Reading
Add Comment
Oleh: Mila N.
Azizah
Ilmu merupakan wadah pengetahuan
yang mampu membuat manusia mengasah kemampuan akalnya untuk berpikir lebih jauh
dan lebih luas mengenai suatu paradigma tertentu. Keberadaan ilmu di muka bumi
tidak lain hanya untuk menjadi pangan sehari-hari. Ilmu tidak akan habis
digunakan dan tidak akan lenyap di makan
zaman. Karena ilmu bersarang di setiap sel-sel kehidupan manusia dan bersarang
di setiap sudut elemen dunia.
Dalam Q.S Al-Mujadalah ayat 11,
Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang beriman apabila
dikatakan kepadamu: “ Berlapang-lapanglah
dalam majlis”, maka lapangkanlah niscaya
Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “ Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang
beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Dalam firman tersebut
betapa Allah memberikan ganjaran yang luar biasa hebatnya, yakni ditinggikannya
derajat seseorang yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan. Ilmu merupakan sesuatu yang lezat sebagai
santapan setiap jiwa, tatkala langkah kaki bergerak menuju dimensi di mana rasa
lapar dan dahaga ingin memiliki ilmu merogoh nafsu.
Manfaatnya
ilmu menjadi suatu penolong bagi umat manusia setelah jiwanya tak lagi di bumi.
Ilmu yang bermanfaat dan dimanfaatkan pahalanya mampu menembus ukhrowi. Dalam artian selain amal
perbuatan, ilmu yang bermanfaat pun dapat menjadi penolong di akhirat kelak. Untuk
mendapatkan ilmu, kita harus mencari. Bahkan nasihat menyebutkan “carilah ilmu sampai ke negeri Cina” dan
“carilah ilmu dari buaian sampai ke liang
lahad”. Hal tersebut menandakan bahwa ilmu harus dicari, dimiliki dan
dimanfaatkan sebanyak-banyaknya hingga jiwa melepas nyawa.
Lembaga
pendidikan merupakan majelis atau akses untuk mendapatkan ilmu, sekaligus
memroses tentang bagaimana ilmu dapat diaplikasikan sebagaimana mestinya. Di
Indonesia terdapat ribuan lembaga pendidikan yang berlomba-lomba untuk menjadi
salah satu institusi terbaik melalui perkembangan ilmu pengetahuan yang
dimilikinya. Pada dasarnya, lembaga pendidikan di Indonesia memiliki prinsip
yang sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kondisi
pendidikan di Indonesia saat ini masih membutuhkan gebrakan baru tanpa
membobrokan paradigma ilmu itu sendiri. Semacam ideologi yang semakin membumi
di kalangan masyarakat Indonesia, bahwa sekolah adalah untuk mencari pekerjaan.
Maka mayoritas dari para pelajar termasuk mahasiswa Indonesia adalah untuk
mendapatkan ijazah, sebagai salah satu syarat melamar pekerjaan. Dari sini kita
mengkaji, bagaimanakah mengembalikan paradigma ilmu dari segi ideologi dan
kenyataan?
Berangkat
dari semua itu, pengaruh dari tantangan mencari ilmu dengan sangat mudah merasuki
setiap jiwa dan menjadi sulit disangkal.
Misalnya, pengaruh dari tayangan televisi tak berbobot, pengaruh
perkembangan media elektronik komunikasi yang semakin membumbung tinggi.
Lantas, kenapa hal itu terjadi? Sebab kalangan terpelajar di negeri ini hanya
mencari ijazah, maka yang didapatkan
hanyalah persenan absen, nilai yang tidak murni dan kepuasan memiliki
titel tanpa mempertanggungjawabkan ilmu itu sendiri.
Bayangkan
saja tentang bagaimana tayangan televisi tak berbobot yang seenaknya menyuntikan
noktah-noktah akhlak buruk kepada masyarakat, siapa yang bisa menyangkal ketika
mayoritas orang yang berpendidikan dan terpelajar pun menjadi korban pembodohan
bangsa ini. Dan kita bisa merasakan sendiri dampak apa yang terjadi di kalangan
masyarakat saat ini. Kemudian di saat pesatnya teknologi komunikasi dan
informasi, apa saja yang sering diakses oleh penggunanya? Tak ada kata lain
selain dari membuka media sosial yang menjadi wadah eksistensi bagi mereka dan
lebih sering membuka situs porno daripada situs-situs yang menuangkan bidang
keilmuan, hanya 5:100 yang bisa mengontrol semua ini ke arah yang lebih baik.
Mengembalikan
pardigma ilmu merupakan tantangan besar kita yang harus diperjuangkan dengan
menyebarkan ideologi-ideologi tentang bagaimana ilmu harus
dipertanggungjawabkan dari mencari hingga menebarnya. Sehingga orang-orang
berilmu mampu menyangkal doktrin-doktrin buruk yang melumpuhkan kondisi wadah
mencari ilmu dan pencari ilmu itu sendiri.
Opini
0 komentar:
Posting Komentar