Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Hujan jam segini
Jas hujan bagai daun talas
Tak setetes pun
Air meresap
Tapi di antara erangan motor di jalanan
Jari-jarinya kesakitan
Ia berputar terus, melawan arus
Rintikan air yang kurus
Jalanan terasa sunyi
Bagai jiwa spiritual yang rugi
Aku menunduk sepi
Manatap trotoar keji
Aku menunduk sepi
Manatap trotoar keji
Aku berjalan terus
Punggungku ditunggangi tas berat
Kenapa langit menangis kepadaku?
Kenapa langit menindihku dengan air-air ini?
Aku terus berjalan di antara banyak tanya
Tanya tentang aku, kamu, dan langit yang menangis
Hujan jam segini
Lagi, lagi
Bandung, Maret 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar