Nadia

Merelai dua kondisi psikologis yang sama. Menceritakan haru biru kehidupan, kepada kura-kura aku bersimpuh dalam tempurungnya. Bukan mengasingkan diri, hanya tak biasa berlama-lama dengan keramaian, berjingkrak-jingkrak bersama orang-orang yang menuntut popularitas. Mulailah kutemukan seseorang yang sama denganku, yang memberanikan diri menyepi dalam keterasingan. Toh, berlama-lama dengan mereka takkan menyelesaikan semuanya jika tak ada seseorang yang sepadan denganku.

Rambut-rambut dewa  dikepang dengan jarum-jarum kait, seolah merajut kepiawaian sulaman tengkuluk. Semerbak menyiurkan helaian kain sutra pada sadran. Lalu, aku menanyakan kepada Tuhan tentang siapa yang sama denganku. Ternyata Nadia hadir, dalam kepolosan air mukanya. Bagai manik-manik langka yang mahal harganya.
Kebisingan membuatku gundah, membuatku jengah. Olakan pada getah-getah pohon karet semakin lengket. Terkadang aku menghela napas dengan tarikan yang dalam dan menutup dua telingaku. Nad, benarkan kita sesepi ini? Seasing ini?

Lalu, Nadia menceritakan keterasingannya di masjid Iqomah. Sedang dua telingaku tuma’ninah mendengarkannya. Sembari menyilangkan kedua kaki dan berbincang ngalor-ngidul tentang hidup yang semenjak itu luka melunasi tangis dengan tunai.

Nadia bersandar di tiang beton sambil mengunyah lontong yang dibeli pagi tadi. Pertemuan kita di ujung gedung kampus. Mengantarkan Nadia menuju pemikiranku yang mampus.
Kekasihnya seusia denganku karena lahir di hari, tanggal, dan tahun yang sama, tapi aku tak pernah bertemu dengannya. Nad, aku tidak akan terpesona, kalau pun ia menggoda. Kita satu spesies tapi beda selera, tenang saja. Asalkan dia jangan tiba-tiba menjadi gondrong.

Ajakan mendaki ke gunung, acap kali hanya anggukan kepala belaka. Entah! Nanti sajalah setelah aku benar-benar pulih dalam keringkihan. Aku juga ingin menulis puisi di ketinggian, untuk seseorang yang lama tidak berjumpa, untuk seseorang yang masih dirahasiakan Tuhan, untuk seseorang yang aku rindukan kehadirannya. Siapa pun itu aku tidak tahu, yang jelas aku berlama-lama sendiri adalah untuk bertemu dengannya. Lalu Tuhan menalikan nadiku dengannya.

Nad, bukankah negeri Sakura tujuan kita? Akankah kita melakukan hal gila di sana? Atau sekedar membuang angin di musim dingin yang bersalju?

Bandung, Maret 2016. Balasan untuk http://nadiadestimanika.blogspot.co.id/?m=0 

3 komentar

  1. Ah gawat. Takkan ku biarkan kekasihku gondrong kalau begitu. 😄✌Wkwk tengkyu mileaaa

    BalasHapus
  2. Ulah Nad, bisi abi bigih haha 😁

    BalasHapus

My Instagram