Kelembutan Aksara Aniva

Ilustrasi: (Dok.Net)

Oleh: Aniva Kusuma W


KETIKA TAKDIR TENTUKAN


Menyangka semua kisah
Seperti menebak teka-teki
Entah hati siapa yang berlabuh
Semua masih dalam ilusi

Janji bukanlah kepastian
Pembuktian adalah keseriusan
Aku tak mencari alasan
Untuk sebuah perasaan

Bila mana ada keseriuaan
Buktikanlah dengan kepastian
Agar hatiku tak dalam keraguan
Untuk memberi jawaban


MUNGKIN HARUS BEGINI


Waktu merubah cerita

yang semula sederhana
nyatanya menjadi istimewa
walau terkesan biasa seribu kata tertulis dalam lembaran kisah manakala ada tangis tentang cerita sedih disaat perpisahan hadir kehilangan pun hampiri
mungkin ini sebuah takdir
yang terasa menyakiti
kita tetap menjadi sahabat
sekalipun takdir berbeda
kawan tetaplah semangat jalani kehidupan yang ada


***

Aniva adalah mahasiswi jurnalistik 2015, beberapa Minggu yang lalu Aniva mengirimkan banyak puisi ke Dialektika Kata melalui Anita, layouter Jurnalposmedia. Dari banyak puisi itu Dialektikata (read;Dialektika Kata) memilih dua puisi ini. Dari beberapa puisi yang dikirim Aniva, mayoritas adalah puisi yang berasal dari pengalaman Aniva itu sendiri, terlebih persoalan tentang cinta. Entah itu cinta kepada ibu, lelaki, sahabat, bahkan kecintaan Aniva pada dirinya sendiri.

Secara fisik, isi keseluruhan puisi yang dibuat Aniva tidak sama sekali menggunakan metafora, pada akhirnya apa yang diucapkan oleh hati Aniva dapat terbaca di pikiran para pembaca. Memang terlihat sederhana, biasa saja, bahkan tak menarik. Tapi, ketika seseorang penyair memaksakan dirinya untuk menggunakan metafora yang berlebihan, itu akan membuat stimuli yang disampaikan penyair tersebut tidak sampai kepada pembaca, terkecuali pembaca yang sudah paham betul apa makna dibalik metafora yang disisipkan penyair. 

Dalam hal ini Aniva adalah penyair yang sederhana, pengguna kata yang apa adanya, tidak berbelit-belit, yang penting hati Aniva plong setelah menulis puisi-puisi. Ada beberapa puisi Aniva yang menggunakan kata baku untuk objek dan subjek, seperti penggunaan kata saya dan Anda. Menulis puisi tidak harus mendayu-dayu dengan kata aku dan kamu, senja dan rindu, hujan dan kopi. Puisi tidak melulu seperti itu. 

Aniva terlihat masih kaku dalam memilih diksi yang tepat, tetapi tak mengapa dengan banyak menulis dan membaca nanti tahu sendiri mana yang enak, mana yang gurih, dan mana yang mantap. Aksaramu begitu lembut, selembut hati yang kamu atraksikan dalam puisi. Puisi tidak ada yang jelek, jika ada seseorang yang mengatakan puisimu jelek maka paksalah dia untuk menengok ke hatimu.

Puisi yang Dialektikata sisipkan adalah puisi yang dibuat dengan sentuhan kalbu yang empuk. Aniva menggunakan pikiran yang tenang dalam menulisnya. Semacam puisi yang berkecinambung dalam seonggok takdir, di sana Aniva bergulat dengan rasa dan akalnya, menerka-nerka tentang kebenaran dari takdir itu.

Kehidupan yang Aniva topang, kemudian dituangkan dalam tulisan, itu menjadi suatu estetika yang memesona. Terutama dalam dirimu sendiri. Meski Aniva menyebutnya puisi-puisi yang Aniva buat adalah curhat, tetapi tak mengapa jika itu tidak meringkihkan hatimu, tidak membuat Aniva menjadi lelah, yang penting kata-kata yang Aniva ukir akan mencetak sejarah yang tak pernah orang lain pikirkan, dan orang lain yang ada di pikiranmu.

Terlepas dari itu semua, lebih baik apa pun yang Aniva rasakan, silahkan tulis dengan kesungguhan dan pemilihan diksi yang tepat, bukankah menulis untuk dibaca? Dibaca oleh siapa? Oleh orang lain. Terutama orang yang ada di sekeliling Aniva.

***

Terimakasih Aniva telah sudi nongkrong di sini. Nanti ditunggu setiap malam Jumat, di pangaosan sastra, untuk bertemu dan berdiskusi bersama.

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram