Adiw Penerjemah Hati Bumi

Ilustrasi: (Dok.Net)

BUMI KITA MATI

Oleh: Adi Maulana Ibrahim

Aku terbakar
Api pertikaian
Berebut lahan tuk dihancurkan
Hijau tergerus abu-abu
Gedung-gedung menjulang
Tiang-tiang menancap perutku
Aku menangis, mereka tertawa

Ludah api memangsa
Perutku bergetar
Gedung ambruk terbakar
kocar-kacir
Aku tertawa, mereka menangis
Bersujud pada-Nya meminta belah kasih

Selamat hari bumi

***

Beberapa bulan lalu Adi Maulana Ibrahim atau akrab dipanggil Adiw resmi dilantik sebagai Presiden Mahasiswa (Presma) BEM-J Jurnalistik 2016 dan beberapa hari yang lalu, tepatnya di acara Milangkala JAS (Jaringan Anak Sastra) ke-1 di DPR (Di bawah Pohon Rindang) sempat bertemu dan berbincang bersama kawan-kawan pecinta puisi. Saat itu sore dan hujan, lalu kami berteduh. Di sana kami berbincang tentang puisi. Sampai akhirnya kami berpindah tempat ke kantin SC (Student Center).

Maghrib dan masih gerimis. Setibanya di kantin, Halim, Alda, Nizar, Syifa, dan Aziz pesan baso tahu yang enak itu. Memang saat hujan dan dingin baso tahu menjadi sangat mantap. Aku sendiri tidak memesan apa-apa, lagi diet (haha). Sedangkan, Adiw bersama rambut kepangnya seperti kehausan menghisap rokok.

Di sana kami masih membahas puisi.

***
Aku jatuh hati pada Bumi Kita Mati. Pertama kali aku membaca di line-nya Adiw, terus pagi tadi di akun instagram @rumahpuisi, dan puisinya aku ambil blog pribadinya. Kenapa aku jatuh hati pada Bumi Kita Mati? Karena Adiw dalam puisinya berfungsi sebagai penerjemah hati ‘bumi’, bumi yang terbakar, bumi yang hancur, bumi yang menangis, dan bumi yang tertawa.

Dalam puisi itu tersirat makna yang mendalam. Seandainya manusia terus merusak aku, aku akan membalasnya, meski aku rusak karena aku, meski aku dihancurkan Tuhan, yang penting mereka harus sadar. Sampai mereka memperlakukan aku sebagai bumi dan bersyukur kepada Tuhan.
Bukan hanya bersyukur, tapi sekaligus bertaubat.
Dahsyat. Geleng-geleng kepala sendiri jadinya.

Bumi Kita Mati ini, menurutku membicarakan kehidupan bumi yang mati karena 'kita', tapi yang mengagumkan adalah bukan 'kita' yang bicara di puisi itu, melainkan bumi itu sendiri. Ini adalah puisi muhasabah, bayangkan saja jika bumi bisa berbicara dengan kita, maka siapa yang tumaninah telinganya mendengar? 

Puisi yang menyertakan analogi-analogi biasanya puisi yang memusingkan, tapi ini tidak. Karena pembaca juga langsung menganalogikan bahwa aku dalam puisi itu adalah aku sebagai bumi (jadi si pembaca langsung refleks menjadi bumi beberapa saat).

***
Terimakasih A Adiw puisinya mantap, rajin-rajinlah nongkrong di Dialektika Kata.

______________

Selamat Hari Puisi Nasional
28 April 2016
_____________________

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram