Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Cahaya itu mengiringku
Pada kurungan kulit-kulit tebal
Tadi kita bertemu
Bertiga di jajaran yang sama
Bulan menceritakan kisah selingkuhnya kepada matahari. Kisah-kasihnya yang telah lama bertahan berabad-abad, membuatnya jenuh.
Matahari dalam panasnya, menceritakan betapa bumi mencintai raja malam. Sedang, para galaksi menyaksikan cakrawala yang semakin gulita. Tentang siapa yang sulit bertemu, tentang siapa yang menahan rindu.
Bulan menangis terisak, lalu matahari memeluknya erat. Menerima semua yang terjadi dengan ketulusan hati. Sedangkan bumi masih terlelap, tatkala mereka saling mengadu pada rindunya.
Sejenaklah duduk bersamaku
Sembari menikmati sayup-sayup kasih
Nanti aku ceritakan tentang penciptaan
Entah kau Hawa yang tercipta dari sulbi Adam
Tapi kita tak berkelamin
Dan kita bukan LGBT
Lantas, duduklah sejenak bersama
Aku akan menunjukan siang versi malam
Sejenak saja
Nanti akan ku kisahkan tentang gambar nenek-nenek yang ada di tubuhku
Entah itu bayangmu, atau memang nenek-nenek yang bermain dengan kucing
Peluklah aku, jaketku sudah longgar
Setiap malam aku insomnia
Memikirkanmu cahayaku
Maka aku datang padamu
Untuk meminta kehangatanmu lagi
Yang akan ku simpan di lubang-lubangku
Dan, selebihnya aku rindu padamu
Biarlah, nanti aku akan ceritakan semua ini pada bumi. Tentang pertemuan kita. Biarlah kau dan aku menjalin persahabatan dengannya. Bahkan jika kau bersedia ku poligami aku akan melakukannya.
Bandung, gerhana matahari total 2016 Puisi
0 komentar:
Posting Komentar