Kaget!!!

Ilustrasi: (Dok.Net)

Saat itu gerimis waktu mengemis rindu kepadaku. Menancapkan jarum-jarum jam yang menua. Ternyata perjalanan menuju tempat musyawarah organisasiku sangat jauh. Terletak di pantai yang gerah itu. Kepalaku pusing, cuaca saat ini sangatlah panas. Keringat bercucuran hingga nadiku berdetak tak karuan. Pyuh! Punggung lenganku mengusap-usap dahi yang berminyak.
Pohon kelapa terlihat berjajaran, tenda-tenda pengunjung terlihat warna-warni. Suara gemuruh ombak semakin mendekat. Tapi panas kian meraja. Semakin aku merasakan bahwa inilah simulasi ajal. Dan, akhirnya aku bersama teman-teman tiba juga di tempat musyawarah, musyawarah ini dilakukan tepat empat tahun sekali, ini adalah acara sakral yang mesti diikuti, karena di musyawarah inilah aku dapat bertemu dengan teman-teman seorganisasi dari berbagai daerah di Jawa Barat. Dan musyawarah ini bertujuan untuk memilih ketua umum organisasi untuk Jawa Barat.
Setelahnya rombonganku masuk ke hotel, lalu kemudian menuju ke tempat musyawarah. Sesaat setelah aku duduk, salah seorang presidium mengetuk palu dan memulai persidangan. Kedua alisku mengerut. Aku kebingungan. Musyawarah macam apa ini? Lalu aku berdiri, orang-orang di sekitarku menatapku dalam-dalam. Lantas aku tidak kuat kalau ada sesuatu yang salah. "Hey kau presidium!!!" sambil kutunjuk dia di tempat dudukku. "Kamu bisa gak jadi presidium? Kamu itu tolol," teriakku memecahkan suasana formalnya di ruangan ini.
"Hey, siapa kamu berani-beraninya, tak berjilbab songong pula!" presidium itu memerah wajahnya, matanya memelototiku. Si urat-urat yang ada di lehernya itu menggiurkan.
"Waaah, menakjubkan, mentang-mentang organisasi Islam, aku dianggap sesuatu yang tak berharga. Ah, lupakan. Yang jelas kamu presidium tolol," aku gerah, amat sangat gerah saat itu.
"Hey sia orang mana? Aing orang Pangandaran!," (kamu orang mana? Aku orang Pangandaran) dia menjadi sangat kasar kepadaku.
"Aing orang Bandung, kamu berani?" aku tiba-tiba berjalan menuju presidium itu. Orang-orang di sekitarku bersorak-sorai dan bertepuk tangan. Entahlah, mungkin mereka menganggapnya aku sedang berteater.
"Sudah, sudah, sudah! Kamu yang gak pake jilbab, mohon tenanglah!," seseorang di sampingku mencoba menenangkanku dari perseteruan ini.
Ternyata ruangan ini menjadi sangat gerah, lalu aku keluar ruangan, sejenak. Menikamati keindahan laut di siang hari. Tapi itu semua ternyata tak menenangkanku sedikit pun. Lalu aku memesan kelapa muda dan langsung meminumnya di tempat itu. Aku sudah enggan membayangkan apa yang sedang terjadi di ruangan musyawarah. Aku tahu itu konyol, tapi itu adalah sesuatu yang fatal.
Terkadang orang-orang melirikku begitu edan. Memangnya aku salah apa? Apa karena aku tak berjilbab dan tingkah lakuku tadi kurang sopan? Ahhhh, kenapa aku melakukan hal gila seperti itu? Orang-orang pasti tidak akan pernah melupakanku. Lagian, aku satu-satunya perempuan yang tak berjilbab, berpakaian hitam-hitam dan tak ber-make up. Aiissshhh, gustiiiiii ampun! Terkadang aku pun malu tatkala berjalan atau duduk berdampingan dengan perempuan-perempuan yang jilbabnya sangat lebar, yang lengan bajunya hampir menutupi jemarinya, yang kakinya selalu dibalut kaus kaki. Tapi aku merasa setara ketika aku dengan perempuan-perempuan itu memakai mukena dan mengerjakan shalat. Berarti Tuhan aku dan perempuan-perempuan itu sama.
Selepas ashar, aku memasuki forum lagi. Cukup terdiam dan menyimak. Tapi terkadang aku tak tahu apa yang ada di pikiran orang-orang, tatkala mereka memilih organisasi ini untuk menemukan jati diri. Katanya.
Beberapa kali aku diam dan terus diam. Tapi lama-lama aku jengkel juga. Aku melirik di kerumunanku, semuanya terlihat anggun dan menerima pendapat begitu saja. Tanpa ada perlawananan. Padahal ini untuk kemaslahatan organisasi. Pada akhirnya, orang-orang di sini memaksaku untuk berpikir keras tapi aku tetap diam. Menyimak dalam gerah. Ini adalah hari pertama. Masih ada dua hari lagi.
***
Malam seusai musyawarah hari kedua. Aku menyusun strategi di kamarku. Untuk sebuah gebrakan baru di organisasi ini. Tak mungkinlah orang-orang yang duduk manis di ruangan itu tidak kritis. Aku tahu betul. Beberapa tahun di organisasi Islam, ilmu yang dikaji tak mungkin itu-itu saja. Keberaniannya tidak dilatih begitu-begitu saja. Karena organisasi tidak menuntut kita untuk tetap diam.
Setelah menyusun strategi, rasanya pengap berdiam diri di kamar. Aku pun keluar 'tuk sekedar menghirup udara segar malam hari di pantai. Tapi, tiba-tiba saja gerombolan air dari langit turun kecil-kecil. Dan aku berlari-lari menuju sebuah warung kecil di tepian pantai.
"Pak, kopi satu," sembari kumasukkan kedua lenganku ke saku jaket.
"Hey, orang Bandung! Suka kopi juga?," suara itu terdengar tepat di belakangku. Aku menoreh dan melempar senyum kepadanya. Tak lupa satu alis kukernyitkan.
Aku duduk di depannya. Ada aroma-aroma langka di sekitar sini.
"Aku Abror si presidium tolol," dia tersenyum dan menyodorkan lengannya kepadaku. Aku pun tersenyum kepadanya sesaat setelah merasakan seseruput kopi. Tanpa kusentuh lengannya sedikit pun.
"Kamu siapa?," tanyanya sedikit membuatku tegang.
"Hmmm, Mufti," sambil mengangguk anggun dan melihatnya dalam-dalam. Aku berusaha membaca pikirannya. Seolah dia mengerti apa yang aku lakukan saat musyawarah hari pertama.
Bersama kopi di tengah malam, di gerimis yang merdu, di deru ombak yang beradu. Berundak-undak awan menutupi langit biru. Ah, Abror. Matamu itu, setajam belati yang menusuk-nusuk jantungku. Menjuntai di nadiku. Tapi aku berusaha untuk tak memperlihatkan kepadanya, tentang luluhnya hatiku malam ini.
"Kamu cukup berani Muf, berbicara seperti itu, hahaha," dia berbicara seolah kenal aku sedari dulu. Padahal baru saja bertemu.
"Sebab aku jengkel, tapi yang lebih aku jengkelkan itu adalah aku dipanggil tak berjilbab,"
"Emang kamu tak berjilbab Muf,"
"Perempuan-perempuan di organisasi ini, sangat menutup aurat. Mereka perempuan berakhlak, tidak sepertiku," kataku kepadanya, sambil merasakan dinginnya malam ini. "Tapi yang aku sayangkan, setelah aku bersama mereka, aku mendengar percakapan mereka tentang bagaimana mereka membenciku," lanjutku kepadanya. "Tidakkah aku salah kalau yang jilbabnya selutut aku bilang mereka memiliki ilmu agama Islam yang tebal? Aku sangat menyukai pakaian mereka, aku sangat ingin seperti mereka, yang anggun dan bicaranya tak kasar sepertiku. Tapi aku takut mereka sedang berpura-pura," bibirku tak henti-hentinya berbicara kepada Abror. Sedangkan Abror begitu khusyu' mendengarku sembari senyum-senyum kecil melihatku berbicara semrawut seperti ini.
"Terkadang orang-orang melihat luarnya saja. Tanpa menengok ke kedalaman hatimu. Ah, aku lupa, bahwa yang bisa melihat kedalaman hatimu itu sedang ada di depanmu," aku mengerutkan dahi, di teka-teki ini. "Kamu tahu singkong? Dia begitu lusuh di luar, kering, berlumur tanah, kotor. Tapi lihat kedalamnya. Dia begitu putih, bersih. Maka tak apa-apa jika kamu hidup sebagai singkong," aku terkekeh dan tertunduk malu.
"Ngomong-ngomong kamu udah punya pacar?," tanyanya kepadaku.
"Alhamdulillah, aku gak pernah pacaran," dia terbaca olehku, hanya ingin tahu saja bagaimana kepribadianku. Jadi gak masalah.
Lantas kita berdua menghabiskan beberapa bungkus kopi, hingga jam dua pagi. Berbicara ngalor-ngidul tentang apa pun itu. Di warung yang kecil itu. Sambil menunggu hujan yang tak kunjung reda, di kemesraan pembicaraan aku dan Abror, ternyata ada angin yang terseok menyenggol dadaku, hingga aku merasakan kenikmatan di balik perbincangan ini. Tanpa melupakan Abror yang matanya melotot membenciku saat itu.
***
Hari terakhir. Seperti biasa musyawarah digelar di pagi hari, tatkala mentari sedang asyik-asyiknya menari-nari. Aku terkantuk-kantuk. Mataku suntuk. Tapi aku berusaha membuka mataku lebar-lebar. Sebab ini adalah hari terakhir. Di mana musyawarah berakhir di Ashar.
Sampai tibanya Dzuhur, musyawarah masih adem ayem. Tak ada satu pun kesalahan yang terjadi. Selepas istirahat Dzuhur, semua orang yang hadir di ruangan ini, menyuarakan haknya untuk memilih kandidat-kandidat terpilih.
Selepas ini, aku duduk kembali di tempat semula. Aku tak kuat menahan kantuk. Sampai akhirnya kedua tanganku dilipat ke atas meja, dan kepalaku menyelundup di atasnya.
***
"Mufti, bangun, hasilnya seri," bisik Fatimah kepadaku.
Aku langsung terbangun seketika. Mataku langsung terpaku ke papan tulis. Ternyata hasilnya seri. Jadi strategi yang aku susun di malam itu, antah berantah.
***
Lalu setelah itu, aku bersama rombonganku pulang menuju Bandung. Karena nyatanya besok hari Senin, dan lebih parahnya lagi besok UAS mata kuliah yang dosennya killer.
***
Pagi-pagi sekali aku tergopoh-gopoh berjalan di trotoar kampus, sambil mengenakan jas almamater berwarna biru tua itu. Jalanku dipercepat. Napasku terengah-engah. Sesampainya di kelas, aku duduk di depan meja dosen. Kerudungku kurang rapih, jinsku ala tahun 80-an, gombrang. Apalagi sepatuku sangat kusam. Untungnya dosen belum datang.
"Huffff,"
***
Beberapa menit kemudian, dosen mengirim SMS kepadaku. Katanya tidak bisa hadir, dan digantikan dengan asisten dosen. Lantas aku mengumumkan di depan kelas tentang kabar baik itu. Kalimat Alhamdulillah pun menggema ke setiap sudut kelas, secara bersamaan. Betapa bahagianya. Kami bersorak sorai.
Ketika itu seseorang datang ke kelas. Membawa soal dan lembar jawaban. Aku yang tadinya berdiri di depan kelas langsung menuju tempat dudukku. Betapa pun yang terjadi pada teman-temanku, mereka langsung kocar-kacir mencari tempat duduk.
Mataku terbelalak. Abror? Asisten dosen? Aku geleng-geleng kepala. Malu, marah, senang, aaarrgh! Nano-nano. Ludahku terasa enggan kutelan. Aku masih bengong. Masih ingat bilang tolol kepadanya.
Saat semua lembar soal dan lembar jawaban dibagikan oleh Abror, Abror menuju bangkuku, "Jangan lupa, masih ada musyawarah yang lebih parah," bisiknya kepadaku.
Berhubung aku duduk di depan meja dosen, jadinya Aku dan Abror duduk berhadapan, tetapi tanpa kopi.
Ya Allah, aku kaget.

M, 2016

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram