Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Saat
itu gerimis waktu mengemis rindu kepadaku. Menancapkan jarum-jarum jam yang
menua. Ternyata perjalanan menuju tempat musyawarah organisasiku sangat jauh.
Terletak di pantai yang gerah itu. Kepalaku pusing, cuaca saat ini sangatlah
panas. Keringat bercucuran hingga nadiku berdetak tak karuan. Pyuh!
Punggung lenganku mengusap-usap dahi yang berminyak.
Pohon
kelapa terlihat berjajaran, tenda-tenda pengunjung terlihat warna-warni. Suara
gemuruh ombak semakin mendekat. Tapi panas kian meraja. Semakin aku merasakan
bahwa inilah simulasi ajal. Dan, akhirnya aku bersama teman-teman tiba juga di
tempat musyawarah, musyawarah ini dilakukan tepat empat tahun sekali, ini
adalah acara sakral yang mesti diikuti, karena di musyawarah inilah aku dapat
bertemu dengan teman-teman seorganisasi dari berbagai daerah di Jawa Barat. Dan
musyawarah ini bertujuan untuk memilih ketua umum organisasi untuk Jawa Barat.
Setelahnya
rombonganku masuk ke hotel, lalu kemudian menuju ke tempat musyawarah. Sesaat
setelah aku duduk, salah seorang presidium mengetuk palu dan memulai
persidangan. Kedua alisku mengerut. Aku kebingungan. Musyawarah macam apa ini?
Lalu aku berdiri, orang-orang di sekitarku menatapku dalam-dalam. Lantas aku
tidak kuat kalau ada sesuatu yang salah. "Hey kau presidium!!!"
sambil kutunjuk dia di tempat dudukku. "Kamu bisa gak jadi presidium? Kamu
itu tolol," teriakku memecahkan suasana formalnya di ruangan ini.
"Hey,
siapa kamu berani-beraninya, tak berjilbab songong pula!" presidium itu
memerah wajahnya, matanya memelototiku. Si urat-urat yang ada di lehernya itu
menggiurkan.
"Waaah,
menakjubkan, mentang-mentang organisasi Islam, aku dianggap sesuatu yang tak
berharga. Ah, lupakan. Yang jelas kamu presidium tolol," aku gerah, amat
sangat gerah saat itu.
"Hey
sia orang mana? Aing orang Pangandaran!," (kamu orang mana? Aku
orang Pangandaran) dia menjadi sangat kasar kepadaku.
"Aing
orang Bandung, kamu berani?" aku tiba-tiba berjalan menuju presidium itu.
Orang-orang di sekitarku bersorak-sorai dan bertepuk tangan. Entahlah, mungkin
mereka menganggapnya aku sedang berteater.
"Sudah,
sudah, sudah! Kamu yang gak pake jilbab, mohon tenanglah!," seseorang di
sampingku mencoba menenangkanku dari perseteruan ini.
Ternyata
ruangan ini menjadi sangat gerah, lalu aku keluar ruangan, sejenak. Menikamati
keindahan laut di siang hari. Tapi itu semua ternyata tak menenangkanku sedikit
pun. Lalu aku memesan kelapa muda dan langsung meminumnya di tempat itu. Aku
sudah enggan membayangkan apa yang sedang terjadi di ruangan musyawarah. Aku
tahu itu konyol, tapi itu adalah sesuatu yang fatal.
Terkadang
orang-orang melirikku begitu edan. Memangnya aku salah apa? Apa karena aku tak
berjilbab dan tingkah lakuku tadi kurang sopan? Ahhhh, kenapa aku melakukan hal
gila seperti itu? Orang-orang pasti tidak akan pernah melupakanku. Lagian, aku
satu-satunya perempuan yang tak berjilbab, berpakaian hitam-hitam dan tak
ber-make up. Aiissshhh, gustiiiiii ampun! Terkadang aku pun malu tatkala
berjalan atau duduk berdampingan dengan perempuan-perempuan yang jilbabnya
sangat lebar, yang lengan bajunya hampir menutupi jemarinya, yang kakinya
selalu dibalut kaus kaki. Tapi aku merasa setara ketika aku dengan
perempuan-perempuan itu memakai mukena dan mengerjakan shalat. Berarti Tuhan
aku dan perempuan-perempuan itu sama.
Selepas
ashar, aku memasuki forum lagi. Cukup terdiam dan menyimak. Tapi terkadang aku
tak tahu apa yang ada di pikiran orang-orang, tatkala mereka memilih organisasi
ini untuk menemukan jati diri. Katanya.
Beberapa
kali aku diam dan terus diam. Tapi lama-lama aku jengkel juga. Aku melirik di kerumunanku,
semuanya terlihat anggun dan menerima pendapat begitu saja. Tanpa ada perlawananan.
Padahal ini untuk kemaslahatan organisasi. Pada akhirnya, orang-orang di sini
memaksaku untuk berpikir keras tapi aku tetap diam. Menyimak dalam gerah. Ini
adalah hari pertama. Masih ada dua hari lagi.
***
Malam
seusai musyawarah hari kedua. Aku menyusun strategi di kamarku. Untuk sebuah gebrakan
baru di organisasi ini. Tak mungkinlah orang-orang yang duduk manis di ruangan
itu tidak kritis. Aku tahu betul. Beberapa tahun di organisasi Islam, ilmu yang
dikaji tak mungkin itu-itu saja. Keberaniannya tidak dilatih begitu-begitu
saja. Karena organisasi tidak menuntut kita untuk tetap diam.
Setelah
menyusun strategi, rasanya pengap berdiam diri di kamar. Aku pun keluar 'tuk
sekedar menghirup udara segar malam hari di pantai. Tapi, tiba-tiba saja
gerombolan air dari langit turun kecil-kecil. Dan aku berlari-lari menuju sebuah
warung kecil di tepian pantai.
"Pak,
kopi satu," sembari kumasukkan kedua lenganku ke saku jaket.
"Hey,
orang Bandung! Suka kopi juga?," suara itu terdengar tepat di belakangku.
Aku menoreh dan melempar senyum kepadanya. Tak lupa satu alis kukernyitkan.
Aku
duduk di depannya. Ada aroma-aroma langka di sekitar sini.
"Aku
Abror si presidium tolol," dia tersenyum dan menyodorkan lengannya
kepadaku. Aku pun tersenyum kepadanya sesaat setelah merasakan seseruput kopi.
Tanpa kusentuh lengannya sedikit pun.
"Kamu
siapa?," tanyanya sedikit membuatku tegang.
"Hmmm,
Mufti," sambil mengangguk anggun dan melihatnya dalam-dalam. Aku berusaha
membaca pikirannya. Seolah dia mengerti apa yang aku lakukan saat musyawarah
hari pertama.
Bersama
kopi di tengah malam, di gerimis yang merdu, di deru ombak yang beradu. Berundak-undak
awan menutupi langit biru. Ah, Abror. Matamu itu, setajam belati yang
menusuk-nusuk jantungku. Menjuntai di nadiku. Tapi aku berusaha untuk tak
memperlihatkan kepadanya, tentang luluhnya hatiku malam ini.
"Kamu
cukup berani Muf, berbicara seperti itu, hahaha," dia berbicara seolah
kenal aku sedari dulu. Padahal baru saja bertemu.
"Sebab
aku jengkel, tapi yang lebih aku jengkelkan itu adalah aku dipanggil tak berjilbab,"
"Emang
kamu tak berjilbab Muf,"
"Perempuan-perempuan
di organisasi ini, sangat menutup aurat. Mereka perempuan berakhlak, tidak
sepertiku," kataku kepadanya, sambil merasakan dinginnya malam ini. "Tapi
yang aku sayangkan, setelah aku bersama mereka, aku mendengar percakapan mereka
tentang bagaimana mereka membenciku," lanjutku kepadanya. "Tidakkah aku
salah kalau yang jilbabnya selutut aku bilang mereka memiliki ilmu agama Islam yang
tebal? Aku sangat menyukai pakaian mereka, aku sangat ingin seperti mereka,
yang anggun dan bicaranya tak kasar sepertiku. Tapi aku takut mereka sedang
berpura-pura," bibirku tak henti-hentinya berbicara kepada Abror.
Sedangkan Abror begitu khusyu' mendengarku sembari senyum-senyum kecil melihatku
berbicara semrawut seperti ini.
"Terkadang
orang-orang melihat luarnya saja. Tanpa menengok ke kedalaman hatimu. Ah, aku
lupa, bahwa yang bisa melihat kedalaman hatimu itu sedang ada di depanmu,"
aku mengerutkan dahi, di teka-teki ini. "Kamu tahu singkong? Dia begitu lusuh
di luar, kering, berlumur tanah, kotor. Tapi lihat kedalamnya. Dia begitu putih,
bersih. Maka tak apa-apa jika kamu hidup sebagai singkong," aku terkekeh
dan tertunduk malu.
"Ngomong-ngomong
kamu udah punya pacar?," tanyanya kepadaku.
"Alhamdulillah,
aku gak pernah pacaran," dia terbaca olehku, hanya ingin tahu saja
bagaimana kepribadianku. Jadi gak masalah.
Lantas
kita berdua menghabiskan beberapa bungkus kopi, hingga jam dua pagi. Berbicara
ngalor-ngidul tentang apa pun itu. Di warung yang kecil itu. Sambil menunggu hujan
yang tak kunjung reda, di kemesraan pembicaraan aku dan Abror, ternyata ada
angin yang terseok menyenggol dadaku, hingga aku merasakan kenikmatan di balik
perbincangan ini. Tanpa melupakan Abror yang matanya melotot membenciku saat
itu.
***
Hari
terakhir. Seperti biasa musyawarah digelar di pagi hari, tatkala mentari sedang
asyik-asyiknya menari-nari. Aku terkantuk-kantuk. Mataku suntuk. Tapi aku
berusaha membuka mataku lebar-lebar. Sebab ini adalah hari terakhir. Di mana musyawarah
berakhir di Ashar.
Sampai
tibanya Dzuhur, musyawarah masih adem ayem. Tak ada satu pun kesalahan yang
terjadi. Selepas istirahat Dzuhur, semua orang yang hadir di ruangan ini, menyuarakan
haknya untuk memilih kandidat-kandidat terpilih.
Selepas
ini, aku duduk kembali di tempat semula. Aku tak kuat menahan kantuk. Sampai
akhirnya kedua tanganku dilipat ke atas meja, dan kepalaku menyelundup di
atasnya.
***
"Mufti,
bangun, hasilnya seri," bisik Fatimah kepadaku.
Aku
langsung terbangun seketika. Mataku langsung terpaku ke papan tulis. Ternyata
hasilnya seri. Jadi strategi yang aku susun di malam itu, antah berantah.
***
Lalu
setelah itu, aku bersama rombonganku pulang menuju Bandung. Karena nyatanya besok
hari Senin, dan lebih parahnya lagi besok UAS mata kuliah yang dosennya killer.
***
Pagi-pagi
sekali aku tergopoh-gopoh berjalan di trotoar kampus, sambil mengenakan jas
almamater berwarna biru tua itu. Jalanku dipercepat. Napasku terengah-engah.
Sesampainya di kelas, aku duduk di depan meja dosen. Kerudungku kurang rapih,
jinsku ala tahun 80-an, gombrang. Apalagi sepatuku sangat kusam. Untungnya
dosen belum datang.
"Huffff,"
***
Beberapa
menit kemudian, dosen mengirim SMS kepadaku. Katanya tidak bisa hadir, dan digantikan
dengan asisten dosen. Lantas aku mengumumkan di depan kelas tentang kabar baik
itu. Kalimat Alhamdulillah pun menggema ke setiap sudut kelas, secara
bersamaan. Betapa bahagianya. Kami bersorak sorai.
Ketika
itu seseorang datang ke kelas. Membawa soal dan lembar jawaban. Aku yang
tadinya berdiri di depan kelas langsung menuju tempat dudukku. Betapa pun yang
terjadi pada teman-temanku, mereka langsung kocar-kacir mencari tempat duduk.
Mataku
terbelalak. Abror? Asisten dosen? Aku geleng-geleng kepala. Malu, marah,
senang, aaarrgh! Nano-nano. Ludahku terasa enggan kutelan. Aku masih bengong.
Masih ingat bilang tolol kepadanya.
Saat
semua lembar soal dan lembar jawaban dibagikan oleh Abror, Abror menuju bangkuku,
"Jangan lupa, masih ada musyawarah yang lebih parah," bisiknya
kepadaku.
Berhubung
aku duduk di depan meja dosen, jadinya Aku dan Abror duduk berhadapan, tetapi
tanpa kopi.
Ya
Allah, aku kaget.
M,
2016
Cerpen
0 komentar:
Posting Komentar