Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Oleh: Restu Nugraha Sauqi
Agar kita cepat melesat bagai kilat
Menembus kelam, membangunkan malam
Goyangkan setiap bulir mutiara di ujung daun
Lampu kota bagai kerumunan kica-kica
Kita melihatnya di ujung jendela
Gerbong kesatu, bukanlah nomor satu
Berdesakkan di bangku itu
Matamu mulai sayu, kau rubah di bahu kiriku
Erat pelukku, mengendap bawah sadar kalbu
Menuntun perilaku untuk berbuat sesuatu
Kau itu ratu tetaplah seperti itu
Kereta ini menuntunmu pada akhir perjalanan
Kita berjalan tidak pada rel semula, masinisnya buta
Bagimu stasion adalah akhir tujuan
Bagiku, awal petualangan kemunafikan
Dan fobia bernama kenangan
Bandung, Januari 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar