Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (dok.net) |
Tenggorokan bumi membuncah menata sore menjadi sebuah timbre, di lekukan tubuh gunung aku bersandar diselimuti akar-akar yang lembut. Bantalku lapislazuli yang empuk, menengadahkanku pada langit yang sakit karena influenza.
Aku sebatang makhluk lupa berkokok, lupa menggigit, dan lupa tertidur. Aku manusia yang sering lupa kepada Yahwe, kepada yang Agung, dan kepada yang Esa.
Lalu semua ciptaan-Nya menjauh dariku, maka aku pun sendirian menatap hujan, meraba angin, dan membelai fatamorgana. Dalam sebuah buku yang entah apa judulnya, aku membaca bahwa perempuan adalah lelaki yang tak sempurna. Maka bagiku, permpuan yang sempurna adalah lelaki yang hilang dari dalam dirinya.
Semakin larut Tuhan menata sore-Nya menjadi sebuah jingga yang menggila, Aku pun bergita puja dalam sanubariku. Oh semesta, sepertinya malam akan segera kusembunyikan di dalam tenggorokanku. Agar sore tak cepat menghilang.
Tapi aku ingin menghapus ingusnya langit jingga, lalu terus kuhapus hingga langit menjadi tipis dan berlubang, lantas aku ingin bersembunyi di dalamnya, biar semua huru-hara hidup ini tak kuingat lagi, terlebih sore pada tulang rusuk itu.
2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar