Sebal

Ilustrasi: dok.net

Saat itu Kamis, dua Minggu yang lalu, hujan berteduh ke bumi, merembes sebagaimana air menusuk busa. Berat. Di dalam angkot Cileunyi-Cicalengka aku sendiri, sedang lagu dari Float-Sementara dan Fourtwnty-Aku Tenang, terus kuputar berulang-ulang. Kedua telingaku teduh.

Aku malu kepada rindu, rindu yang tak pernah tersentuh olehnya. Rindu itu terus-terusan menuduhku, tentang kapan dirinya berakhir di sebuah nama yang dinantikan banyak orang. Bahkan bertahun-tahun olehku.

Hujan semakin marah, dua lagu itu masih kuputar. Engkau bayangkan saja liriknya yang nyastra dan aku di perjalanan menuju pulang, sedang rindu. Hampir tumpah. Air mata.

Sudah aku diacuhkan banyak orang, mulutku mengetik pun tak terbalas. Lalu berada di situasi seperti itu. Sebal!

Bandung, 2016

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram