Reading
Add Comment
Saat harus
meminjam cahayanya
Mentari tak
pernah marah
Saat harus
meminjamkan cahayanya
Si jejaka
pedih menelusuri trotoar sunyi
Sembelihlah
udara dengan pisau bayangnya
Membelah
cahaya dengan gagahnya
Pintanya,
hanya mati
Menantikan
rintik tangisan gerhana
Ia
menengadah pada langit
Menguak
helaan napas jeranya
Pada
kekosongan penopang angin
Bumi tak
pernah sakit
Bahkan tak
pernah berkeringat
Tutupilah
kedua matamu
Tatkala
harus menyusun lego kematian
Selama ini,
si jejaka pedih
Berduka di
arah ufuk gerimis
Kompas
rindunya rusak
Lantas,
begitu saja seterusnya
Menantikan
rintik tangisan gerhana
Mungkin
keduanya akan sakit
Menjemput
ajal sang bumi
Dan
menyaksikan Izrail mencabut nyawanya
Bandung,
Maret 2016
0 komentar:
Posting Komentar