bumi. Tiba-tiba di suatu ruangan yang gelap, hinggaplah cicak-cicak yang sedang kawin, aku ngeri kepada mereka.

Setiap malam aku berpentas sendiri di ruangan ini, sekedar meluapkan dendam-dendam dari sifat si aku yang bisu. Sedangkan, ruangan kecil ini hanya memikirkan tentang jalangkung-jalangkung perawan yang ingin ia jamah dan saling menjamah. Asap-asap itu mengepul di lubang bibirku yang lucu, lalu membentuk kepulan-kepulan serupa bayang-bayang mantan. Argh! Sesekali aku menggelengkan kepala sembari memejamkan sepasang bola mataku.

Di panggung ini aku tidak sedang bersandiwara, karena aku hanya pengemis yang meraung-raung meminta sesuap puisi atau sajak dalam sepi. Punggungku membentuk relief dari tulang-belulang yang saling berpegangan erat. Maka tatkala aku bersandar pada kedinginan dinding, aku sedikit merasa sakit.

Kesendirian ini entah akan usai atau bahkan akan menjadi ketergantungan. Lalu secangkir kopi hitam yang aku seduh menggunakan air hujan itu, menghantarkan kehangatan yang dibuat-buat. Seseruput saja, mantapnya hingga ke ujung kaki. 

Tok tok tok! Suara ketukan pintu itu terdengar harmoni, mulailah tanganku meraih gagang pintu dan membukanya.

Aduhai! Wajahnya begitu syahdu, kata hatiku seperti itu.

Aku bertanya kepadanya tentang mengapa tahu jalan menuju kediamanku. Tapi, dia hanya tersenyum. Rambut sebahunya menyapaku dengan geliat yang manja. Lalu, aku bertanya kedua kalinya untuk pertanyaan yang sama.

“Mengapa kau bisa tahu jalan menuju kediamanku?,”

“Aku tahu ini dari Tuhan, apa yang aku lakukan semuanya otodidak,”

Jawaban perempuan manis itu menggaruk otakku yang tolol. Lalu aku persilahkan dia masuk dan kusuguhi dia secangkir kopi hitam yang telah kuteguk tadi.

“Aku tidak punya apa-apa, minumlah,” kusodorkan gelas itu hampir menyentuh jemarinya.

Matanya tidak berhenti menatapku, dia tidak berkedip sedikit pun. Hatiku menggigil. Tubuhku yang kurus pun ikut-ikutan menjadi sangat menggigil. Kemudian, dia meminumnya dengan sangat pelan, hingga aku merasakan kemesraan di lumernya kopi itu, di bahamnya yang imut itu.

“Apakah saat mencintaiku pun, itu murni dari Tuhan? Otodidak juga?,” aku belum pernah sepenasaran ini, mempertanyakan sesuatu yang bisa membuatku layu.

“Semua yang aku lakukan adalah otodidak, untuk mencintai, merindu, membenci, dan sebagainya kita tidak harus les, tidak harus ada bimbingan. Bahkan untuk menangisimu pun aku tidak belajar kepada siapa-siapa, Tuhan dan hatiku tahu. Maka aku menangisimu habis-habisan,” ia menjawabnya begitu tenang. Seketika kepulan asap di bibirku menganga.

“Aku tidak pernah belajar sepi kepada siapa pun, aku tidak memiliki guru kesepian. Karena nanti aku akan tidak menyukai tugas-tugasnya, yang harus dipresentasikan di depan kelasku, tidak! Tidak sama sekali!,” tiba-tiba nadanya meninggi. Aku memadamkan rokokku dengan menekan baranya di atas meja.

“Lalu kepergianmu juga karena Tuhan? Atau memang ada guru kepergian yang telah kamu usaikan tugas-tugasnya?,” 

“Kamu adalah guru kepergianku,” bibirnya menyulut di kedalaman malam ini.

Kemudian perempuan itu pergi bersama asap rokok yang padam, asap yang kian menipis. Dan menghilanglah. Tapi, dirinya masih syahdu di hatiku.

***

Kedua tanganku mengusap wajah yang berminyak. Aku mendesah kepada Tuhan. Tolong kirim aku guru ketuhanan. 

***

Di Rabu, tiba-tiba aku rabun pada Rabulizat. Lalu aku melihat pepohonan di luar jendela dan aku membayangkan Thinker Bell sedang memperbaiki suatu perkakas dengan percikan emas. Telinganya yang runcing pertanda dia jin. Tiba-tiba dia melihatku, matanya merah marak. Aku masih dalam lamunan. Aneh, mungkinkah Tuhan pun menciptakan peri-peri semacam Thinker Bell?



Masih Rabu, di kelas. Sendiri. Tiba-tiba puluhan kursi merangkak dengan keempat kaki yang bertentakel, perlangkahnya menimbulkan bunyi lengket, clak! clak! clak! Teruslah seperti itu. Kemudian angka-angka jam dinding berubah menjadi bibir-bibir yang merah dan mulai meneriaki jarum jam. Sabar?! Seperti itukah? katanya. Seisi ruangan menjadi gelap keungu-unguan. Mataku menjenuh, hatiku terenyuh. 



Keramik-keramik itu menjadi rawa-rawa dan tumbuhlah tembakau-tembakau berkualitas. Kemudian ribuan Thinker Bell turun dari langit-langit kelas yang telah berubah menjadi lempengan tanah. Kursi-kursi tadi berubah menjadi cumi-cumi, bibir-bibir tadi berubah menjadi ikan, dan jarum jam berubah menjadi pancingan.



Lantas aku duduk di atas dahan tembakau yang besar dan mulai memancing ikan dan cumi-cumi. Thinker Bell-Thinker Bell itu melempariku batu-batu kecil terbuat dari pasir yang mereka cetak sedari tadi. Aku kesakitan, pancingan itu segera melilit tanganku dengan mudah, ikan-ikan mulai menggigit kulitku, dan cumi-cumi mengikat kakiku dengan akar tembakau sangat kuat. Sedangkan, dahan tembakau melemparku dan menembus lempengan tanah menuju ke tempat semula aku duduk. Tadi.



Selalu Rabu, pak tua yang kurus dan rambutnya telah beruban, mendikteku atheis. Lalu aku membalikan pernyataannya. Aku beragama tapi tak bertuhan, bapak bertuhan tapi tak beragama, mengapa? Karena nabiku tidak pernah mendikte seseorang itu kafir atau tidak mengenal Tuhan, tanpa nabi mengetahui kondisi iman seseorang. Berarti kita seri pak, sama-sama masuk neraka!



Lalu pak tua itu diam, diam, dan diam. Aku melanjutkan imajinasiku dengan ruangan ini. Karena aku sedikit tuli padanya.



***

Entah kenapa dengan Rabu, awan-awan yang bergelantungan tiba-tiba saja menjadi gulita. Mungkin matahari dengan laut sedang bersetubuh. Merobek uap-uap yang bersemayam dengan tenang. Menelanjangi fatamorgana yang sedang menari-nari. Dan, menumbuhkan luka di dalam hati.

***

Setiap malam aku selalu berdendang di panggung ini. Memetik gitar, lalu sendirilah. Masih bersama rokok dan kopi. Yang jelas aku tidak pernah meminum khamr yang kata mereka mampu membuatku nangis sejadi-jadinya. 

Jendela di bibir kamarku meneduhkan. Mataku telah lama tidak tidur. Jemariku masih memetik senar-senar gitar, mengalunkan lagu-lagu lawas milik Deddy Dores, Tommy J. Pisa, dan Muchlas Adi Putra yang suaranya selalu asyik.

Malam lalu masih aku pikirkan, tentang seorang guru kepergiannya, aku. Padahal saat itu aku sedang sendirian, bersama guru sendiriku, aku. 

Semuanya masih aku, selalu aku. Tingkat keegoisan stadium akut. Membaptis akunya aku menjadi aku yang seperti ini. Tidur panjang dalam keakuan yang rapuh. Perempuan itu adalah aku, aku dalam imajinasi. Tetapi tanpa itu kisi-kisi hidupku tak akan terkuak.

Saat ini aku sedang menyusun lego kedamaian. Masih di ruangan dan di raungan yang sama.

Tok tok tok! Bunyinya melemah di suara tok ketiga. Lalu aku meraih gagang pintu dengan perlahan. 

Wah, kamu lagi. Gumamku dalam hati. Lantas dia masuk dan menutup pintu. Di balik punggung pintu itu aku menatap matanya dalam-dalam. Dia merengkuhku begitu erat, air matanya menetes di pundakku yang kurus. Dingin. 

“Maaf, aku ingin kau menjadi guru kematianku, matikanlah aku dalam imajinasimu, aku ingin aku hidup dikenyataanmu, matikanlah aku guru kepergianku! Matikanlah aku!,” dia memukul-mukul punggungku di atas puing-puing lukanya. 

Kemudian dia merasuki tubuhku, dan kembali menjadi aku yang utuh. Setelah itu aku berdiri menatap cermin di hadapanku. Bayangan di cermin itu berkata, menangislah! Hatimu sedang rusak. Lantas, aku menangis sejadinya. Bibirku gemetar. Tuhan, gilakah aku? Aku gila Tuhan? Gilakah aku Tuhan? 

Air mataku hangat berselancar di pipi yang pucat kedinginan. Aku tersudut di dinding ruangan ini. Ruangan tempat aku bersemedi. Ruangan tempat aku menikmati sebuah perjumpaan dengan-Nya dan dengan dirinya. Dalam buih-buih muhasabah. Dalam keringkihan sebuah iman. Tuhan dan perempuan tidak pernah terlepas dariku. 

***

Napasku tersendat-sendat, karena di pikiranku sedang terjadi kisruh antara saraf satu dengan saraf yang lainnya. Mereka saling berteriak, saling memaki, saling menodai, saling benci, semuanya berontak. Mereka sedang berdemo, masing-masing individunya memakai toa. Saling mempertanyakan hak kepada majikannya yang tolol. 

Lalu aku beronani dalam sejarah hidupku. Memakai payung-payung yang dijadikan tongkat. Yang mengelus-elus emendasi pada aksioma yang menakjubkan. Aku bermasturbasi dalam kerumitan hidup di dunia, semua orang mempertanyakan kebenaran Tuhan, mempertanyakan dirinya mengapa, dan mempertanyakan persoalan-persoalan yang membuat mereka sakit, sakau, dan galau.

Setelahnya aku bertadarus pada hatiku yang tandus. Mengendus pertikaian batin dan jiwa. Dengan ayat-ayat yang mutlak kebenarannya.

***

Di keesokan harinya aku berjalan di trotoar kampus dengan kondisi jiwa seadanya, kawan-kawanku antusias menyapaku dan mendekatiku dengan cepat. Aku bersama mereka berkumpul di atas tembok-tembok yang kesepian. Berdiskusi tentang sesuatu yang tenar saat ini, tentang apa pun itu. Di sela-sela diskusi, ada seorang perempuan yang mirip dengan si dia, namun dia berhijab. Tersenyum kepadaku.



O Tuhan, jantungku berdebar.

*Diadaptasi dari puisi Tadarus Diri karya penulis

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram