Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (Dok.Net) |
Manakala sangsakala ditiup Israfil
Belantara mulai lapur untuk mati
Tak ada yang memandikannya
Tak ada yang mengafaninya
Manakala juragan ilmu menggerutu
Merekat buku-buku dengan ingusnya yang abu
Malaikat mulai terangsang
Untuk menyentuhnya dengan pedang
Lalu tanah-tanah mulai merangkak menuju langit
Sedangkan awan berjalan terseok-seok menuju kuburan
Lautan mual-mual, anusnya mengeluarkan api
Dan memanggang ikan-ikan di tengah birunya air
Lantas, karang-karang itu cemburu
Kemudian mereka membunuh dirinya sendiri, tanpa kehadiran Izrail
Terus... seorang sufi berjalan terhuyung-huyung
Sesekali berputar-putar dengan cepat,
Sehingga bajunya berputar seperti payung yang besar
Sufi itu tak bosan melakukannya
Saat aku bertanya,
"Hai fulan, mau kemana kau pergi? Jalanmu seperti tak berujung?,"
Setelah itu si sufi berhenti sejenak dan berbicara kepadaku,
"Aku berjalan menuju markas Tuhan,"
Sedangkan aku memerhatikan dunia telah hancur
Dan sufi itu terus berputar-putar
Sambil berdoa
Bandung, 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar