Angin Dalam Sepi

Ilustrasi; (Dok.Net)

Aku berlarian di tengah sukmamu. Menyentuh jantungmu dengan hembusan napas. Begitu dingin tatkala aku menyendiri di sela-sela gerahammu. Malam di alam liar yang sendiri, aku membayangkan kondisi hatimu yang sebatang kara. Menengadah pada langit yang terbingkai oleh pohon-pohon pinus, menerka-nerka ada bintang yang bercahaya.
Kali ini mungkin jangkrik sedang paduan suara. Berisik sekali. Tapi aneh, lagu-lagu jangkrik itu membuatku semakin sepi."Si, sesepi inikah ketika aku ada di sampingmu?," tiba-tiba suara itu mendongak ke gendang telingaku. Aku masih terdiam. "Heh, Insi!!!," Angin menggodaku di malam itu.
"Sepi, S - E - P - I, sepi, kamu mengganggu sepiku," kataku di sela-sela pelamunan itu.
"Kamulah yang menggangguku, aku kau diamkan seperti angin. Ada tapi tak kau anggap," jawabnya sembari menyentuh bahuku. Menggodaku dengan senyumannya yang lembut. Ah, Angin.
***
Hidungku kemerah-merahan. Sesak. Di pagi itu, burung-burung hinggap di tendaku. Tapi, karena angin yang dingin, aku mengurung diri di dalamnya. Menyusup di selimut, kain selapis. Lalu, aku membawa inhaler di ranselku. Sekedar jaga-jaga, takutnya asma menimpa. Lantas si Angin duduk di sampingku. Dengan sabar. Selain asma aku juga hipotermia.
Tak lama kemudian, dia menyelimutiku dengan jaket yang dikenakannya. Menengokku yang kedinginan, meringkuk di kedinginan embun sisa fajar. Aku menangis tersedu sedan. Mataku tak henti-hentinya mengalirkan air yang rapuh. Terus begitu. Tanganku pun tak henti-henti menyeka kelopak mata yang sendu. Di balik selimut itu tubuhku menggigil. Lalu dia merelakan pahanya untuk sandaran kepalaku, dan tangannya mengelus-elus keningku. Sedang aku masih menangis. Semakin hidungku susah menghirup udara. Sesak.
"Jika aku mati, apakah aku akan kesepian?," aku bertanya sambil menatapnya dalam-dalam.
"Kenapa kamu begitu keras kepala menganggap dirimu kesepian?,"
"Karena saat malam itu rembulan tiba-tiba saja bersembunyi di balik awan dan gemintang tak kunjung datang,"
"Ah, kamu egois, selalu egois, mendikte dirimu kesepian, tenanglah ada aku di sisimu," lalu Angin itu berhembus bersama tiupan angin dan merasuki hidungku yang sesak.
***
Dhuha di lautan awan, mataharinya condong dan membuat punggungku hangat. Hmmmm, sangat hangat. Lalu mataku melolong menikam awan-awan yang seperti kapas. Kemudian aku hendak mendudukinya dan mataku semakin melolong melihat manusia-manusia berkeliaran rupa-rupa.
Diketinggian yang biru tetap saja terasa jauh, masih jauh. Langit, mengapa kamu begitu sulit kuraih? Apakah kamu enggan kugenggam? Aaah, ternyata berbicara dengan langit membuatku terlihat gila. Jadi teringat kisah Nabi yang menunggangi buraq menuju langit ke tujuh. Lalu orang-orang menganggap buraq hewan kaki empat yang bersayap, atau bidadari cantik yang bersayap, dan atau dewi yang lincah terbang. Padahal buraq adalah cahaya. Apakah aku juga seperti orang-orang bodoh itu? Menjawab sesuatu dengan nalar imajinasi? Seperti angin yang menggoyang Angin di tenda itu.
Di tepian semak belukar, serangga-serangga bersujud kepada-Nya. Memuji Tuhan mereka dengan beribadah sembunyi-sembunyi. Dan mereka memaksaku berpikir keras dalam jera-jera neraka dunia. Andai saja zikir semua pepohonan terdengar olehku, mungkin mereka tak sudi kusandari. Andai saja gunung yang kududuki ini terdengar zikirnya, mungkin tatkala gunung melafalkan lafadz Laa Ilaaha Illallaah, aku langsung terlempar, karena kepalanya bergantian menengok kiri dan kanan sambil matanya terpejam.
Adalah ini mengapa mereka semua tetap diam, padahal di kedalaman jiwa pepohonan dan gunung itu sedang membaca pikiran-pikiran manusia dan sedang berusaha menyalakan pijar-pijar Tuhan di dalam hatinya. Sedang manusia hanya berpikir bahwa mereka adalah makhluk kesepian.
***
Angin adalah angin. Yang seenaknya datang dan pergi sesuka hati. Ada dua angin yang aku artikan. Ada Angin manusia dan ada angin yang benar-benar angin. Keduanya sama-sama merogoh tulang rusukku. Keduanya juga adalah sama-sama berada di sampingku, dan keduanya adalah angin.
Ada angin yang memetik gitar dan ada angin yang mengantarkan suara petikan gitar itu ke telingaku.
"Angin, coba kau bacakan puisi-puisiku, pake gitar," aku memintanya.
"Gitar gak bisa ngomong Si," canda Angin kepadaku.
"Ehhhh..."
"Insi adalah manusia, manusia kesepian yang berusaha memanusiakan Angin, hahahaha..." mungkin dia sedang berusaha menghiburku dan aku sedikit terkekeh dengan ocehannya.
Lalu Angin membacakan puisi-puisiku di antara gemulai tangannya memetik gitar, di antara pepohonan dan gunung yang sedang bertasbih. Sebelumnya aku sudah meminta maaf kepada Tuhan. Tentang dimaafkan atau tidak, itu urusanku di hari hisab tiba.
Aku melihat Angin, rambutnya tersibak oleh angin. Di bibirnya aku mendengar ketulusan, bergetar menuju hatiku. Kolaborasi antara Anginku dan angin-Nya begitu menakjubkan. Aku merinding di pagi itu. Jadinya aku masuk angin, Angin masuk aku.
"Kamu sudah bangun dari sepimu?" kata Angin kepadaku.
"Lumayan," aku nyengir tersipu malu.
***
Aku dan Angin bersenang-senang di sini, hingga senja, hingga larut malam. Bermesraan dengan alam.
"Tidurlah lagi dipelukanku malam ini, besok kita pulang," Angin penuh harap. Lantas aku menganggukan kepalaku seraya mengamini permintaanya.
***
Tatkala aku bangun, disekelilingku bau obat, selang-selang tertancap di tubuhku. Orang-orang mengelilingiku dengan isak tangis dan saling berpelukan. Lalu mamah melihatku dengan air mata bercucuran. Aku bertanya-tanya sebenarnya aku mengapa, terbaring di atas ranjang, dan tubuhku banyak luka?
Mataku berlinang, tenggorokanku kering, bibirku terasa sakit. Aku kesakitan menahan air mata yang tak kunjung berhenti bercucuran, bibirku bergetar. Mataku melihat langit-langit ruangan, membayangkan Angin tersenyum kepadaku.
"Mah, aku bersama Angin pergi ke gunung, di sana kita bersenang-senang, menikmati bulan madu," aku bergumam kepada mamahku yang masih menatapku dalam-dalam.
"Nak, kamu tidak pergi kemana-mana, kamu baru bangun dari koma, setelah kecelakaan lima hari lalu bersama suamimu, Angin telah pulang,"
Seketika tubuhku kaku, isak tangis di mataku, di hatiku, di tubuhku tak berhenti. Hatiku perih, Tuhaaan, aku perih. Tak kuasa kumenjerit. Tak kuasa kuberkata. Bernapas pun kuterbata.
Aku berpikir, benarkah yang pergi ke gunung itu arwah kita? Bukankah aku tidur di pelukanmu, tapi mengapa ketika terbangun banyak orang-orang melihatku sambil menangis?
Aku berpikir mengapa tatkala arwah kita berduaan yang kita bicarakan adalah kesepian? Aku semakin sepi.
Angin, kenapa kamu pulang sendirian?


M, 2016

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram