Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Karya seorang sahabat sekaligus abdi Tuhan yang taat tapi suka galak:
"Daun-daun Gugur Itu Tak Bersamamu"
Bandung akhir-akhir ini rajin menabur rinai hujan. Seperti mengizinkan pertemuanku dengan masa kecil dimana Bandung dan aku adalah antara rindu dan kabut, juga hujan yang mengawinkan keduanya menjadi hawa dingin sebagai identitas kota ini. Akhir-akhir ini hal itu menjadi penyebab kerinduanku pada kota ini, hal yang sudah sulit aku temui di kotaku, mungkin hilang.
Aku duduk di kursi plastik beranda rumah kostmu. Dibawah daun-daun dari pohon markisa yang merambat, mulai menguning dan berguguran, sudah selesai ia berproduksi lalu pulang mungkin ke penciptanya, seperti kerinduan makhluk pada tuhannya.
Tak dibiarkan malam berlalu tanpa kawalan. Yanti dan kau menyeduh teh dalam poci plastik, mengantar Bandung dengan karbonasi seduhan daun teh yang mulai menebar harum. Melepas penat yang seharian tadi merongrong, melempar tawa dan menebar bahagia.
Belum terlalu jauh malam berjalan, Yanti sudah harus pulang karena punya alasan. Aku dan kau duduk berhadapan dan teh masih dalam gelas. Saling meledek tanda kedekatan berkawan.
Tentangmu adalah kepercayaan, aku menyimpan percaya padamu, seringkali membagi apa yang aku rasa perlu dibagi, tempat terbaik aku rasa.
Sudah semakin dalam aku dan kau bercerita, masih menemani Bandung dan mengantar penghuninya melipat mata. Setelah aku membagi tentang hidup dalam pandanganku adalah pelik dan berusaha untuk tidak padam agar tetap membara sebelum benar-benar mati nyalanya.
Giliranmu, kau membagi masa silam yang sudah kau ikat dan kau lipat dan tak mau kau bongkar karena bagian kecilnya saja terbaca akan sangan mengganggumu. Tak sengaja lipatan kecil diujung bibirmu terurai, aku temukan diujung bibir dan mata yang tak bisa kau sembunyikan, lipatan kecil yang menyimpan gulungan tebal.
Kau bercerita dengan terbata, tetiba air diujung mata meleleh, menandakan begitu dalam yang kau rasa, begitu pedih dan pahit. Tak bermaksud aku membongkar gulungan yang sudah lama kau sembunyikan diselasar paling gelap dipikiran dan jiwamu. Wajah dengan pipi-pipi tebalmu memerah, membengkak kelopak mata, kau menangis seseduan.
Iba diri melihat kau basah berairmata. Tiba-tiba telah sampai tanganmu diujung mata, mengusap lelehan air mata agar tak jatuh. Berulang kau kecewa, berulang kauberdo'a. Aku memahamimu sebagai tangan yang hafal sidik jari.
Semilir angin meniup lembut daun-daun kering kekuningan itu, menjatuhkan daun-daun yang terlalu renta untuk bertahan. Daun-daun gugur itu tak bersamamu, kau tak membiarkan dirimu gugur, kau bangun dan tumbuh memupuk benih sebagai bakal hidup baru yang lebih mewangi. Kau tak goyah diterjang, kebangkitanmu adalah nazar hidup yang layak ditepati.
Ternyata air matamu memahat janji didiriku, entah janji karena apa. Lalu aku berserah, tak akan membiarkan sedikit saja daun-daun hidup yang tumbuh dari pupuk nazarmu terpetik kembali, aku siap pasang badan jika mampu. Aku bersamamu.
Seperti adik perempuan lain perbakalan. Sebuah percaya yang dijaga, silahkan hidup dan kita berkawan dan saling menjaga. Bilang saja jika ada yang curang padamu, tidak janji tapi akan berusaha saja membalas sepadan.
Sudah larut dan aku pulang. Dijemput hawa dingin yang mengisyaratkan mata sudah layak dilipat. Pengantar tidur dan kasur yang malam itu lebih puitis dari Gibran dan sajaknya.
(Spesial untuk S.S, tidak ada kalimat tambahan. Nanti saja)
-Asuta
Bandung, Kamis 9 Juni 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar