Tadarus Diri

Di Rabu, tiba-tiba aku rabun pada Rabulizat. Lalu aku melihat pepohonan di luar jendela dan aku membayangkan Thinker Bell sedang memperbaiki suatu perkakas dengan percikan emas. Telinganya yang runcing pertanda ia jin. Tiba-tiba ia melihatku, matanya merah marak. Aku masih dalam lamunan. Aneh, mungkinkah Tuhan pun menciptakan peri-peri semacam Thinker Bell?

Ilustras: (Dok.Net)

Masih Rabu, di kelas. Sendiri. Tiba-tiba puluhan kursi merangkak dengan keempat kaki yang bertentakel, perlangkahnya menimbulkan bunyi lengket, clak! clak! clak! Teruslah seperti itu. Kemudian angka-angka jam dinding berubah menjadi bibir-bibir yang merah dan mulai meneriaki jarum jam. Sabar?! Seperti itukah? katanya. Seisi ruangan menjadi gelap keungu-unguan. Mataku menjenuh, hatiku terenyuh. 

Keramik-keramik itu menjadi rawa-rawa dan tumbuhlah tembakau-tembakau berkualitas. Kemudian ribuan Thinker Bell turun dari langit-langit kelas yang telah berubah menjadi lempengan tanah. Kursi-kursi tadi berubah menjadi cumi-cumi, bibir-bibir tadi berubah menjadi ikan, dan jarum jam berubah menjadi pancingan.

Lantas aku duduk di atas dahan tembakau yang besar dan mulai memancing ikan dan cumi-cumi. Thinker Bell-Thinker Bell itu melempariku batu-batu kecil yang terbuat dari pasir yang mereka cetak sedari tadi. Aku kesakitan, pancingan itu segera melilit tanganku dengan mudah, ikan-ikan mulai menggigit kulitku, dan cumi-cumi mengikat kakiku dengan akar tembakau dengan kuat. Sedangkan, dahan tembakau melemparku dan menembus lempengan tanah menuju ke tempat semula aku duduk. Tadi.

Selalu Rabu, pak tua yang kurus dan rambutnya telah beruban, mendikteku atheis. Lalu aku membalikan pernyataannya. Aku beragama tapi tak bertuhan, bapak bertuhan tapi tak beragama, mengapa? Karena nabiku tidak pernah mendikte seseorang itu kafir atau tidak mengenal Tuhan tanpa nabi mengetahui kondisi iman seseorang. Berarti kita seri pak, sama-sama masuk neraka!

Lalu pak tua itu diam, diam, dan diam. 
Aku melanjutkan imajinasiku dengan ruang kelas ini
Karena aku sedikit tuli padanya

Bandung, Maret 2016

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram