Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Tuhan, sebenarnya matahari itu sedang yoga
Dia gundah kepada aurora yang keriput
Kulit-kulit ozon mengering
Bagai lumut-lumut kehausan
Kayu-kayu bernyanyi di oktaf ke 12
Menyihir kunang-kunang memiliki tempurung
Mengubah dedaunan menjadi kelopak mata yang ngantuk
Dan sirine dari mahkota elang mengiang-ngiang
Pemakaman ini menjelma gurun berselimut
Arwah-arwah yang kedinginan itu menari-nari
Di seuntai hamparan pita merah maroon
Ditemani bercangkir-cangkir khamr
Tuhan, sebenarnya jiwaku mengapa?
Di kedua lubang hidungku hanya sumber polusi tembakau
Di sela-sela jemariku menggelayut akar-akar yang rabun
Dan di hatiku hanya ada perempuan yang merintih kesakitan
Tuhan, aku ingin tentram
Sebagaimana matahari sedang yoga,
Kayu-kayu bernyanyi
Dan pemakaman yang lepas menjelma
Bandung, April 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar