Reading
Add Comment
![]() |
| Ilustrasi: dok.net |
Tuhan insyafku kenapa?
Han Insyafku kenapa?
Pram insyafku kenapa?
___________________________
Diriku tewas dalam tubuhku, dalam pikirku. Mengapa aku menjadi sosok yang mengguna-guna orang lain? Dengan pransangka-prasangka yang membuatku terjerumus pada suatu nilai yang salah. Cacimakilah aku Tuhan, aku biadab, aku tak bersantun.
Aku tenggelam dalam darah yang menjelma raksa. Tenggelam, tenggelam. Han, kenapa aku menjadi sosok yang memendam dendam, yang takut hal itu membombardirku lagi. Han, aku nista. Aku adalah jenazah yang siap dimakan burung bangkai. Aku adalah mayit yang telah membusuk.
Haruskah aku ceritakan puisi ini kepada Pram? Adakah Ijrail di dalam puisiku? Aku bingung Pram.
Pram, aku bingung. Kenapa aku menjadi sosok yang mengulang-ulang sebuah dialektika yang membingungkan? Kenapa aku menjadi sosok yang mengorek-ngorek sesuatu yang mestinya tak aku ketahui sedari dulu. Pram, aku kenapa?
Aku seperti oak yang menyerupai malaikat. Malaikat yang tidak patuh kepada Tuhannya, malaikat yang tidak pernah menuliskan semua yang aku diktekan kepadanya. Malaikat yang tak tahu malu, tak beretika, tak ingin menjadi sosok yang dirugikan.
Haruskah aku panggilkan Han kembali? Untuk sekedar memandikanku yang kotor ini, manusia yang telah dibalut seribu macam kotoran hewan dan jin. Han, kenapa aku seperti ini? Menganggap hal-hal yang tidak penting itu seakan-akan menembus jantungku kembali? Han, dengarkanlah, aku tak ubahnya banci atau waria yang takut kepada kekasihnya, yaitu Tuhan yang mereka miliki.
Maafkanlah aku karena ketakutan ini, karena ketidakdewasaan ini. Cepatlah aku bangkit dalam keadaan yang jernih seperti air yang terpancar dari jemari nabi.
Bandung, 2016
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar