Sekolah

Ilustrasi: (Dok.Net)
Tak mengapa jika angin ini menjadi juri di setiap pentas-pentas kehidupan. Riuh rendah seseorang di dalam pasaran, terbujur kaku. Biarlah, ia pergi menuju kehidupan selanjutnya. Aku adalah pagi yang sebahagia ini, memakai topi bertuliskan Tut Wuri Handayani. Menyaksikan teman-teman sebayaku diantar oleh ibunya atau bapaknya atau kakaknya. Padahal di dalam pasaran nanti kita sendiri.

Aku disekolahkan di sekolah Persis, ibu-bapak dan kakakku Syi’ah, di sekelilingku orang-orang Aswaja, sanak-saudaraku Sunni, tetanggaku berpaham Tareqat Naqsabandiyah, guru-guruku selalu Huruz dan istri-istrinya mengenakan cadar, teman-temanku doyan dugem, sahabat-sahabatku berkerudung syar’i, dan adikku disekolahkan di sekolah Muhammadiyah.

Lalu orang-orang menyeruku untuk segara shalat. Kataku insya Allah dan kuberi mereka senyuman termanis.

Bandung, Maret 2016

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram