Tenang

Ilustrasi; dok.net



Tadi, aku mendekapmu dalam berbait-bait doa. Tapi aku adalah pendosa yang akut. Sedikit-sedikit resah. Sedikit-sedikit bimbang, seperti sajak yang akan aku kirimkan kepada dia atau jangan.

Tenang, di sudut jemari doa itu, aku melihatmu di kejauhan, tanpa indera penghilat. Hanya sebatas instuisi yang tegang, menyodorkan rasa itu kepadaku.

Duduklah setenang hujan, yang merembes menuju ufuk bumi. Aku jauh, tapi di lauhul mahfudz telah tertulis, aku berdoa di kejauhan untuk siapa. Tuhan memiliki rencana yang lincah dan memesona.

Tersenyumlah setenang pelangi, satu-satunya bayangan yang menunggu hujan sampai usai. Menanti badai sampai usai. Tersenyumlah setenang aku mendoakanmu.

Cicalengka, 2016 

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram