Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Perlukah aku menangisi ini?
Senin, kau telah hancurkan dustaku
Melawan jurus macet di pagi haru
Senin, kau telah hancurkan dustaku
Melawan jurus macet di pagi haru
Hari jenuh ini menghimpit termometer
Perlukah aku menangisi ini?
Senin, kau lagi!
Senin, kau lagi!
Aku meronta dalam rongga binasa
Menumpahkan garam manis di labuhan
Menumpahkan garam manis di labuhan
Tanganku menyeka segelintir air
Mataku perih dan berkedip beberapa kali
Mendusta di fajar hari
Melihat sosok rembulan sabit yang meredup
Mendusta di fajar hari
Melihat sosok rembulan sabit yang meredup
Menyelimuti jemari dengan asap
Asap polusi di pinggir pasar tumpah
Di alun-alun Cicalengka
Yang tiarap menghela helaian uang
Asap polusi di pinggir pasar tumpah
Di alun-alun Cicalengka
Yang tiarap menghela helaian uang
Aku dan Senin
Di indra pendengarku
Adalah dusta
Yang paling dusta
Di indra pendengarku
Adalah dusta
Yang paling dusta
Di mana orang-orang
Memunafikan dirinya
Bangun tergesa
Memunafikan dirinya
Bangun tergesa
Bandung, Maret 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar