Upik seperti aku ini, bukan rentan jatuh cinta.
Bukan tentang dunia yang keras.
Bukan juga aturan yang terjerat.
Aku hanya upik yang telah lama memendam cinta.
Tuhan, adakah pria yang mencintaiku?
Durja di setiap kepingan cinta luka.
Akulah yang merasai selama itu.
Selama kau mendorongku untuk berkelana di dalam dunia penantian.
Mohon tirulah gayaku menunggu.
Jika aku berkata seperti itu,
Tidakkah kau merasa terpaksa mencintaiku?
Mungkin kau mengerti, mengapa aku diam?
Tuhan, adakah pria yang mencintaiku?
Yang aku cintai.
Tanpa mengambil dan meremas jantungku.
Hingga aku sakit, mati.
Tuhan, adakah pria yang mencintaiku?
Adakah dia menungguku? Merindu dan mengadu pada-Mu?
Jika takdirku sebagai seorang penanti.
Namun kenapa Tuhan? Ini terlalu pedih.
Sampai kapan?
Entahlah...
Sampai kapan pun.
Jika kau adalah takdirku.
Aku akan menunggumu sampai aortaku lelah.
Sampai lembayung senja tak dapat ku lihat.
Hingga denyut nadiku beranjak.
Tuhan, adakah pria yang mencintaiku?
Aku menuggunya di sini.
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar