Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (dok.net) |
Sebuah Minggu di hari Kamis, saat itu beton-beton gelas berdenyut, aku menapaki rindu yang berdaki. Akankah daun-daun yang berjatuhan itu satu persatu mengucapkan selamat tidur atau selamat tinggal kepadaku?
Aku semacam akar tunggal yang menyusu pada puting tanah, kusedot keras-keras. Sambil marah-marah kepada tulang-belulang. "Kini benarkah benang-benang itu palsu?" Lalu sedikit demi sedikit aku luluh kepadanya dan kepada-Nya.
Karena ternyata menjadi manusia yang terus-terusan menyeduh kopi sendirian itu baik, apalagi menyelinap memasuki gelas dan memberikan salam kepada setiap butiran-butiran kopi tersebut.
Mila, 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar