Dua Puisi Mila


Galah Denawa merupakan sastrawan UIN Sunan Gunung Djati Bandung
(Dokumentasi Pribadi)

Oleh: Galah Denawa
Bandung, 23 Februari 2016

HUJAN JAM SEGINI

Hujan jam segini

Cukup kopi

Yang setelah kuteguk
Hangatnya hingga ke ulu hati
Hujan jam segini
Di senjanya Januari
Rintik-rintiknya berhamburan
Silih berganti jiwanya menjuntai
Tak bisa diabaikan
Karena ini estetika
Yang meliuk-liuk
Mengantarkanku pada kolom rindu
Hujan jam segini
Mereda di malam hari
Sesekali menyakiti
Bahkan buatku senyum sendiri
Hujan jam segini
Seasyik ini
Ternyata
___________________________________________________________________________

PAMIT
Jurang-jurang surya
Menuju kehampaan kejam malam
Konon, di sana terpatri kardus jera
Dera tubuhku pamit pada tulangnya
Deru ombakmu pamit pada karangnya
Deras hujanku pamit pada rindunya
Dara cantikmu pamit pada dirinya
Kidung riak embun menghembus
Bulir-bulirnya mengendap di daun tulip
Tulip-tulip tuli berdiam diri
Embun semakin membumi
Gunung-gunung menggigil kedinginan
Menyendiri di ketinggian
Diteduhi awan-awan yang bersemedi
Pangkal gita dera deru deras daranya
Tersendat-sendat alam geram
O, juangmu tak kesampaian
O, laramu tak terusaikan
O, hatimu sakit tak berkesudahan
Restu menyanjung langit
Jarak tersanjung rindu
Cinta disanjung luka
Alamku terluka
Aku terluka
Luka terluka
Luka terlaku

Minggu pagi pintu kos yang ditinggalkan KKM teman saya diketuk. Saya di dalamnya sedang tertidur. Kira-kira jam 9. Saat gorden dibuka, Syifa Silviani bersiap-siap mewawancarai saya setelah sms-an malamnya. Saya juga baru tahu ternyata Syifa ini wartawan Jurnal Pos, sebuah nama media cetak Jurusan Jurnalistik kampus kita. Esoknya, beritanya naik di jurnalposonline.com dengan headline: MARI ARSIPKAN KARYA DAN PELAKU SASTRA KITA!

Malam berikutnya ada yang nge-add fesbuk saya. Salah satunya Mila. Saat fesbuk bernama Mi La ini saya buka, di statusnya paling baru, ada sebuah puisi yang diposting tanggal 8 Februari. Saya langsung susul catatan-catatan fesbuknya. Cukup banyak Mila menulis di situ, terlebih puisi. Saya sendiri belum kenal siapa Mila ini. Saya menebak, dia berinisiatif nge-add setelah Syifa Silviani menulis berita tentang sastra dan saya di dalamnya. Perkenalan fisik belakangan, mari kita ulas puisi-puisinya.

***

Saya cukup kaget membaca puisi-puisi Mila di fesbuk setelah dikagetkan oleh Syifa Silviani dengan puisi PUNDAK karangannya. Dua puisi yang saya lampirkan di atas saya ambil dari blog pribadinya. Rata-rata puisi yang dibikin Mila jernih. Artinya tidak terlalu menggunakan metafor yang berlebihan namun ngena. Siapa pun saya kira tidak akan terlalu kesulitan membaca puisi-puisi macam ini. Pada puisi HUJAN JAM SEGINI misalnya, Mila apik memilih diksi untuk membangun imaji pembaca. Dalam bait pertama dan kedua, Mila menaruh hujan dan kopi di bulan Januari dengan sederhana namun cukup liar:


Hujan jam segini
Cukup kopi
Yang setelah kuteguk
Hangatnya hingga ke ulu hati


Hujan jam segini
Di senjanya Januari
Rintik-rintiknya berhamburan
Silih berganti jiwanya menjuntai




Kopi yang ditegak, Mila menggiringnya langsung ke ulu hati. Macam mana penggambaran seperti itu datangnya? Tidak sampai di situ, rintik-rintik hujan secara dahsyat Mila menggambarkan rintik-rintik itu berhamburan, jiwanya menjuntai. Untuk ukuran perempuan, saya tidak menyangka mereka mampu membikin imaji minum kopi dan hujan yang liar semacam itu. Sepertinya penulis puisi ini sedang dilanda kangen. Tanpa ragu, ia menulis bahwa pada jam-jam segini, hujan dan meminum kopi adalah estetika yang meliuk-liuk! Bagi saya, keberhasilan puisi ini terletak pada sudut pandang Mila yang entah bagaimana ia mampu menciptakan suasana sederhana menjadi tidak biasa dan gereget.


***

Puisi PAMIT tidak kalah liar. Bahkan saya kira lebih liar. Saya kutip kembali penggalan puisinya:


Embun semakin membumi
Gunung-gunung menggigil kedinginan
Menyendiri di ketinggian
Diteduhi awan-awan yang bersemedi





Bisa kita lihat cara Mila melukiskan hutan menuju malam hari. Mila mendeskripsikan suasana sangat hidup. Seakan-akan gunung-gunung yang dipuisikan Mila benar-benar menggigil, basah, gelap, menyendiri dan besar. Sepertinya Mila sedang berpamitan seusai menaiki dan berjalan menjauh dari gunung. Sepintas, dalam puisi PAMIT ini ada sebuah perpisahan yang mengiris di batin si penulis. Barangkali mereka yang sering mendaki gunung-gunung, datang hanya untuk menundukkan fisik mereka sendiri dan tanpa sadar menyisakan luka bagi gunung-gunung itu: sampah-sampah terlalu lelah dibawa pulang, beberapa pemandangan cantik jadi terlihat bekas adu kekuatan para pendekar dan monster gozila. Mila sebagai penyair, mendaki gunung kiranya tidak sekedar mendaki. Ia berziarah. Ada larik-larik yang mirip mantra di puisi PAMIT ini:


Dera tubuhku pamit pada tulangnya
Deru ombakmu pamit pada karangnya
Deras hujanku pamit pada rindunya
Dara cantikmu pamit pada dirinya
......
Restu menyanjung langit
Jarak tersanjung rindu
Cinta disanjung luka
Alamku terluka
Aku terluka
Luka terluka
Luka terlaku


***



Pengalaman seorang penyair menjadi bahan dasar dalam menulis puisi. Tentu pengalaman itu dikombinasikan dengan pengetahuan tentang apa yang akan ditulisnya. Sebuah puisi yang menarik sangat bergantung pada kepiawaian si penyair dalam mengolah bahan dasar tadi menjadi sebuah hidangan yang apik. Pengalaman itu sangat mentah, ia hanya sebuah rekaman yang belum menemukan kata, belum terbahasakan. Mengalihkan bahasa rasa (pengalaman, rekaman itu) ke bahasa kata kadang sulit, tapi terkadang juga mudah. Bagi saya, skill dalam menulis, khususnya puisi, bisa terasah karena sering berlatih. Terlepas latihan yang dilakukan seperti apa.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram