Reading
Add Comment
Bertengger di
depan pintu angkot hijau
Alunan ukulele
mengulum sore
Dalam lelaguan
kritik pada bangsa
Ia menceritakan
kekelaman bangsanya
Lewat nada-nada
serak
Di antara
lidah yang dibarbel
Kemudian lehernya
membuat relief urat-urat
Aku melihat
matanya
Seolah ia
bertanya
Tuhan, kenapa
aku dilahirkan seperti ini?
Dan, kenapa
Kau menunjukkan jalan ini?
Padahal babi
pun seperti itu
Ia pun
bertanya
Tuhan,
kenapa aku dilahirkan sebagai babi?
Dan, kenapa
Kau melabelku haram?
Semenjak itu
aku bertanya pula
Tuhan,
apakah aku hanya pengamen
Yang meminta-minta
pada-Mu
Dengan semburan
lagu kritik di doaku
Dan Tuhan,
apakah aku hanya babi?
Yang hanya
berpikir sebagai babi
Yang hanya
mempertanyakan statusnya
Tentang halal
atau haram
Lalu angkot
itu berhenti menurunkannya
Dan melaju
lagi
Bandung,
Maret 2016
0 komentar:
Posting Komentar