Akan Aku Ceritakan Kepada Hujan


Foto: Nadia Desti Manika


Meski di langit sedang perang listrik, guntur-guntur bersaing menyuarakan hatinya, tapi hujan tak pernah membawa bara dan membiarkan berjatuhan ke bumi. Tetapi beda lagi dengan hujan abu, yang membuat orang-orang terkena ispa. Ada banyak distingsi dari ini.

Sehabis shalat Subuh. Orang itu membakar ujung lisong, lalu menyedotnya perlahan, sehingga asap keluar dari mulut dan hidungnya. Dia menikmati hujan yang renyai ini, semakin merenyahkan kenang-kenangan bergelantungan.


Akan aku ceritakan kepada hujan, tentang mega yang marah, tentang bayu yang menggiring rintik-rintik ini, di pagi ini. Tentang politik yang sangat manis, tentang ekonomi yang menjadi sadis, tentang korupsi yang tiada habis, dan tentang ini itu yang membuat kita mengernyitkan alis.

Akan aku ceritakan kepada hujan, bahwa lereng bumi tidak menjamin kita menuju akhirat. Apakah aku harus membenci dunia? Aku menatap hujan berjatuhan di jendela ini, sepagi ini. Menyaksikan langit yang terhampar seteguh baja, seteguh besi, dan seteguh kawat.

Tapi siapa yang akan mendengarku? berkicau tak berhenti. Marah-marah tiada arti. Aku hanya orang sepi yang tidak pernah mengambil keputusan untuk tenang. Maka aku pun lebih senang berbicara dengan hujan, ketimbang dengan manusia bertuhan tapi selalu mengedepankan kebohongan, kepura-puraan, kemunafikan, kesalahpahaman, dan kenistaan.

Terimakasih hujan, telingamu indah.


Sekian,
Mila, 2016



0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram