Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: dok.net |
Sebenarnya untukku juga, karena mungkin hampir sama
___________
Di renyahnya nyiur angin siang ini, aku merasakan kedinginan yang menyuntik sendi-sendi tulang kakiku. Aku termenung di antara lelaguan dari grup-grup musik indie, yang liriknya selalu nyastra. Aku memaki diriku sendiri di antara belasan-belasan kesepian yang mengantre. Aku menjadi perempuan paling tolol di bumi ini. Sudah aku tidak cantik, tidak menarik, dan hidup dalam etika seperti ini. Menjijikkan!
Kenapa seolah-olah kedua ginjalku berjalan dan memapah jantung dengan paru-paruku menuju sebuah lembah darah yang panas. Lalu menyeruak melalui mataku, darahnya tersembur-sembur hingga meloncatkan kedua mataku terjatuh, tepat di ibu jari kakiku. Panas!
Aku membaca seluruh puisiku, otakku riuh. Mentalku lusuh. Namamu telah kusunting di sini. Dalam waktu yang lama aku membicarakan tentangmu kepada diksi. Tapi engkau tak pernah menepi, apalagi menoreh dan tersenyum. Memang tidak ada perintah aku berlama-lama merangkai puluhan puisi untuk sampai kepadamu. Tidak pernah ada, ini dengan sendirinya, aku seperti ini.
Apakah aku salah orang? Ataukah malaikat yang mencatat semua ini salah ketik. Kenapa aku menjadi sosok yang menuduh-nuduh sesuatu yang suci?
Tuhan aku ingin keluar dari labirin ini,
2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar