Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: Dok.Net |
Di ornamen-ornamen langit
Aku melihat kamu tersenyum
Merindukan kemerdekaan hati dari belenggu rindu
Air mata sampah mengalir deras
Tapi kamu masih tersenyum
Tuhan, apakah aku tersesat?
Ludah-ludah tergenang di kaki
Berak-berak menindihku
Sayap-sayap garuda telah patah
Lalu paruhnya tertawa terbahak-bahak
Sarjana-sarjana muda memapah majikan dari asing
Tubuh membungkuk, hatinya merikuh
Mahasiswa-mahasiswi membiarkan almamaternya duduk di kursi penonton
Menyaksikan acara live tak berbobot di channel bergengsi
Menirukan tawa, tepuk tangan, dan sorak sorai tanpa beban
Karena mereka semakin asyik kalau nongol di televisi
Nanti ibu-bapaknya menunjuk-nunjuk layar bahwa itu anak kami
Pake almamater
Di ornamen-ornamen itu
Kamu tersenyum manja
Menyaksikan semua orang berak kepadamu
Oh bumiku, andaikan bapakku membiarkan aku menyusu kepada ibu pertiwi, mungkin aku sudah menjadi menteri atau presiden di negeri ini....
Bandung, 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar