Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: (dok.net) |
Arus pada anakrus di akhirusanah berupa rinai bersama dengan rohnya, menjejali tanah-tanah. Bahkan menenggelamkan sebuah daerah. Dan harapan yang berdarah-darah. Menyakitkan.
Haruskah aku terbang menuju Darusalam, menduduki singgasana dan meminum anggur sampai mabuk? Orang-orang di dunia ini mengidap penyakit karusi. Penyakit yang menyebabkan dirinya bekerja seperti robot. Pagi sampai malam, malam sampai pagi lagi.
Aku melihat banyak kesepian dari diri mereka. Seolah-olah mereka berjalan sambil ditunggangi matahari. Punggungnya terbakar. Tulang sum-sumnya mendidih. Sedang di balik itu ada yang menghabiskan uangnya tanpa melihat keringat darah yang mengering. Tanpa mengingat Zilullah seonggok pun.
Rinai-rinai ini terus berjatuhan. Mengendap begitu lawas hingga pagi. Air-air ini datang tanpa permisi, jadi aku tak harus menyiapkan walimah untuk mereka. Tetapi dengan datangnya mereka aku menjadi pandai bekhalwat. Berselancar menerawangi arus pada laku sosial masa kini. Karena di sana, Zilullah ada. Selalu ada. Pasti ada. Membayangi manusia, manusia yang taat pada-Nya, manusia yang taat pada Fir'aun, dan bahkan manusia yang tidak taat kepada Dzat mana pun.
Semoga Dia selalu bersama kita, dalam rinai, panas, sepi, badai, hingga kembali menjadi tanah. Dan semoga lebih dari sekedar Zilullah (bayangan Allah)
Mila,
Cicalengka, 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar