Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: dok.net |
Terdengar tangis tanah
Amukan sungai semakin murka
Gunung-gunung berselancar
Tanah dan air bersatu menghancurkan Priangan
Mayat-mayat entah tersangkut di mana
Yang hilang entah menjadi bangkai atau hidup ketakutan
Tangisan anak-anak mengerikan
Menatap rumah-rumah mereka, luluh lantak
Orang-orang tua menatap kosong tempat mereka
Sesekali, air mata itu jatuh, dan menggelayut di dagu
Tangan-tangan yang mati terlanjur dingin
Tangan-tangan pemerintah terlarut dingin
Yang ada engkau sedang bersenggama dengan uang pagi tadi
Yang hilang, September ini
Adalah keluarga kita
Yang tempat-tempatnya terlanjur diperawani secara sadis
Karena uang dan politik
Tuhan, aku tidak akan menyalahkanmu
Karena mungkin bumi bercerita kepada-Mu
Tentang kesakitan ini-itu
Lalu, engkau ambil kedaulatan dan kesejahteraan bumi Priangan
Dan membawa pulang orang-orang tak berdosa.
2016
Duka bumi Priangan.
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar