Puisi di Balik Kegarangan Restu

Ilustrasi: (Dok.Net)

Serigala

Oleh: Restu Syauqi


Ayahku logika, ibu rasa
Menjadi serigala pemburu rahasia
Manata jiwa
Mengurai kata
Menjelajah belantara
Arungi gulita dengan secercah cahaya


Jakarta, 15 April 2016


Jujur, aku pernah takut kepada Restu, sebab di Jurnalistik memiliki kultur yang nyentrik, yang memiliki keunikan di sudut mana pun. Salah satunya, rambut gondrong dan wajah garang (bagi laki-laki). Asli. Tapi ternyata di balik itu semua Restu memiliki hati yang lembut, selembut kata-kata yang ia beri ruh ke dalamnya. 

Malam itu aku baru cek Line, ternyata ada undangan dari Restu untuk bergabung dengan grup KEKATA KITA, sepertinya grup baru untuk mewadahi penyair-penyair dari Jurnalistik, yang sempat sepi belakangan ini. 

Aku baru tahu dari Galah (salah satu sastrawan kampus yang telah mengharumkan nama kampus UIN di kalangan sastrawan-sastrawan Indonesia) bahwa Jurnalistik pernah memiliki komunitas sastra, yakni bernama komunitas Rumput, aku kurang tahu siapa yang mendirikan komunitas itu, yang jelas Galah menyebutkan beberapa nama yang terlibat seperti, Restu A. Putra, Pungkit Wijaya, Miftahul Khoer dan Herton Maridi. Selebihnya aku tidak tahu menahu.

***

Saat aku membaca karya-karya Restu, aku rasa nilai-nilai filsafat sangat lekat di bait-bait puisinya. Dan itu bagiku membutuhkan waktu yang tepat untuk membacanya, karena harus menyertakan renungan-renungan yang mendalam.

Padahal sebenarnya Restu hanya memberikan suasana-suasana yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Tapi, entah, bagiku Restu memiliki jiwa yang begitu dahsyat. Ketika harus menyertakan logika dan rasa secara bersamaan, menjadi sesuatu dimensi yang menakjubkan.

Seperti puisi yang ia kirim di grup Kekata Kita, sebuah puisi yang disuguhkan untuk menjamu kedatangan penyair-penyair Jurnalistik. Di puisi yang berjudul Serigala itu, aku beranggapan bahwa serigala yang ditunjuk oleh Restu adalah sebuah analogi yang merujuk kepada sifat manusia. Karakter serigala yang berada di diri manusia. Cukup sulit untuk diartikan, cukup sulit untuk memberi penjelasan.

Namun, setelah aku bertanya-tanya kepada Restu, katanya di puisi itu ia menyertakan dua sifat serigala, 'memburu atau bersatu'. Memburu itu menggunakan logika, mencinta itu rasa. Lalu aku bertanya untuk kesekian kalinya, "kalau mengurai kata artinya gimana?," menurut Restu 'mengurai kata' di puisi itu sebagai dua latar belakang manusia 'bekerja' dengan logika dan rasa. Ketika hanya dengan logika saja kita hanya menjadi pemburu haus darah. 

Cukup rumit memang, padahal hanya puisi pendek. Tapi ini aku suka, cukup menarik, cukup menggaruk-garuk otakku yang gatal. Nuhun A Restu, Komdis garang yang lembut hatinya.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram