Reading
3
Comments
Merelai dua kondisi
psikologis yang sama. Menceritakan haru biru kehidupan, kepada kura-kura aku
bersimpuh dalam tempurungnya. Bukan mengasingkan diri, hanya tak biasa
berlama-lama dengan keramaian, berjingkrak-jingkrak bersama orang-orang yang
menuntut popularitas. Mulailah kutemukan seseorang yang sama denganku, yang
memberanikan diri menyepi dalam keterasingan. Toh, berlama-lama dengan mereka
takkan menyelesaikan semuanya jika tak ada seseorang yang sepadan denganku.
Rambut-rambut dewa
dikepang dengan jarum-jarum kait, seolah merajut kepiawaian sulaman
tengkuluk. Semerbak menyiurkan helaian kain sutra pada sadran. Lalu, aku
menanyakan kepada Tuhan tentang siapa yang sama denganku. Ternyata Nadia hadir,
dalam kepolosan air mukanya. Bagai manik-manik langka yang mahal harganya.
Kebisingan membuatku gundah, membuatku jengah. Olakan pada
getah-getah pohon karet semakin lengket. Terkadang aku menghela napas dengan
tarikan yang dalam dan menutup dua telingaku. Nad, benarkan kita sesepi ini? Seasing
ini?
Lalu, Nadia menceritakan keterasingannya di masjid Iqomah. Sedang
dua telingaku tuma’ninah
mendengarkannya. Sembari menyilangkan kedua kaki dan berbincang ngalor-ngidul tentang hidup yang
semenjak itu luka melunasi tangis dengan tunai.
Nadia bersandar di tiang beton sambil mengunyah lontong yang
dibeli pagi tadi. Pertemuan kita di ujung gedung kampus. Mengantarkan Nadia
menuju pemikiranku yang mampus.
Kekasihnya seusia denganku karena lahir di hari, tanggal,
dan tahun yang sama, tapi aku tak pernah bertemu dengannya. Nad, aku tidak akan
terpesona, kalau pun ia menggoda. Kita satu spesies tapi beda selera, tenang
saja. Asalkan dia jangan tiba-tiba menjadi gondrong.
Ajakan mendaki ke
gunung, acap kali hanya anggukan kepala belaka. Entah! Nanti sajalah setelah
aku benar-benar pulih dalam keringkihan. Aku juga ingin menulis puisi di
ketinggian, untuk seseorang yang lama tidak berjumpa, untuk seseorang yang
masih dirahasiakan Tuhan, untuk seseorang yang aku rindukan kehadirannya. Siapa
pun itu aku tidak tahu, yang jelas aku berlama-lama sendiri adalah untuk
bertemu dengannya. Lalu Tuhan menalikan nadiku dengannya.
Nad, bukankah negeri Sakura tujuan kita? Akankah kita
melakukan hal gila di sana? Atau sekedar membuang angin di musim dingin yang
bersalju?
Bandung, Maret 2016. Balasan untuk http://nadiadestimanika.blogspot.co.id/?m=0
Puisi
3 komentar
Ah gawat. Takkan ku biarkan kekasihku gondrong kalau begitu. 😄✌Wkwk tengkyu mileaaa
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusUlah Nad, bisi abi bigih haha 😁
BalasHapus