Reading
Add Comment
![]() |
| dok.net |
Di lorong langit-langit, aku berbisik kepada kayu, "bolehkah kubaringkan secuil harap?" Karena ternyata orang-orang begitu renyah bersuara tentang sesuatu yang belum tentu akan terjadi di suatu masa. Orang-orang itu pongah, berbicara dengan lantang ke telingaku.
Setelah kudengar suara itu, aku menengok langit yang sudah tak biru lagi. "Akankah Kau bawa aku ke suatu negeri yang jauh dari suara-suara bising seperti ini?" Kuucap begitu kepada dia, malam.
Semua kata-kata telah rontok dan jatuh bagaikan rintik hujan. Tergenang di daun telingaku. Masih kuingat segala kata yang terjun dari mulutnya, karena itu aku mengalungkan doa kepada Dia, "semoga aku dikasih waktu buat pergi jauh dan pulang membawa besok."
Aku tidak bisa bilang kalau nanti akan menjadi apa. Tidak bisa. Karena aku tidak punya sesiapa pun kecuali Dia. Aku ingin pergi jauh biar bisa dekat dengan Dia. Biar tak kulihat segala gemilang baju yang kemilau, biar tak kudengar segala kata yang menyudutkan diriku dari berbagai kicau. Biarkan diam tapi, Dia mendengarku. Begitu.
Februari, 2018
Puisi
0 komentar:
Posting Komentar