Jika menumpahkan sumpah, aku bukanlah sampah.
Aku berdiam diri bukan berarti aku jengah dan menyerah.
Menjadi tawanan rindu, yang kau pacu pada titik tumpu.
Dari sunyi menjadi bunyi.
Aku hanya si pemungut mimpi, merekrut diri & bersembunyi.
Tikamlah aku dalam asmaramu.
Asalnya elips hitam.
Namun, kau merubahnya dengan mengambil gabungan titik luar.
Menjadi bawah lancip dan berbentuk dua gunung yang tumpul.
Namun, tetap hitam tapi tak merajam, hanya terlihat muram dan seram.
Melankoli semu.
Jika ini anugerah, mungkin berubah.
Takkan hitam dan takkan semu.
Bringas, seperti baranya api yang tak pernah padam dan bringas.
Hipokampus dan trakea ini.
Aorta dan arteri ini.
Bagaikan gudang merah yang meronta.
Dentum, denting.
Lintang, bintang.
Hujan ini hanya air.
Sama seperti tangisan. Hanya air.
Melankoli semu yang tak sepenajang sumbu dan tak sebulat jambu.
Tidak ada tempurung kura-kura untuk penyangga batin, bahkan penyangga bumi
Tidak ada boomerang yang bisa kembali, setelah di lempar.
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar